Bara di Borobudur 24.2 – Pertarungan di Lereng Gunung Wilis

Ra Jumantara merendahkan tubuhnya, seluruh jemari tangannya tertekuk melingkar seperti cakar harimau. Sangat cepat ia melesat menerkam Bondan dengan kedua tangan terbentang mengembang. Sekejap kemudian keduanya terlarut dalam perkelahian yang dapat menjadikan gentar hati orang. Dengan tangan kosong, mereka berdua sering lenyap dalam kegelapan karena begitu cepatnya gerakan-gerakan yang mereka lakukan. Ra Jumantara mengakui dalam hatinya jika lawannya yang berusia muda ini dapat mengimbangi kecepatan yang dimilikinya. Timbul keinginan dalam hatinya untuk semakin meningkatkan kecepatannya sekaligus menjawab rasa penasaran yang ia miliki. Maka Ra Jumantara pun tidak tanggung-tanggung untuk menggandakan segenap kecepatannya. Tiba-tiba saja tubuhnya seolah lenyap dari penglihatan Bondan. Ia berseru kaget ketika satu pukulannya menebas datar tiba-tiba mengenai ruang kosong. Untuk sejenak ia kesulitan melihat tubuh lawannya.

“Orang ini tidak mungkin dapat menghilang begitu saja,” Bondan berdesis dalam hatinya lalu tiba-tiba pundaknya menerima satu hantaman keras dan ia terjengkang agak jauh ke belakang. Ia cepat membenahi kedudukannya dan pada saat itu ia dapat melihat Ra Jumantara yang bergerak sedikit melambat. Akan tetapi perlambatan itu hanya sesaat saja, Ra Jumantara kembali menghilangkan tubuhnya di balik gerakan-gerakan yang sungguh tidak masuk akal. Tubuh Ra Jumantara seolah kehilangan bobotnya dan seperti mempunyai kecepatan yang setara dengan kilat di langit.

Serangan demi serangan yang dilepaskan oleh Ra Jumantara telah membuat Bondan terdesak sangat hebat. Ia berulang kali menerima pukulan dan tendangan yang mampu mengoyak dinding pertahanannya, meski begitu Bondan masih mencari jalan keluar untuk dapat melepaskan diri dari terjangan badai Ra Jumantara.

“Keluarkan senjatamu, anak muda. Lakukan itu dengan segera agar kau tidak mati sia-sia,” Ra Jumantara berkata-kata dalam serangan-serangan yang mengalir begitu cepat. Sekali dua kali tubuh Bondan menerima pukulan lawannya.

Tiba-tiba Bondan melompat surut jauh ke belakang. Ra Jumantara terkesiap melihat Bondan menjauh. “Apa yang akan ia lakukan? Aku belum menyentuh dia untuk saat ini,” kata Ra Jumantara kemudian ia berhenti mengalirkan serangan. Sebuah teriakan ia tujukan pada kawan-kawannya agar segera mengakhiri perlawanan orang-orang dari Menoreh ketika melirik ke lingkaran pertarungan yang lain.

“Orang padepokan ini sungguh luar biasa! Kecepatan geraknya benar-benar nyaris tiada batas,” tajam Bondan menatap Ra Jumantara yang berjarak sekitar belasan langkah darinya. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian menata olah geraknya yang paling mendasar. Bondan masih tetap berada di tempatnya, ia menunggu Ra Jumantara mengawali serangan. Bondan akan melakukan satu tatanan gerak yang telah menyatu dengan daging dan uratnya. Gerak dasar olah kanuragan yang pertama kali diajarkan oleh Resi Gajahyana di masa kecilnya.

“Anak ini sangat cerdik. Sungguh akan menyenangkan jika saja ia bersedia menjadi muridku,” gumam Ra Jumantara. Lalu,”Anak muda, aku harus mengakui jika aku sangat menikmati perkelahian denganmu. Dalam usiamu yang begitu muda, kau sanggup memaksaku untuk terus meningkatkan arus serangan. Nah, sekarang aku ingin kau berlutut di depanku dan disaksikan semua orang. Bagaimana?” seru Ra Jumantara.

Kata-kata Ra Jumantara sebenarnya dapat didengar oleh orang-orang yang lain, akan tetapi mereka masih terikat dengan lawan masing-masing. Walaupun begitu, Ki Arumbaya menyahut kata-kata kawannya,”Penglihatanmu memang tajam, Ki Jumantara. Namun kau harus ingat jika ia dapat saja mengambil nyawamu.” Namun akibat yang harus diterima oleh Ki Arumbaya adalah dia nyaris saja menerima tebasan datar Ken Banawa di bagian lambungnya. Seruan kaget terdengar darinya lalu ia surut jauh ke belakang.

Bondan hanya berdiam diri dan tidak menanggapi kata-kata Ra Jumantara.

“Jika kau bersedia lakukan itu, anak muda. Kau akan aku warisi seluruh ilmu yang ada pada diriku. Kau akan aku jadikan orang yang pilih tanding di seluruh tlatah Jawa bahkan sampai negeri seberang,” Ra Jumantara menutup kata-katanya dengan derai tawa yang keras. Dadanya sedikit terangkat dan ia merasa jika sebentar lagi anak mud ayang berdiri di depannya akan segera dapat ia kalahkan.

“Bagaimana, anak muda?” kata Ra Jumantara.

“Sebaliknyalah yang akan terjadi, Ki Sanak! Sesaat lagi kau akan berlutut dan menangis di depanku untuk sebuah ampunan,” getar amarah dapat dirasakan dari suara Bondan yang raut wajahnya kini menjadi tegang dan sorot matanya membara seolah akan membakar apapun yang dilihatnya.

“Anak muda! Kau harus belajar tata krama pada orang tua!” demikian Ra Jumantara mengatupkan bibirnya, secepat kilat ia menerjang Bondan dengan arus serangan seperti badai di lautan.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *