Visi Kebangsaan yang Terkikis dengan Politik Kehancuran

Visi Kebangsaan yang Terkikis dengan Politik Kehancuran

Dikatakan sebagai Politik Hancur dan Menghancurkan adalah karena selalu membawa simbol-simbol sosial untuk menggalang perbedaan. Agama merupakan bagian sensitif bagi setiap umat beragama, dan setiap orang akan menolak apabila agama digadaikan untuk sebuah kekuasaan. Sedangkan dalam kekuasaan itu sendiri ada misi atau tujuan untuk menghancurkan budaya negeri.

Budaya.
Budaya mempunyai makna yang luas. Tidak dapat dibatasi oleh seni lukis, seni tari dan jenis kesenian lainnya. Budaya merupakan gabungan yang rumit antara agama, politik, adat istiadat atau tradisi, nilai sosial dan juga bentuk materi seperti pakaian atau bangunan.  Kemudian dalam jangka waktu yang panjang, budaya diwariskan dari generasi ke generasi dan akhirmya menjadi identitas sebuah kelompok masyarakat.

Dalam paragraf singkat diatas, budaya dengan jelas akan mengatakan atau memberi penilaian bagi dirinya sendiri sebagai unsur tak terpisahkan dari perjalanan hidup umat manusia.

Apabila dilakukan pengamatan sepintas, sebenarnya telah terjadi pengikisan identitas bangsa Indonesia sebagai sebuah kelompok. Identitas bangsa ini adalah keragaman. Bukan keseragaman. Dari Aceh sampai Asmat, dari Sabang hingga Merauke, tersebar banyak kelompok manusia yang mempunyai identitas khusus. Baik sebagai kelompok dalam sebuah suku, kelompok agama, kelompok kerja dan sebagainya.
Keragaman itu secara perlahan mulai digerus perlahan dengan istilah pribumi dan non pribumi, muslim dengan non muslim, pengusaha dengan buruh dan seterusnya. Sementara perbedaan-perbedaan itu adalah anugerah Yang Maha Kuasa agar kerukunan dapat dibangkitkan.

Ada orang berkata bahwa ada kelompok yang berada dalam naungan Ketuhanan dan ada kelompok di bawah bimbingan setan. Maka perkataan semacam itu adalah sebuah usaha yang tak lebih dari menaburkan bibit kebencian. Buruknya adalah pembicara sedang membenci dirinya sendiri. Dia yang begitu benci pada dirinya pada akhirnya tercetus ungkapan yang tidak wajar. Benci pada ketentuan Tuhan dan benci pada janji setan, lalu kebencian itu terbungkus rapi dalam prasangka. Prasangka seperti apakah yang dimaksud? Prasangka bahwa dirinya lebih baik dari orang lain.

Tentu saja sikap seperti akan membahayakan sebuah pondasi yang dikenal sebagai kesatuan bangsa dan negara. Sama persis bila didengungkan kesenjangan sosial. Tentu saja gagasan mengembangkan kesenjangan sosial menjadi benar apabila tujuannya adalah pemerataan kesejahteraan. Namun gagasan itu (kesenjangan sosial) akan menjadi senjata pembunuh massal bila dimanfaatkan untuk meraih kekuasaan. Satu contoh adalah pribumi kaya raya jarang sekali dijadikan sebagai contoh kesenjangan sosial. Padahal pribumi ini menjadi sebab derita pribumi yang lain. Lumpur Lapindo merupakan salah satu contoh. Terlebih kekayaan itu diperoleh dengan cara merampas hak yang miskin. Kasus umroh dan investasi bodong adalah fakta lain yang tak terbantahkan. Manipulasi atas nama agama seringkali menjadi ujung tombak untuk berdiri di atas derita orang lain.

Dari belahan lainnya, siapakah yang paling bahagia dengan ditutupnya ruas jalan di Tanah Abang? Siapakah yang paling menderita?

Artinya adalah kesenjangan sosial merupakan isu tepat untuk sebuah kehancuran nilai. Baik nilai sosial yang dimiliki bangsa ini maupun nilai moral agama. Dan perlahan namun pasti akan membawa bangsa ini dalam jurang binasa, tanpa perlu menunggu 2030.

Ujaran kebencian merupakan upaya penolakan atau penghambat rakyat Indonesia menjadi maju. Ujaran kebencian berlawanan arah tujuan dengan visi kebangsaan. Visi kebangsaan akan selalu membawa semangat persatuan. Indonesia kompak. Keadaan yang berbeda justru ditawarkan oleh ujaran kebencian.

Ujaran kebencian adalah metode lain dari kaum imperialis untuk melanggengkan penjajahan. Devide et impera merupakan tujuan akhir dari ujaran kebencian, sementara ujaran kebencian adalah usaha hancur menghancurkan. Sebuah peradaban panjang yang diwarisi dari leluhur akan musnah dalam sehari. Semua nilai luhur yang terangkum dalam Pancasila juga akan hancur lebur dalam waktu sepeminuman teh oleh sebuah komentar atau tulisan sampah.

Sebagai bangsa yang bermartabat dan mempunyai harga diri maka sudah saatnya untuk bangkit. Melanjutkan revolusi mental bahwa aku adalah kita, kita adalah semua. Bukan aku adalah aku, golonganku adalah mereka. Aku dan dia adalah satu, bukan aku pemenang dan dia adalah pecundang. Akan tetapi mental pecundang akan selalu abadi bersemayam pada orang-orang senantiasa menyebar kebencian atas nama perbedaan.

 

 

Demikianlah. Wassalam.

 

 

Sumber gambar : http://theglobal-review.com/menghindarkan-indonesia-dari-kehancuran/

Tinggalkan Balasan