Ki Cendhala Geni 10.3 Pertempuran di Rawa-rawa

Ujung pedang itu masih sempat menggores lengan dan menimbulkan luka panjang namun tak seberapa dalam. Ki Cendhala Geni tidak menghentikan serangan walaupun lengan kanannya tergores pedang. Dia menyabetkan kapaknya dengan cepat ke arah Ken Banawa kemudian memutar kapaknya dengan tangan  kanan namun segera berpindah ke tangan kiri mengikuti ayunan bagian terberat dari kapaknya.

Cara menyerang seperti ini menjadikan Ken Banawa terkesima betapa lawannya mempunyai kekuatan yang sama antara tangan kiri dan kanan. Ken Banawa nampak lebih berhati-hati dan menjaga jarak dari Ki Cendhala Geni. Melihat hal itu, Ki Cendhala Geni merasa mendapat kesempatan baik karena pertarungan dalam jarak yang sedikit lebih jauh akan menguntungkan dirinya. Gagang panjang kapak akan memberinya keuntungan agar dapat melepaskan serangan dari tendangan yang tidak terduga oleh Ken Banawa. Ken Banawa yang mulai merasa terdesak karena perubahan gerak lawannya, sekarang mencoba untuk mencari jalan keluar dari kepungan Ki Cendhala Geni. Pedangnya segera diputar dan berposisi sejajar dengan lengannya. Setiap kali dia menangkis serangan kapak, itu berarti dirinya semakin dekat dengan Ki Cendhala Geni.

Sedangkan di bagian lain, Gumilang Prakoso berkelebat cepat di tengah kepungan Laksa Jaya dan Patraman. Pertempuran diantara ketiga lelaki muda dan mempunyai kedudukan di lingkungan masing-masing ini sangat mendebarkan. Betapa hujan panah yang dilepaskan oleh Gumilang Prakoso mampu dihadang oleh Laksa Jaya serta Patraman. Gendewa Gumilang berputar-putar menyambar Laksa Jaya dan pedang di tangan kanannya telah terhunus dan berkelebat cepat menyerang Patraman. Kemudian Gumilang meloncat ke atas dan mencoba melepaskan kedua tendangan pada dua sisi yang berbeda. Kedua lawannya mampu menangkis tendangan itu lalu tubuh Gumilang berjungkir-balik di udara dan bagaikan seekor rajawali, kini tubuhnya meluncur ke bawah, menyerang Patraman dengan pedang di tangan kanan, sedangkan tangan kiri memutar gendewa menghantam ke arah Laksa Jaya.

Gendewa Gumilang tertahan pedang Laksa Jaya dan pedangnya juga gagal menemui sasaran karena tertangkis oleh pedang Patraman. Kedua orang ini merasakan sedikit jerih pada lengannya. Pedang dan gendewa yang dihantamkan oleh Gumilang telah teraliri tenaga dalam serta ditambah bobot tubuhnya saat meluncur ke bawah menimbulkan sedikit keperihan pada kedua lengan musuhnya.

Laksa Jaya dengan sedikit nekat menerjang Gumilang Prakoso yang baru saja menginjakkan kakinya di tanah sambil mengayunkan pedangnya. Ayunan pedang Laksa Jaya berhasil ditangkis Gumilang, dan dengan cepat Gumilang melepaskan tendangan memutar dan mengenai bahu kiri Laksa Jaya. Patraman menyaksikan itu dengan decak kagum. Betapa seseorang yang menurut perkiraannya belum mampu memulihkan keseimbangan dengan sempurna ternyata mampu  melakukan gerakan tendangan memutar secara sempurna. Kini Laksa Jaya terguling-guling di tanah dan Gumilang merangsek dengan gendewanya.

Suara mendengung yang dihasilkan gendewa itu menimbulkan rasa jerih pada hati Laksa Jaya. Kini dia terdesak, melihat hal itu Patraman segera melompat ke arah Gumilang Prakoso sembari memutar pedangnya. Merasakan adanya angin serangan dari arah punggungnya, Gumilang segera memutar tubuhnya dan menyambut serangan Patraman dengan pedangnya yang berwarna merah dan berukir naga pada gagangnya.

Bondan dengan sangat cepat merangsek maju sambil melakukan tendangan memutar untuk  memecah barisan anak buah Laksa Jaya yang bergerak menuju Arum Sari. Gerakan yang memukau seperti ekor naga yang meliuk-liuk menghempaskan daun kering, seperti itulah keris Bondan yang mempunyai  sembilan lekuk terlihat oleh mata.  Kecepatan keris memberikan pemandangan luar biasa karena cahaya yang menimpa badan keris memperlihatkan warna hijau yang berkilauan. Tendangan memutar susul menyusul serta sabetan keris Bondan mengecilkan nyali kawanan Laksa Jaya yang akan membawa Arum Sari menuju kapal yang berada di pesisir sebelah selatan rawa-rawa. Bayangan upah besar yang akan diterima segera musnah dalam benak mereka. Belasan prajurit Majapahit yang awalnya berpencar kini telah bersatu dan segera menyusun gelar kecil untuk pertempuran ini.

Serangan demi serangan layaknya di medan pertempuran mulai digencarkan prajurit yang memiliki kesetiaan tanpa batas kepada kerajaan. Perlahan mulai mendesak pengikut Laksa Jaya dan mulai menguasai keadaan. Anak buah Laksa Jaya pun tertahan dan kini mereka harus mampu menyelamatkan diri masing-masing.

Kehebatan tempur prajurit ditambah kekuatan Bondan menjadikan kawanan Laksa Jaya mulai terpojok.

Ubandhana berdecak kagum dengan Bondan yang begitu cepat memulihkan dirinya. Ubandhana memperkirakan waktu yang lebih lama bagi Bondan untuk sembuh dari luka dalam saat pertarungan di Sumur Welut. Bentakan keras Ubandhana menjadi awal terjangannya menghadang Bondan. Tangan Ubandhana yang memegang tombak segera menuju dada Bondan dan siap merobek-robek kulit Bondan seperti singa merobek kulit mang-sanya. Satu tusukan yang sangat cepat segera mematuk dada Bondan. Suara mendesis keluar ketika tombak Ubandhana melayang di udara. Desiran angin dan hawa panas yang keluar dari tombak itu dirasakan Bondan. Merasa ada bahaya yang mengancam nyawanya, segera Bondan melepaskan ikat kepalanya dan menangkis serangan tombak Ubandhana. Sehelai kain yang mempunyai panjang kira-kira seukuran kaki orang dewasa ini tiba-tiba berubah menjadi garang ketika menyentuh bagian samping ujung tombak Ubandhana.

Bondan segera mengalihkan perhatiannya untuk mencecar Ubandhana dengan sabetan keris bergantian dengan ikat kepalanya sebagai senjata.

Keduanya pernah saling berhadapan di Sumur Welut, meski begitu pada pertarungan saat itu kemampuan kedua orang muda ini belum sepenuhnya dikeluarkan. Ubandhana sempat menyesali kegagalannya menghabisi Bondan. Dia memperkirakan bahwa pemuda berpostur sedang ini bukan orang biasa. Bahkan Ubandhana sudah meyakini bahwa dia akan menemui Bondan dalam pertarungan yang lain. Dan tidak disangka-sangka, justru pada saat dirinya akan memperoleh imbalan terbesar dalam hidupnya malah dirinya dihadapkan dalam pertarungan antara hidup dan mati.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *