KI Cendhala Geni 10.1 – Pertempuran di Rawa-rawa

Arum Sari masih membisu. Terasa baginya semua perkataan Patraman tak lebih dari tusukan-tusukan pedang yang menghunjam jantungnya.

“Pengkhianat!” tiba-tiba Arum Sari berteriak sekuatnya hingga orang-orang di sekitar Patraman terkejut karenanya.

“Kau tidak berani berhadapan dengan ayahku. Engkau lebih suka membicarakan keburukan ayahku di depan demang-demang yang lain dan bahkan engkau juga bicara tentang kelemahan ayahku di depan para utusan Trowulan. Tetapi, apakah engkau pernah berbicara terus terang tentang kelemahan ayahku di hadapannya? Sekarang engkau berani berbicara seperti itu karena aku jauh dari rumah. Sungguh engkau benar-benar penjilat busuk!”

Laksa Jaya dan Ubandhana yang mendengar percakapan itu tanpa sengaja pun mengernyitkan kening dan tanpa sadar keduanya saling berpandangan. Ubandhana benar-benar tak menyangka jika seorang gadis yang terlihat lemah selama beberapa hari bersamanya justru kini menunjukkan sikap kerasnya.

“Benar-benar pemberani. Dan Patraman harus segera disingkirkan,” gumam Ubandhana.

“Patraman, aku tahu engkau tak akan berani melakukan pekerjaan ini sendirian. Aku bahkan menduga bahwa sebetulnya engkau merencanakan ini dengan Laksa Jaya,” kata Arum Sari dalam isak tangisnya kemudian dia melanjutkan,”aku tahu betul siapa Laksa Jaya itu. Sayang, seorang anak muda yang berpandangan luas seperti dirinya justru berkawan erat denganmu. Engkau benar-benar racun mematikan bagi Laksa Jaya!”

“Tutup mulutmu!” Patraman membentak keras.

Mendapat bentakan seperti itu justru Arum Sari tertawa meskipun itu dalam kesedihan. Kemudian dia berkata “Apakah engkau takut Laksa Jaya akan berkhianat? Atau justru engkau telah mengancam Laksa Jaya dengan menghabisi seluruh keluarganya?”

Laksa Jaya tak menduga bahwa pemikiran gadis itu telah menjangkau kemungkinan hubungannya dengan Patraman. Kini Laksa Jaya merasa cemas jika pada akhirnya Arum Sari dapat selamat dari penculikan ini.

“Ubandhana, apakah tak sebaiknya engkau bunuh gadis itu?” tanya Laksa Jaya dengan nada cemas.

“Hidup atau mati gadis itu sebenarnya bukanlah urusanku. Karena ikatan kita hanya membawa gadis itu hidup-hidup ke tempat ini. Bahkan engkau dan kawanmu itu belum memberikan apapun kepada kami,” jawab Ubandhana penuh kegeraman.

“Sudah lebih dari beberapa malam ternyata pengawalmu belum kelihatan juga. Mereka dan prajurit Majapahit yang engkau banggakan itu sama sekali tidak berbuat apapun untuk keselamatan dirimu. Jadi, terimalah keadaan ini bahwa engkau akan aman bersamaku. Engkau akan dikenang sebagai nyai seorang senopati pilih tanding dan berkepandaian tinggi. Para pengawalmu sebenarnya tak lebih dari sebuah kumpulan kerbau. Rajapaksi pun tak lebih dari anak ingusan yang tak tahu apa-apa. Dia akan kebingungan kemana mencarimu, terlebih lagi dia tak akan mampu bertahan hidup bila sudah berhadapan denganku,” terlihat seringai Patraman dan tatap matanya semakin nanar menyala.

“Omong kosong!” sahut Arum Sari,“engkau mengambil kesempatan ketika mendapat kepercayaan lebih besar. Sedangkan dahulu engkau hanya prajurit rendahan yang takut pedang.”

Patraman semakin memuncak amarahnya tetapi Laksa Jaya berhasil menahannya agar tak berbuat lebih jauh lagi.

“Sudahlah Patraman. Jangan engkau layani gadis itu. Malam masih panjang sedangkan perjalanan kita belumlah selesai,” seru Laksa Jaya. Patraman menyadari bahwa gadis yang berada di hadapannya itu cukup cerdas mengamati keadaan yang terjadi.

Arum Sari hampir saja melontarkan kata-kata tetapi dia urungkan ketika melihat Patraman bergeser menjauhi tempatnya.

“Tetaplah disitu sampai ada perubahan,” terdengar kata-kata dari Patraman.

Beberapa saat Arum Sari terhempas dalam perasaan yang tidak menentu. Tetapi dia tidak ingin berteriak ataupun menangis. Dia tidak ingin menunjukkan bahwa dirinya sedang lemah saat itu. Dadanya serasa sesak menahan gejolak perasaannya.

“Lebih baik aku mati daripada disentuh pengkhianat itu,” gumamnya dalam hati. Matanya pun segera melihat sekelilingnya mencari sesuatu yang dapat dia gunakan untuk membunuh dirinya sendiri. Namun dia terhempas kembali ketika menyadari keadaan dirinya yang terikat kuat. Malam berlalu semakin mencekam rawa-rawa di pesisir pantai, suasana kembali ditelan kesunyian. Setiap orang terlarut dalam kenangan dan gelora masing-masing. Arum Sari sedang menuju jurang gelap yang hampir tidak dapat dilampaui.

“Tetapi aku tak boleh kalah,” desahnya sambil meraba kemungkinan yang akan menimpa dirinya. Tiba-tiba dalam kegelapan malam itu sebuah bayangan berkelebat cepat mendekati Arum Sari. Ubandhana bergerak cepat mendahului dan menghadang pergerakan bayangan itu.

“Jangan macam-macam atau aku robek perutmu!” bentak Ubandhana.

“Jangan halangi aku! Aku akan mengambil bagianku!” seru Patraman.

“Engkau belum mengeluarkan sepeserpun! Tidak ada bagianmu disini!” sahut Ubandhana.

“Pekerjaan ini belum selesai,” kata Patraman dengan gusar.

“Ya, karena belum selesai maka engkau jangan bertingkah!” Ubandhana dan Patraman saling bertatap mata dengan tajam. Keduanya sudah siap saling bunuh.

“Tahan, Patraman! Engkau bisa lakukan itu esok hari. Simpan tenaga kalian!” seru Laksa Jaya.

Ketiga lelaki ini pun saling menahan diri dan memilih tempat untuk mengistirahatkan diri. Malam semakin larut, angin yang datang dari laut berhembus semilir membelai setiap benda yang dilaluinya. Ketiga lelaki ini tidak benar-benar beristirahat sekalipun mata mereka terpejam dan nafas yang teratur. Kesunyian kembali menghampiri tempat itu, hanya Ubandhana yang sesekali bergerak untuk menjaga nyala api unggun.

Mereka bersila dengan mata terpejam. Mengatur jalan darah dan mengendurkan otot-otot yang penat seharian. Sekilas mereka seperti orang yang sedang tidur tetapi syaraf pendengaran dan beberapa simpul syaraf kewaspadaan tetap bekerja dengan baik. Jantung yang tak henti berdetak seolah menjadi tanda bergulirnya waktu. Mengiringi kerlip bintang yang semakin lemah dan rembulan pun tahu diri jika waktu untuknya hampir tiba untuk bergantian dengan mentari.

“Apa yang kalian tunggu?” sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan yang menyelubungi mereka bertiga. Kedatangan Ki Cendhala Geni sama sekali tidak mereka ketahui. Bahkan ketika Ki Cendhala Geni melangkah diantara mereka sedangkan syaraf terlatih mereka juga dalam keadaan waspada. Benar-benar ilmu meringankan tubuh yang luar biasa. Ubandhana, Laksa jaya dan Patraman hanya mampu membuka mulut tanpa kata-kata.

 

 

Sumber Ceritera.net

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *