Pilpres 2019, Entahsialis versus Nasionalis

Politik Hipokrit Merusak Stabilitas Nasional

Sudah banyak orang mengecam tentang penistaan politik oleh orang-orang berkepribadian ganda. Dan dari waktu ke waktu tetap saja tumbuh dan berkembang para munafik dalam kemasan yang berbeda. Jika dalam kehidupan sosial, kita juga sering membaca berita seorang pembunuh datang melayat atau bahkan turut menguburkan korban. Tak jarang ada orang berteriak lantang ” aku bukan pengemis cinta” namun justru banyak mengemis cinta dengan kekerasan.

Belakangan slogan Ganti Demang banyak dikumandangkan oleh seseorang atau sekelompok tertentu. Dengan kebisingan yang sudah ditata sedemikian rupa, seolah-olah memang besok sebuah kademangan akan hancur bila demang tidak diganti. Benarkah? Bodoh jika setuju dengan mereka.

Aspek logis yang harus ditata dalam alur pemikiran adalah :
1. Ganti Demang, lalu pertanyaan untuk itu adalah ” Siapa yang menjadi calon penggantinya?” mudah mengatakan “ganti” tapi diam ketika digantikan oleh orang dungu. Wajib diingat adalah Kademangan sudah bersih dari mafia migas. Pertimbangkan resiko bila migas mengalami perubahan aturan. Pertamina kembali membeli dari Petral yang mungkin saja akan dihidupkan kembali oleh Demang baru. Kegelapan akan bergelayut di bumi Nusantara. Sementara Demang baru ini ada kemungkinan didukung oleh tangan hitam yang berwatak seperti Sang Gondal-gandul. Nantinya dalam banyak argumen diskusi maupun debat, watak-watak golongan hitam ini tidak akan pernah berani memberi contoh atau pekerjaan yang ia lakukan.

Pertimbangkan pula kekayaan laut Kademangan akan diberikan pada pihak asing sebagaimana Freeport menjajah Papua dari jaman Suharto. Pada masa itu, perjanjian dengan Freeport dibuat tanpa berlandaskan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dan pasal 33 UUD 1945.

Pertimbangan tenaga kerja impor itu juga baik untuk mengkaji kelayakan Ganti Demang. Namun sama juga bohong apabila akhirnya Kademangan membangun sebuah poros dengan Turki.

Perlu dijelaskan apabila sebuah pengusung demang banyak mengambil tokoh mancanegara sebagai idola, bisa berarti Kademangan sedang dalam incaran untuk menjadi mangsa sebuah imperialis baru.

Pendek kata, Pilpres 2019 adalah pertarungan imperialis melawan nasionalis.

Pada akhirnya imperialis akan bersembunyi di balik topeng nasionalis. Radikalis hanya sebuah alat untuk mencapai tujuan. Mirip isu senjata kimia yang digaungkan oleh George Bush ketika menyerang Irak. Apakah senjata kimia itu benar-benar ada? Tidak ada. Yang ada adalah kandungan minyak Irak masih luar biasa untuk dijajah.

Alat tukar efektif lainnya adalah berlindung di balik ketiak agama. Kasus Ahok masih segar dalam ingatan. Dulu, Mbah Yai Ma’ruf Amin yang disebut sebagai figur orang tua. Kini beliau dicampakkan. Pesan kuat dibalik perlakuan itu adalah agama masih menjadi alat efektif memacu kebodohan untuk semakin dominan.

Dalam penggunaan agama sebagai alat meraih kekuasaan, ini sama saja dengan menempatkan agama setara dengan kader partai. Agama, sebagai gagasan ataupun pedoman hidup, akan menjalani perlakuan seperti sebuah mesin jahit. Dipakai bila dibutuhkan, jika tidak? Agama akan dicampakkan.

Dalam lingkup agama, ada sebuah pertanyaan umum.

Mengapa aparat negara juga dapat terjangkiti fanatisme golongan?

Apakah ada kesalahan yang dilakukan pemerintah dalam sistemnya, diklatnya atau bahkan pengajarnya?

Sebuah ironi yang memuakkan apabila ada anggota MPR atau DPR atau pejabat negara malah membuang Pancasila ketika pilihan politiknya berbeda.

2. Bagaimana jejak calon pengganti demang? Ini penting agar jelas siapa dia dan siapa pengusaha atau partai pendukungnya. Karena tidak menutup kemungkinan bila pengusaha rente yang biasa membawa kabur sumber alam bangsa atau pedagang narkoba justru menjadi penyandang dana. Mungkin juga tuan tanah feodalis alias tukang parkir yang menjadi pendorongnya.

Waktu akan tetap berlalu, kejahatan akan tetap ada. 5000 ton narkoba itu bukan tangkapan yang remeh. Dan tentu saja ada pemesan besar. Ada importir narkoba di negeri ini.
Siapa dia? Entahlah. Embuh.

Tapi seorang warga negara Australia yang mendapat grasi presiden tahun 2012 tentu akan menjadikan generasi mendatang keheranan. Narkoba adalah mesin pembunuh massal, setara dengan hoax. Tapi presiden di masa itu membebaskannya. Kacang tidak meninggalkan kulitnya. Sejarah akan selamanya mencatat jejak seseorang.

3. Hutang Negara
Persoalan ini dapat diurai sangat mudah. Wani urip, kudu wani utang. Saat seseorang dipercaya mengelola toko yang terlilit hutang 400 jt. Apa yang dilakukan olehnya?

Penghematan adalah satu jalan keluar. Memangkas piutang adalah kewajiban. Dalam hal ini, pajak memang harus dipacu. Harga barang harus ditambah lebih tinggi dalam batasan adil dan wajar. Puluhan tahun Papua membeli minyak berlipat ganda lebih mahal dari Jawa. Sehingga solusi agar Papua menikmati harga sama dengan Jawa adalah menaikkan harga minyak bakar. Subsidi silang Bila itu dikatakan tidak adil dan memberatkan rakyat, katakan saja pada mereka (yang keberatan kenaikan harga minyak) untuk tidak egois. Kecuali mereka memandang Papua lebih rendah dari mereka.

Kesalahan menilai rekam jejak calon demang akan dengan sendirinya akan menjalankan mekanisme bubar dalam satu kali masa panen.

 

Hiduplah Indonesia Raya!

 

 

 

 oleh Doyan Apem.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *