PTB – Merebut Mataram 2

http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Matanya menatap Mayang Sari yang sedang membereskan peralatan yang baru saja mereka gunakan. Sejenak Ki Sekar Layang kembali ke masa ketika Mayang Sari masih kecil. Canda riang dan tangisnya seakan terngiang di kedua telinganya. Wajah Ki Sekar Layang menggurat kelam saat ia menyadari sebuah tugas yang sebenarnya ingin ia lepaskan. Namun karena satu dorongan besar yang ada dalam hatinya untuk melihat keterpurukan Mataram, maka ia melihat jika memang tidak ada jalan untuk kembali. Sebenarnya ia ingin berhenti untuk meneruskan keinginan itu dan memang ia telah berhenti. Pada saat ini Ki Sekar Layang mencoba untuk berdamai dengan masa lalu dan sakit hatinya. Hanya saja ketika ia mengutarakan keinginan itu pada anaknya, Mayang Sari masih memaksanya untuk melanjutkan usaha menenggelamkan Mataram.

Satu tarikan nafas panjang terdengar dari saluran pernafasan Ki Sekar Layang pada saat Mayang Sari telah kembali duduk didekatnya. Sekalipun Mayang Sari tidak pernah menolak perintahnya, akan tetapi Ki Sekar Tayang merasakan seperti tidak mempunyai keberanian memberi perintah pada anaknya.

“Katakan ayah! Aku melihat sepertinya ayah menyimpan sesuatu yang berat untuk dikatakan,” kata Mayang Sari yang melihat ayahnya termenung.

Ki Sekar Layang sekali lagi terdengar menarik nafas dalam-dalam. Ia membutuhkan waktu sejenak untuk mengendapkan gejolak hatinya, untuk kemudian ia berkata,” Angger, seperti yang pernah kita bicarakan pada hari-hari kemarin, sebenarnya pada saat itu adalah saat yang tepat bagi kita untuk berhenti. Aku tidak ingin menyalahkanmu akan tetapi setiap keputusan akan selalu membawa akibat yang masuk akal.”

Mayang Sari mengerutkan kening mendengar kata-kata ayahnya yang, pada saat itu, terlihat lebih tua dari usianya semestinya. Ia menunggu ayahnya berkata lebih lanjut.

“Lebih baik aku katakan padamu mengenai permasalahan inti yang menjadi keberatan di hatiku. Kau adalah anakku, kau adalah harapan yang aku miliki saat ini. Dan aku tidak ingin melihatmu menderita dengan menjalani apa yang sebenarnya tidak ingin kau lakukan,” Ki Sekar Layang yang kemudian mengatupkan kedua telapak tangannya menutup wajah.

“Bukankah ayah telah mengetahui jika aku rela menjalani derita demi sebuah tujuan?”

“Tetapi tujuan itu sebenarnya tujuan yang salah arah, Ngger.”

“Salah dan benar itu selalu berganti mengisi rongga yang tercipta pada saat kita berjalan untuk jarak yang panjang. Ayah selalu berkata seperti itu. Pada hari ini, mungkin apa yang kita yakini benar, bisa saja menjadi salah di kemudian hari. Dan itulah,” Mayang Sari berhenti sejenak. Kemudian ia berkata lagi,” ayah, aku meyakini apa yang kita lakukan hari ini adalah sebuah kebenaran.” Ia kemudian bangkit dan bergeser beberapa langkah dari pintu. Mayang Sari sebenarnya sedikit merasa gelisah dan bingung tentang maksud pembicaraan ayahnya. Akan tetapi, Mayang Sari percaya jika ayahnya mempunyai maksud dan tujuan baik.

Ki Sekar Layang berdiam diri. Berulang kali ia mengusap keningnya yang tidak berkeringat di malam yang dingin oleh hembusan angin dari lereng Merapi. Jantung Ki Sekar Layang berdentang sangat keras membentur tulang dadanya berulang kali. Ki Sekar Layang merasakan darahnya berdesir lebih cepat dari biasanya, sementara ia melihat Mayang Sari mengatupkan bibir rapat-rapat.

“Aku akan katakan sebagaimana yang  telah aku janjikan pada Ki Tanu Dirga,” Ki Sekar Layang berkata kemudian. Ia berusaha menata gejolak dalam hatinya. Sekalipun berat untuk diucapkan akan tetapi, bagi Ki Sekar Tayang, janji adalah janji.

“Katakan ayah! Seberat apapun itu untuk aku laksanakan, aku akan lakukan demi ayah,” suara Mayang Sari tergetar. Ia agaknya mulai dapat menduga maksud ayahnya, ketajaman nalarnya segera merangkai hubungan antar peristiwa. Serba sedikit ia telah mengetahui rencana merebut Mataram yang melibatkan Padepokan Tegalrandu, dan ia mempunyai dugaan tentang maksud pembicaraan ayahnya.

“Kedatangan Ki Tanu Dirga sebenarnya di luar dugaan kita. Termasuk pelaksanaan yang lebih cepat dari rencana semula,” Ki Sekar Layang kembali terdiam. Ia menguatkan hatinya. Lalu,” kita akan berangkat ke Tegalrandu pada malam ini. Dan aku minta kau persiapkan diri untuk mendampingi Angger Rananta.”

“Aku sudah siap untuk itu,” sahut Mayang Sari.

“Mendampingi ini bukan berarti kau hanya bertugas menemani dalam kegiatan-kegiatan yang terkait rencana Raden Atmandaru. Akan tetapi juga menemani Rananta sepanjang waktu,” Ki Sekar Layang merasa pepat dalam dadanya. Ia memandang tajam Mayang Sari dan menunggu jawaban dari anak perempuannya itu.

Darah Mayang Sari mengalir lebih cepat. Tangannya terkepal dan bergetar hebat. Sementara bibirnya terkatup rapat dan seperti tidak percaya dengan kata-kata ayahnya.

“Bagaimana aku akan menjalaninya, ayah? Sementara Kakang Rananta telah mempunyai seorang istri dan anak. Tiba-tiba aku hadir dalam kehidupannya. Dan diatas itu semua, aku tidak mengenalnya sama sekali, aku hanya mendengar jika ia sangat menyukai perempuan-perempuan yang berada di sekitarnya,” berkata Mayang Sari penuh geram. Akan tetapi ia tidak dapat berbuat lebih dari sekedar kata-kata. Mayang Sari mengerti sepenuhnya jika lelaki yang mengatakan itu adalah ayahnya. Satu-satunya orang yang menyayangi dan mencintainya setulus hati. Bahkan Mayang Sari pun meyakini jika ayahnya sama sekali tidak bermaksud buruk atau menjerumuskan dirinya ke lembah penuh nista. Tetapi ia belum dapat menerima apabila ayahnya akan mengijinkan ia menjalani rencana Ki Tanu Dirga dan Raden Atmandaru.

Terdengar Mayang Sari berkeluh sambil mengusap keningnya. Setelah berdiam diri mengendapkan perasaannya, Mayang Sari bertanya pelan,” apakah aku akan melukai hati seorang perempuan yang sebenarnya lebih berhak untuk dicintai?”

Ki Sekar Layang tidak menjawabnya.

“Apakah aku akan menjadi sebuah halilintar yang merobohkan rumah seseorang dan pergi begitu saja tanpa perasaan bersalah?”

Ki Sekar Layang terdiam. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus atap rumah.

“Baiklah ayah,” suara Mayang Sari tergetar dan mengandung kemarahan yang tertahan. Ia merasa seolah tenggorokannya tersumbat dan tercekat saat mengatakan kesediannya. Ia mencoba berdiri, akan tetapi ia urungkan niatnya itu saat lututnya sedikit gemetar. Sebenarnyalah Mayang Sari ingin meluapkan perasaan yang sebenarnya, namun ia telah menyanggupi untuk menjalankan perintah ayahnya sementara ia telah mendengar kebiasaan Rananta terhadap perempuan.

“Apakah itu berarti aku juga akan tinggal berdua bersama lelaki itu dalam sebuah bilik?” Mayang Sari menatap wajah ayahnya dengan mata merah dan sembab. Ia berusaha terlihat tegar di hadapan ayahnya.

Ki Sekar Layang memalingkan muka mendengar pertanyaan anaknya. Terucap dari bibirnya,” bahkan kau akan menjadi istri baginya.” Terlihat ia menggigit bibirnya. Ia berkata lagi,” akan tetapi ayah akan tetap berada di dekatmu. Satu gores ia sentuh kulitmu, aku sendiri yang akan menghukumnya meski ia telah menjadi menantuku. Meskipun aku harus bertarung hidup mati menghadapi ayahnya.”

Tiba-tiba saja ruangan itu menjadi sunyi. Mayang Sari membenamkan wajahnya dalam-dalam. Beberapa lama kemudian, ia berkata,” marilah ayah. Kita pergi dari rumah ini dan segera menuntaskan keinginan yang telah lama tertunda.” Ia bangkit berdiri dan bergegas mengemasi barang-barang milik mereka berdua. Segera setelah mereka lakukan persiapan, kedua kuda yang tegar berderap menjauh dari rumah yang telah mereka huni beberapa lama. Dalam keadaan itulah keduanya terlihat Sarjiwa dan pengawal pedukuhan saat melintasi simpang empat.

Sementara itu di banjar pedukuhan telah berkumpul Ki Jagabaya, Ki Bekel, Ki Winatra dan istri, Sarjiwa dan beberapa perangkat pedukuhan. Ki Jagabaya terlihat tegang saat memberi paparan tentang perkembangan keadaan. Beberapa orang lainnya menyimak penuh perhatian dan jantung mereka berdebar-debar. Seolah bayangan buruk akan menyelubungi pedukuhan yang selama ini telah dirasakan tenang dan terkendali.

“Seperti itulah, Ki Bekel dan saudara-saudara lainnya, tentang perkembangan pedukuhan ini dari waktu ke waktu semenjak kehadiran orang asing di tepi hutan. Nah, sekarang aku kembalikan pada Ki Bekel untuk perincian tugas dan tentang bagaimana kita akan membentengi pedukuhan dari kemungkinan buruk,” berkata Ki Jagabaya mengakhiri pemaparannya.

“Baiklah Ki Jagabaya,” Ki Bekel bergeser setapak maju. Ia melihat satu per satu orang yang duduk berhadapan dengannya. Kemudian Ki Bekel berkata,” mulai malam ini, aku minta Ki Jagabaya mulai menyusun para pengawal pedukuhan berdasarkan usia dan kemampuan. Aku minta setiap orang yang berkemampuan rendah berbaur dengan yang lebih tinggi. Setiap orang yang berusia lebih membaur dengan yang lebih muda. Maka dengan begitu kalian semua akan dapat saling mengisi.” Ki Bekel kemudian melihat ke arah Ki Winatra, ia kemudian berkata,” seperti yang aku dengar sendiri, Ki Winatra akan pergi ke pedukuhan induk kademangan. Akan tetapi, aku minta Ki Winatra membantu Ki Jagabaya terlebih dahulu untuk menyusun dan mengatur barisan di pedukuhan. Sementara itu, biarlah Angger Sarjiwa yang pergi terlebih dahulu ke pedukuhan induk.”

“Apakah kau bersedia, Ngger?” tanya Ki Winatra yang dijawab dengan anggukkan kepala Sarjiwa.

“Aku akan menyertainya, Ki Bekel,” kata Nyi Winatra menyusul pertanyaan suaminya. Ki Winatra yang sudah menduga jawaban istrinya segera menoleh kepada Ki Bekel dan menganggukkan kepala. Lalu kata Ki Winatra,” aku minta Ki Bekel memberi ijin pada mereka berdua. Tugas pengamatan ini tentu tidak dapat diberikan pada Angger Sarjiwa begitu saja. Dan pula Angger Sarjiwa harus terus menerus melakukan pendalaman kemampuan olah kanuragannya.”

“Apabila Ki Winatra menyetujui rencana itu, bagaimana aku dapat menolaknya?,” Ki Bekel pun memberi persetujuan dengan hati yang berat. Bagaimanapun juga ia juga merasa bersalah karena justru memberi kewajiban berat pada para tamunya, keluarga Ki Winatra, untuk persoalan yang sedang mereka hadapi. Ia berkata kemudian,” sebenarnya kepergian Nyi Winatra beserta Angger Sarjiwa adalah sebuah keadaan yang tidak aku inginkan. Bagaimana seorang tuan rumah seperti aku dan Ki Jagabaya beserta perangkat pedukuhan lainnya justru membiarkan tamu-tamunya menempuh bahaya?”

“Maaf Ki Bekel,” berkata Ki Winatra memotong kata-kata pemimpin pedukuhan. Lanjutnya,” aku dan keluargaku tidak menganggap keadaan ini adalah keadaan bahaya. Kami semua merasa wajib untuk turut serta melindungi pedukuhan ini dan Mataram dari bayangan-bayangan gelap yang akan mengacaukan keadaan. Baiklah, aku akan mengatakan lebih tegas, aku tidak ingin meninggalkan masa depan yang suram bagi anakku. Tentu kita semua tidak ingin kegelapan dan perubahan buruk terjadi pada anak-anak kita, terlebih kita mengetahui penyebab yang menggerakkan ini semua.” Perangkat pedukuhan mengangguk kecil dan sungguh-sungguh mendengarkan satu per satu kata-kata Ki Winatra.

 

 

 

Tinggalkan Balasan