Bara di Borobudur 24.1 -Pertarungan di Lereng Gunung Wilis

Ki Arumbaya yang terus meluncur mengira lawannya akan mengadu tenaga dengannya, untuk itulah ia kemudian menggandakan tenaganya. Ki Rangga terdorong mundur setapak akan tetapi ia masih belum bergeser dari tempatnya.

Tiba-tiba ujung pedang Ken Banawa tergetar, ia telah mencapai puncak pengerahan tenaga intinya. Dorongan angin panas Ki Arumbaya semakin menyesakkan dada dan pernafasannya, sementara udara panasnya makin membakar wajah Ken Banawa. Seruan nyaring terdengar dari Ki Arumbaya yang tiba-tiba terjungkal roboh dengan dada tergores panjang oleh ujung pedang Ki Rangga.

Ki Swandanu dan Jalutama membelalakkan mata tidak percaya. Mereka berdua bertukar pandang karena bingung melihat cara Ki Rangga melepaskan serangan yang kecepatannya mungkin seperti kecepatan kilat di langit. Sebelumnya mereka hanya melihat sinar merah yang membungkus tubuh Ki Arumbaya lalu tiba-tiba sekelebat cahaya yang menyilaukan telah menutup pandang mata mereka dan tahu-tahu Ki Arumbaya telah bersimbah darah dan roboh.

Dan yang terjadi saat itu adalah dorongan angin panas yang keluar dari tangan kiri Ki Arumbaya terasa seperti membakar wajah bagi Ken Banawa, lalu dalam jarak kurang dari dua jengkal tiba-tiba Ki Rangga menggetarkan pedangnya dan segumpal cahaya berkilat menyilaukan setiap mata yang memandangnya. Ki Arumbaya tiba-tiba saja merasakan gelap pada pandangan matanya dan sebelum ia menyadari apa yang terjadi, dalam gerakan yang melebihi kecepatan Ki Arumbaya, Ken Banawa memutar kaki kirinya  selangkah ke samping dan menebas pedangnya menyilang bawah ke atas merobek dada lawannya.

Dalam keadaan itu, Ki Swandanu dan Jalutama memang melihat Ki Rangga masih berada di tempatnya semula berdiri. Kecepatan dan ketinggian ilmu Ki Rangga Ken Banawa membuat mereka semakin kagum pada sikapnya yang tenang dan tidak pernah menampakkan diri sebagai orang yang mapan dalam tataran atas olah kanuragan.

Sambil menyarungkan pedangnya setelah dibersihkan dengan cara menggosokkan pada rumput di bawah kakinya, Ki Rangga mengalihkan pandangan melihat lingkaran Ki Hanggapati yang mulai memperlihatkan kedudukan tidak seimbang. Sementara Bondan dan Ra Jumantara berkelahi dengan gerakan-gerakan yang semakin sulit dimengerti oleh Ki Swandanu dan Jalutama.

Pusaran pedang Nyi Kirana yang bergerak dahsyat seperti badai menimbulkan angin yang dapat mendorong kedudukan Ki Hanggapati. Sementara itu Ki Hanggpati sendiri sudah mengeluarkan segenap ilmunya termasuk beberapa petunjuk pengembangan yang diberikan oleh Resi Gajahyana.  Sambaran angin seperti puting beliung yang timbul dari perkelahian kedua orang itu membuat rumput dan tanaman-tanaman roboh seperti terlindas benda berat. Perempuan ini benar-benar ingin segera mengakhiri hidup Ki Hanggapati. Setiap gerakannya berarti maut yang mengancam hidup lawannya.

Pedang Nyi Kirana berkelebat cepat memukul lengan Ki Hanggpati yang memegang pedang akan tetapi dengan tangkasnya Ki Hanggapati memutar tubuh dan mengirim serangan balik dengan tendangan mendatar ke lambung Nyi Kirana. Serangan mendadak itu terpaksa diterima Nyi Kirana dengan merendahkan tubuh dan tangan menyilang melindungi bagian lemah tubuhnya. Berbarengan dengan teriakan melengking Nyi Kirana, benturan keras tidak terhindari dan keduanya terdorong mundur beberapa langkah.

Dalam keadaan berjongkok dengan satu lutut yang membentuk siku-siku, Nyi Kirana melemparkan pedang lalu berkata dengan suara bergetar,”Aku tidak menyerah! Tetapi jika Ki Sanak berkeinginan membunuhku, maka bunuhlah aku.” Nyi Kirana merasakan keanehan sedang menjalari detak jantungnya yang berdentang lebih cepat.

Ki Hanggapati sama sekali tidak menduga perubahan mendadak yang terjadi pada perempuan yang menjadi lawannya dan nyaris saja mengambil nyawanya. Sementara ia tidak ingin menjadi lengah, lalu katanya,”Nyi Sanak, jika kau tidak menyerah, lalu untuk apa kau lemparkan senjatamu itu?”

Nyi Kirana membenahi dirinya dan kini justru ia duduk bersimpuh lalu diam. Dari pelupuk matanya, mengalir air mata dan kedua matanya yang bening itu memandang tajam Ki Hanggapati.

Tidak ada seorang pun dapat menduga isi hati orang lain. Kedudukan hati senantiasa dapat berubah, terlebih lagi pada seseorang yang sebenarnya mempunyai sebuah tujuan atau cita-cita. Seperti itulah yang dirasakan oleh Nyi Kirana. Betapa ia sangat ingin menghabisi Ki Hanggapati akan tetapi rupanya ia terhalang sesuatu perasaan yang belum dapat ia mengerti. Kecemasan dan keinginan untuk membunuh lawannya campur aduk menjadi satu dalam dadanya. Oleh karenanya ia menggerakkan seluruh kekuatannya untuk mempercepat perlawanan Ki Hanggapati, akan tetapi Nyi Kirana seperti terhalang oleh dinding tebal yang tidak sanggup ia robohkan. Ketika ia semakin gelisah, Nyi Kirana semakin meningkatkan serangannya. Saat ini Nyi Kirana direnggut dengan gelisah dan kecemasan. Tidak terbersit sedikit pun ketakutan dari sinar matanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *