http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

PTB – Merebut Mataram 1

Sejenak kemudian mereka telah duduk melingkar di atas segelar tikar pandan berwarna coklat. Ki Tanu Dirga memandang kedua orang didepannya bergantian. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu ia membuka bibirnya,” aku kira sudah saatnya kita untuk memulai gerakan ini dari rencana permulaan. Ki Sekar Layang dan Angger Mayang Sari harus berada di Padepokan Tegalrandu dalam waktu dua tiga hari mendatang. Sementara itu, Ki Lambeyan beserta pengikutnya akan menuju pedukuhan induk kademangan malam ini.”

“Aku kira pergerakan orang-orang kita tidak akan dapat dilakukan secepat itu, Ki Tanu,” berkata Ki Sekar Layang. Ki Tanu Dirga menganggukkan kepala, ia masih menunggu kawannya itu melanjutkan kata-kata. Ki Sekar Layang menundukkan kepala sejenak, kemudian ia berkata,” Raden Atmandaru tidak seharusnya menggerakkan kita saat Mataram masih dalam tingkat kepercayaan yang tinggi. Saat ini  mereka sedang merasa kuat dan sangat hati-hati karena sikap Panaraga. Jadi, aku kira, Mataram berada dalam puncak pengawasan dalam masa-masa seperti sekarang ini.”

“Ki Sekar Layang berkata benar, dan aku mendukung pendapat kiai. Dan aku perjelas agar keadaan ini dapat terlihat secara jernih dan menyeluruh,” Ki Tanu Dirga berkata dengan tenang dan kewibawaan terpancar keluar dari dirinya. Sebenarnya Ki Tanu Dirga berhasil melakukan penyamaran selama berada di Pedukuhan Dawang. Tidak seorangpun menaruh kecurigaan padanya yang selalu menampilkan diri sebagai seorang lelaki tua yang lemah dan hidup seorang diri akan tetapi mempunyai kekayaan yang lebih dari cukup untuk sekedar hidup sewajarnya. Ki Tanu Dirga bergeser setapak maju kemudian meneruskan,” Ki Sekar Layang berdua memang sudah seharusnya berada di padepokan itu dalam waktu dekat. Selain untuk mengamati keadaan Mataram yang berada di depan regol padepokan, juga Ki Sekar Layang sangat dibutuhkan untuk menghadang Rananta.”

“Bagaimana Angger Rananta saat ini?” tanya Ki Sekar Layang dengan dahi berkerut.

“Rananta, kini tumbuh dengan gejolak besar di dadanya. Ilmunya hampir menyamai kemampuan ayahnya sendiri,” Ki Tanu Dirga diam sejenak. Kemudian ia memijat pelipisnya, lalu katanya,” ia akan dapat saja menggerakkan seluruh orang-orang padepokan untuk menyerang Mataram, dan sudah barang tentu kita tidak ingin itu terjadi sebelum segalanya telah matang di berbagai sisi. Selain itu aku pernah melihatnya sekali mengeluarkan ilmu yang nggerigisi. Ilmu yang sudah sangat langka dikuasai oleh orang di jaman sekarang. Mungkin di Mataram, hanya Panembahan Hanyakrawati dan Ki Patih Mandaraka yang dapat menghadangnya.”

“Ki Tumenggung Sigra Umbara?”

“Besar kemungkinan Angger Rananta berada dalam tataran yang seimbang dengan Ki Tumenggung. Kelebihan Ki Tumenggung adalah ilmu yang terpancar keluar dari sorot matanya. Dan kelebihan itu telah mendapatkan obat penawar dari Ki Sekar Layang,” tersenyum Ki Tanu Dirga. Ia berkata lagi,” perkelahian yang terjadi pada malam itu, sekalipun sangat singkat, telah tersiar luas di seluruh tlatah Mataram. Dan oleh karena itu, Mataram tidak dapat sepenuhnya mengandalkan tenaga Ki Tumenggung Sigra Umbara dalam menegakkan keamanan. Keadaan itu adalah keuntungan bagi kita.”

“Sudah barang tentu Mataram tidak akan meletakkan kekuatan terbesarnya pada Ki Tumenggung Sigra Umbara, apakah Ki Tanu Dirga telah memperoleh gambaran tentang adanya senapati tangguh selain Ki Tumenggung?” Mayang Sari menyela dengan pertanyaan tajam.

“Petugas sandi yang dikirim oleh Raden Atmandaru telah mengumpulkan beberapa nama tangguh selain orang yang kau sebutkan tadi,” jawab Ki Tanu Dirga. Ia memuji keluasan nalar Mayang Sari dengan pertanyaan yang disampaikannya. Dengan begitu, Ki Tanu Dirga dapat menilai kepantasan Mayang Sari untuk mempengaruhi pandangan yang dianut oleh pemimpin Padepokan Tegalrandu. Ki Tanu Dirga kemudian berkata lagi,” Ki Sekar Layang, meskipun kiai berdua telah berada di dalam padepokan sekitar dua tiga hari lagi, akan tetapi itu tidak berarti kita akan melakukan serangan ke Mataram dalam waktu yang sangat dekat. Mungkin kita masih membutuhkan lima, tujuh pekan atau lebih.”

Ki Sekar Layang membenamkan diri sejenak dalam pikirannya tentang sikap Raden Atmandaru yang lebih cermat dan lebih berhati-hati dalam menimbang setiap perkembangan keadaan yang terjadi di Mataram. Saat itu Mayang Sari telah bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur.

Ki Tanu Dirga memandang tajam wajah Ki Sekar Layang, agaknya ia mempunyai keraguan tentang rencana yang telah dirundingkannya bersama Raden Atmandaru. Dadanya berdesir tajam saat termenung memilih kata-kata yang tepat untuk ia sampaikan pada seorang rekannya yang menjadi pilar kekuatan Raden Atmandaru.

“Ki Sekar Layang, sama sekali bukan maksudku untuk mengesampingkan ilmu dan kemampuan kiai,” raut wajah Ki Tanu Dirga menyiratkan sedikit keraguan. Ia terdiam sejenak untuk mengatur diri.

Sementara Ki Sekar Layang masih menunggu kelanjutan kata-kata Ki Tanu Dirga dengan berdiam diri dan berusaha menebak maksud orang yang duduk di hadapannya. Yang terjadi sebenarnya adalah Ki Tanu Dirga tidak ingin kehilangan satu pilar kuat yang sanggup menyanggah kekuatan ini Raden Atmandaru. Ia menyadari sepenuhnya jika kehadiran Ki Ageng Pandanalas dan orang-orang Kajoran dapat merubah keseimbangan di barisan besar pengikut Raden Atmandaru. Ketinggian ilmu dan keluasan wawasan Ki Sekar Layang yang telah bersinggungan dengan kekuasaan Mataram di jaman Panembahan Senopati menjadi dua bekal penting baginya dan Raden Atmandaru.

Saat itu Mayang Sari yang sedang berada di dapur menunggu wedang jahe untuk dihangatkan pun dilanda pertanyaan karena tiba-tiba saja keadaan rumahnya menjadi senyap. Percakapan yang terjadi diantara ayahnya dan Ki Tanu Dirga tiba-tiba saja menghilang. Akan tetapi ia tidak begitu memberi perhatian atas perubahan yang terjadi. Baginya yang terpenting saat itu adalah jamuan bagi tamunya segera dihidangkan meski sekedar wedang jahe dan gula merah. Maka dengan begitu perhatian Mayang Sari kembali tertuju pada kewajiban yang layaknya dilakukan oleh tuan rumah terhadap tamu.

“Tanah Perdikan Mangir,” getar suara Ki Tanu Dirga memecah keheningan. Lalu ia melanjutkan lagi,” aku mendengar Panembahan Senopati mengirimkan anak perempuannya untuk dikawinkan oleh pemimpin Tanah Perdikan Mangir. Dan atas perkawinan itu, Mataram dengan sendirinya telah mendapat pengakuan dari tanah Mangir. Meskipun aku masih belum dapat memastikan kebenaran dari akhir kisah itu, akan tetapi langkah Panembahan Senopati tidak ada salahnya untuk dirintis kembali.” Jantung Ki Tanu Dirga berdentang kencang usai ia menutup bibirnya. Sedikit keringat mengembun di keningnya. Ki Tanu Dirga adlah orang yang tidak mengenal rasa takut, Berulang kali ia dapat lolos dari kematian semasa menjadi seorang lurah prajurit Mataram di jaman Panembahan Senopati, akan tetapi yang terjadi malam itu adalah hal yang berbeda. Ia sangat khawatir jika rencana yang baru saja ia utarakan akan menyinggung orang yang ia hormati. Dalam pada itu, ia berharap Ki Sekar Layang dapat memahami maksud dari ungkapannya itu.

