Ki Cendhala Geni 10.2 – Pertempuran di Rawa-rawa

Laksa Jaya bersuit nyaring. Seketika itu belasan orang melompat keluar dari semak-semak di sekitar mereka. Mereka berlari dengan menyalakan obor kecil kemudian membentuk lingkaran yang mengitari Laksa Jaya, Patraman, Ubandhana dan Ki Cendhala Geni.

“Setan kecil! Kalian menjebakku!” Ki Cendhala Geni menatap nanar ke Laksa Jaya dan Patraman bagai seekor serigala kelaparan.

“Jangan salah paham, Kiai. Mereka adalah pengawal yang akan menyertai kami ke Wringin Anom. Kapal akan segera tiba dan menepi jika mereka melihat sekumpulan obor ini,” kata Laksa Jaya sambil mengarahkan telunjuknya ke sekelilingnya.

“Hebat! Engkau sungguh benar-benar cerdik, Laksa Jaya,” bisik Patraman.

“Awas serangan!” seru Ki Cendhala Geni  sambil  memutar kapaknya yang bertangkai panjang.

Ubandhana cukup waspada menangkap serangan yang ditujukan pada dirinya. Sebuah anak panah yang membidik leher Ubandhana berhasil digagalkan  dengan satu kibasan tombaknya.

Mata Ki Cendhala Geni menangkap sebuah bayangan yang melesat cepat ke arahnya dan segera memutar kapaknya untuk menyambutnya.  Kapak panjang milik Ki Cendhala Geni dengan sigap menangkal serangan pedang Ken Banawa. Dua orang tua yang pilih tanding dan berbeda aliran kini saling berhadapan.

Serangan yang susul menyusul ini belum terhenti dengan adanya serangan dari Bondan yang tubuhnya berputar-putar seperti anak panah meluncur deras memasuki gelanggang dengan keris terhunus. Ubandhana yang belum mengenali tubuh yang melayang ini segera menyambutnya dengan ayunan tombak. Dentang senjata beradu segera terdengar cukup keras. Tombak Ubandhana tertolak keris Bondan kemudian kaki Bondan menyeruak menerobos masuk ke dada Ubandhana dengan kecepatan yang sukar diperhitungkan, lengan Ubadhana segera menutup dada yang terbuka. Ubandhana terdorong ke belakang beberapa langkah sekalipun dirinya berhasil melindungi dadanya dari kaki Bondan.

“Oh engkau rupanya. Masih hidup ternyata,” desis Ubandhana ketika wajah Bondan sedikit terlihat jelas oleh cahaya obor.

“Ya, aku disini sekarang. Aku harus menuntut balas kematian Ranggawesi dan Ki Lurah,” sahut Bondan penuh amarah.

“Bukankah justru kedatanganmu kemari adalah untuk menjemput kematian mereka berdua?” derai tawa Ubandhana nyaring menghina Bondan Lelana.

“Tutup mulutmu! Aku disini tidak untuk berbincang.” Satu serangan telah disiapkan Bondan dan dirinya menerjang Ubandhana dengan lecutan ikat kepala yang tiap lecutannya menimbulkan suara ledakan-ledakan dahsyat. Tampaknya Bondan segera bertarung dengan puncak kekuatan.

Di sebelah mereka berdua tampak Laksa Jaya dan Patraman terperangah dengan kecepatan serangan yang mendadak dari kelompok yang belum sempat mereka kenali. Laksa Jaya sangat terkejut melihat sosok Ken Banawa turun tangan dalam pencarian Arum Sari. Ia masih ternganga dengan kehadiran Ken Banawa segera disadarkan oleh serangan sangat dahsyat dari Gumilang Prakoso. Bertubi-tubi anak panah membidik kedua orang ini bergantian. Lekas-lekas Laksa Jaya dan Patraman memutar pedangnya untuk menangkis hujan anak panah Gumilang Prakoso.

Ki Cendhala Geni yang mempunyai julukan Banaspati Gunung Kidul, Ubandhana, Laksa Jaya dan Patraman kini menghadapi serangan nyata dari pengawal setia Majapahit. Para pengawal yang belum merasa lelah untuk mengejar setiap orang menganggu ketenangan. Di samping itu mereka juga bangga hati karena bertempur bersama Ken Banawa, seorang perwira wreda yang disegani kawan maupun lawan.

Layaknya seekor elang yang sedang memojokkan mangsanya. Bondan mengurung dari setiap penjuru angin. Bondan nampaknya mulai mampu mengendapkan gejolak hatinya yang sempat meluap ketika melihat Ubandhana, sedangkan  Gumilang Prakoso dengan  gagah mulai menyerang Laksa Jaya dan Patraman.

Sementara itu di tempat yang tidak jauh dari lingkaran pertarungan yang lain, Ki Cendhala Geni melirik sekilas ke Laksa Jaya. Dengan penuh keheranan dia berpikir betapa Ken Banawa bisa mengetahui posisi mereka. Namun keheranan itu segera berakhir karena satu bentakan Ken Banawa disusul sabetan-sabetan pedang Ken Banawa yang sangat cepat terlihat seperti cahaya putih yang hendak menelan tubuh Ki Cendhala Geni. Tak mau dirinya menjadi sasaran empuk Ken Banawa, maka Ki Cendhala Geni segera membalas serangan dengan kapak bergagang panjang miliknya. Kedua orang ini segera terlibat dalam saling serang dengan dahsyat dan cepat. Mereka bertarung dalam jarak dekat dan saling memburu ketika salah satu diantara mereka melompat ke belakang atau ke samping.

Bagi Ken Banawa, pertarungan ini adalah kesempatan terakhir yang dia miliki. Seperti itulah dia memandang satu peperangan. Dia tidak mempunyai pilihan selain memberikan hadiah yang terbaik selama pengabdiannya. Kepercayaan penuh yang dia dapat sejak padamnya pemberontakan Ranggalawe membuat dirinya semakin yakin pada nilai-nilai kebenaran yang dianut selama ini. Setia mengawal kerajaan dan memberikan rasa aman pada rakyat yang diayomi. Kesetiaan dan keteguhan hatinya membela kerajaan inilah yang menjadikan Ken Banawa sangat dihormati kawan dan lawan. Patih Mpu Nambi pun memberinya kewenangan penuh dalam memutuskan setiap tindakan, meski begitu Ken Banawa tetap menempatkan  Empu Sawajnyana sebagai atasan yang wajib dihormati

Di sisi lain, pertarungan ini adalah pertarungan hidup mati bagi seorang Ki Cendhala Geni. Menyadari kehebatan Bondan Lelana yang pernah dia hadapi sebelumnya sedikit banyak mempengaruhi perhitungannya untuk mampu lolos dari hadangan anak muda ini dan sejumlah prajurit Majapahit.  Oleh karena itu, Ki Cendhala Geni alias Ki Cendhala Geni ini bertarung dengan sepenuh tenaga. Kapak panjangnya tiada henti mengeluarkan suara dengungan yang menggetarkan dada setiap orang yang mendengarnya. Getaran tenaga yang keluar dari kapaknya terasa memukul gendang telinga. Begitu mengerikan!!

Percikan-percikan api kerap terlihat ketika terjadi benturan antara kapaknya dengan pedang Ken Banawa.

Tinggalkan Balasan