“Sejarah kembali terulang dalam waktu yang sangat dekat,” desah pelan Ki Sekar Layang yang mengamati perubahan dalam diri Ki Tanu Dirga. Ia menarik nafas dalam-dalam, matanya terpejam saat ingatannya melayang ke masa lalu. Ia berkata,” Kiai, aku tidak dapat memutuskan persoalan itu sendirian. Sungguh keadaan yang seperti kiai ungkapkan sepenuh berada dalam keputusannya. Aku tidak dapat mencampurinya dalam memutuskan, aku hanya dapat mengarahkan dan memberinya pertimbangan-pertimbangan untuk menjaga keseimbangan nalar dan rasa yang ia alami.”

“Syukurlah, kiai dapat mengerti apa yang aku maksudkan. Dan sangat memahami jika kiai menyerahkan keputusan akhir persoalan ini pada Mayang Sari,” kata Ki Tanu Dirga dengan dada yang tiba-tiba terasa lapang baginya.

Mengungkapkan rencana inti yang akan dijalankan di Padepokan Tegalrandu adalah pekerjaan paling berat bagi Ki Tanu Dirga. Karena ia mengerti sangat sulit bagi seorang gadis untuk memberikan harta yang paling suci pada orang yang belum tentu dapat membalasnya dengan kebajikan dan perhatian yang baik. Selain itu juga keadaan seperti itu akan menempatkan Mayang Sari selalu berada dalam mimpi buruk karena Rananta telah mempunyai istri. Dan yang menggetarkan jantung Ki Tanu Dirga adalah Mayang Sari adalah anak kandung semata wayang Ki Sekar Layang. Ia dapat membayangkan jika ia sendiri yang mengalami keadaan seperti Ki Tanu Dirga.

Beberapa saat lamanya kedua orang tua itu berdiam diri. Terdengar langkah kaki mendekati tempat mereka duduk berhadapan, Mayang Sari kembali memasuki pringgitan dengan nampan yang berisi mangkuk dan kendi wedang jahe serta gula merah.

“Silahkan kiai, selagi masih hangat,” berkata Mayang Sari mempersilahkan Ki Tanu Dirga sambil menuangkan wedang jahe dalam mangkuk. Satu mangkuk lainnya ia berikan pada ayahnya yang mengerling penuh arti padanya. Akan tetapi Mayang Sari tidak memperhatikan sorot mata ayahnya. Setelah kedua orang tua itu meneguk wedang jahe, Mayang Sari kemudian menuang wedang jahe hangat itu  untuk dirinya sendiri.

Ki Tanu Dirga bertukar pandang dengan Ki Sekar Layang ang kemudian mengangguk dalam-dalam. Ki Tanu Dirga bernafas dengan lega karena tanda yang diberikan oleh Ki Sekar Layang bahwa Ki Sekar Layang sendiri yang akan memberitahu tentang rencana itu pada Mayang Sari. Untuk beberapasaat lamanya, mereka bertiga berbincang ringan tentang keadaan yang berkembang di Pedukuhan Dawung. Ki tanu Dirga yang telah merasa waktunya telah tiba kemudian bangki berdiri dan meminta diri pada tuan rumah.

“Malam hampir berada di pertengahan, kiai. Aku minta diri terlebih dahulu agar persiapan di pedukuhan induk dapat berjalan di bawah pengawasanku,” kata Ki Tanu Dirga.

“Aku kira memang itu lebih baik, kiai,” berkata Ki Sekar Layang sambil mengantarkan tamunya menuju pintu. Sekejap kemudian tubuh Ki Tanu Dirga melayang ringan menembus sela-sela dahan dan ranting kemudian hilang dalam kegelapan.

Kini Ki Sekar Layang merasakan pepat dalam hatinya. Kehidupan memang selalu mempunyai ruang kosong untuk menentukan sebuah pilihan. Jantung Ki Sekar Layang berdentang lebih keras memukul dadanya. Betapa ia akan menawarkan satu pengorbanan yang akan dijalani oleh anak kandungnya sendiri. Seorang gadis yang tumbuh besar dalam asuhannya. Ki Sekar Layang merasa berdiri di sebuah persimpangan yang sama-sama baiknya dan sama-sama buruknya.

Ia melangkah masuk dan duduk di atas sebuah lincak bambu. “Aku tidak mengenal Angger Rananta dengan baik. Terlebih lagi aku mendengar jika ia sudah mempunyai istri dan anak. Apakah Mayang Sari akan menjalani hidupnya secara tidak wajar?” keluh Ki Sekar Tayang dalam hatinya.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *