PTB – Merebut Mataram 3

http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Sejenak kemudian Ki Winatra terdiam. Lurus ia memandang Ki Jagabaya dengan tatapan mata penuh arti. Seakan mengerti keinginan kawan baiknya itu, Ki Jagabaya kemudian berkata,” Ki Bekel, aku dan Ki Winatra akan segera memulai pekerjaan. Dan beberapa pengawal akan berada di bawah tuntunan Ki Winatra untuk sekedar meningkatkan kemampuan secara pribadi. Sementara aku akan melatih mereka dalam kelompok-kelompok kecil. Jika Ki Bekel setuju dengan pendapat kami berdua, aku akan meminta Kliwon segera mengumpulkan semua pengawal lapangan kecil utara pedukuhan.”

Ki Jagabaya menatap setiap wajah yang berada di sekelilingnya, jelas terlihat olehnya beberapa mata membayangkan kecemasan tentang sesuatu yang belum tentu terjadi. Ia menarik nafas panjang lalu katanya,” yang dapat kita lakukan sekarang ini adalah meningkatkan penjagaan dan pengawasan di setiap jengkal tanah pedukuhan. Untuk tujuan itulah maka aku dan Ki Winatra akan membagi kelompok-kelompok kecil yang nantinya akan berlatih bersama dan melakukaan kegiatan secara bersama-sama pula.” Ki Jagabaya berhenti bicara, sejurus kemudian ia melanjutkan lagi,” baiklah, aku kira semuanya telah jelas. Aku dan Ki Winatra minta diri dari pertemuan ini karena kami berdua dan Kliwon akan melakukan persiapan secepatnya.”

Ki Jagabaya bergegas melangkah lebar menuruni anak tangga banjar pedukuhan diikuti Ki Winatra dan Kang Kliwon. Kang Kliwon memberi perintah pada beberapa pemimpin kelompok pengawal untuk segera mengumpulkan anak buah masing-masing. Tanpa menunggu lama, mereka berpencar dan mendatangi satu per satu rumah setiap pengawal pedukuhan.

Dalam waktu tidak begitu lama di simpang tiga telah berkumpul puluhan pengawal. Ki Jagabaya segera membagi kelompok yang berbeda dengan kelompok sebelumnya. Kini setiap kelompok diisi oleh orang-orang dengan berbagai tingkat usia dan kemampuan. Ki Jagabaya berharap pembagian baru yang berjenjang ini dapat saling menutup dan mengisi setiap ruang yang kosong. Orang yang belum pernah berlatih olah kanuragan berbaur dengan mereka yang berada di tataran lebih tinggi.

“Demikianlah aku katakan pada kalian, setiap orang akan membimbing yang berada di bawah lapisannya. Kita tidak mempunyai waktu lebih banyak dari malam ini. Mungkin saja pekan depan atau tiga pekan lagi akan ada sekelompok orang yang menyerang pedukuhan ini,” berkata Ki Jagabaya lantang.

“Atas alasan apakah mereka menyerang pedukuhan kita, Ki Jagabaya?” seorang lelaki bertubuh tinggi dan memegang bambu runcing bertanya.

“Aku tidak tahu,” jawab Ki Jagabaya dengan pandangan menyapu orang-orang yang berbaris rapi di hadapannya. Lanjutnya lagi,”satu kepastian adalah tentu mereka mempunyai maksud dan kepentingan tertentu. Entah karena kesuburan pedukuhan, kemakmuran para pedagang atau mungkin juga karena satu penyebab yang kita tidak mengetahuinya. Bahkan mungkin kita tidak dapat menduganya.”

“Lalu apakah nantinya setiap orang di pedukuhan ini juga akan mendapat penjelasan tentang ancaman yang akan datang?” bertanya pengawal lainnya.

“Bagus. Pertanyaan itu menunjukkan kesiagaan dan kesiapan kalian tentang keadaan ini,” jawab Ki Jagabaya kemudian ia bergeser ke gundukan tanah yang lebih tinggi. Ia berkata lagi,” keadaan ini tidak perlu disampaikan dengan terang benderang. Cukup kita menjawabnya sebagai latihan atau persiapan jika Mataram sewaktu-waktu memerintahkan para pengawal bersiap. Keterangan yang kita sampaikan akan dapat mengubah keyakinan banyak orang tentang kemampuan dan kesiapan kita sebagai pengawal.”

Ki Jagabaya berhenti sejenak, ia menoleh ke arah Ki Winatra yang mengangguk kecil. Ki Winatra menambahkan kemudian,” setiap orang dari kita tetap akan bekerja seperti hari-hari sebelumnya. Kita akan tetap turun ke sawah, berjalan di pasar dan mencari kayu bakar. Akan tetapi, keadaan itu akan berubah sedikit karena unsur-unsur olah kanuragan juga akan disertakan dalam kegiatan sehari-hari.”

Para pengawal saling berpandangan lalu mereka mengangguk kecil.

Ki Jagabaya kemudian melangkah turun dan mempersilahkan Ki Winatra untuk menyampaikan pesan.

Sebaris kalimat diucapkan Ki Winatra saat mengawali pembicaraan. Kemudian ia berkata,”tiga kelompok akan selalu bersamaku untuk tiga empat hari di depan. Selanjutnya bergantian dengan kelompok-kelompok lain yang akan didampingi Ki Jagabaya. Kita akan melakukan banyak kegiatan, dan mungkin ada beberapa latihan yang agak berat. Namun meski begitu, aku harap dalam satu dua pekan ke depan akan banyak kemajuan yang kalian raih.”

Wajah-wajah pengawal pedukuhan menyiratkan semangat yang membara. Beberapa nyala obor seakan menambah hangat keadaan yang mulai dibangun oleh Ki Bekel beserta beberapa orang penting lainnya.

Pada malam itu pula, Nyi Winatra dan Sarjiwa mengemasi barang-barang yang sekiranya diperlukan di pedukuhan induk. Selagi Ki Winatra bersama dengan para pengawal di simpang tiga, Nyi Winatra dan Sarjiwa berpamitan minta diri.

“Ayah, aku minta restu untuk bersama ibu melakukan pengamatan di pedukuhan induk,” kata Sarjiwa perlahan. Selanjutnya,” lakukan yang terbaik yang dapat kau lakukan, ngger. Aku tidak banyak memberimu bekal tetapi apa yang ada dalam dirimu sudah lebih dari cukup untuk menjaga ibumu.” Kata-kata Ki Winatra juga dapat didengar oleh pengawal di sekitar mereka. Para pengawal memang mengetahui kemampuan Sarjiwa dan mereka juga turut mengiringkan langkah-langkah Sarjiwa dan Nyi Winatra sampai batas Pedukuhan Dawang.

“Anak muda yang memang istimewa,” bisik seorang pengawal.

“Kita akan kehilangan seorang kawan yang tangkas dan menyenangkan,” sahut rekannya yang berdiri di sebelahnya. Mereka yang mendengar percakapan pelan itu menganggukkan kepala. Memang sebenarnya Sarjiwa mampu menempatkan diri dengan baik di lingkungan anak-anak muda dan orang tua di pedukuhan. ia sering terlibat dalam kegiatan yang dilakukan bersama-sama seperti memperbaiki bendungan, saluran air dan kadang-kadang ia turut menjaga air di malam hari.

Demikianlah sejak malam itu semangat para pengawal dan orang-orang lainnya mampu mewarnai suasana pedukuhan lebih hidup. Gardu-gardu penjagaan mulai dipenuhi banyak orang meskipun mereka tidak terlibat dalam latihan-latihan yang diselenggarakan Ki Jagabaya dan Ki Winatra. Ditambah kehadiran Ki Bekel yang seringkali berjalan mengiringi para perondan suasana aman semakin merebak di setiap jengkal tanah pedukuhan. Kegiatan anak-anak muda semakin meningkat meskipun tidak begitu terlihat. Susunan para perondan yang disesuaikan dengan kelompok-kelompok yang telah ditata sedemikian rupa oleh Ki Jagabaya pun telah mendapat pengaturan waktu ronda.

Memang yang terjadi adalah kelompok-kelompok yang mendapat giliran untuk berlatih bersama Ki Winatra tetap bekerja seperti biasa, namun mereka mulai menerapkan petunjuk-petunjuk Ki Winatra. Kedudukan kaki saat mencangkul, menebang dahan atau ranting dan lainnya mendapatkan perhatian khusus dari Ki Winatra. Meski pada awal mulanya mereka kesulitan untuk merubah satu kebiasaan, namun perlahan mereka dapat merasakan perubahan yang nyata. Hal itu dapat mereka rasakan saat berlatih bersama dengan kawan-kawan pengawal yang lain. Tendangan dan pukulan mereka lebih berisi, sabetan dan tusukan senjata juga tidak lagi tanpa keteraturan. Pada hari yang lain para pengawal pedukuhan bertukar tempat untuk mendapatkan latihan dari Ki Jagabaya. Bersama Ki Jagabaya, para pengawal pedukuhan mulai mengenal gelar-gelar perang yang adakalanya ditunjukkan oleh Ki Jagabaya dengan mengadakan latihan perang kecil-kecilan.

Beberapa pemimpin pengawal yang telah menerima pendadaran telah dipilih oleh Ki Winatra untuk digembleng lebih mendalam. Ilmu kanuragan yang satu dua lapis lebih tinggi mulai diajarkan oleh Ki Winatra. Para pemimpin ini juga mendapatkan pengetahuan khusus dari Ki Jagabaya untuk mengatur gelar dan berbagai pengetahuan untuk mengubah bentuk gelar dan bahkan melebur gelar perang yang berbeda.

“Dalam beberapa pekan lagi, kemampuan kalian tidak akan kalah dari seorang lurah prajurit Mataram. Akan tetapi aku ingin mengingatkan jika kalian tidak berhenti sampai di batas yang telah kalian raih. Tidak perlu juga bersikap tinggi hati karena mungkin para penyerang itu mempunyai kelebihan setinggi bintang dibandingkan kalian,” Ki Jagabaya berpesan pada suatu hari. Para pemimpin pengawal memang menyadari jika mereka bukanlah orang yang berkemampuan tinggi, namun bekal yang diperoleh hari ke hari dari kedua orang pembimbing mereka agaknya sudah cukup untuk menjaga pedukuhan dari gangguan keamanan.

“Kami menyadari keadaan kami, Ki Jagabaya. Kami tidak disiapkan untuk menjadi seorang prajurit Mataram, dan kami juga bukan bagian keprajuritan Mataram. Namun kerelaan Ki Jagabaya dan Ki Winatra melatih kami hingga menjadi seperti sekarang ini sudah menjadi anugrah yang luar biasa dari Yang Maha Kuasa. Sehingga dengan begitu, kami tidak perlu lagi merasa kecil hati jika sekelompok orang mendatangi pedukuhan dan melakukan tindakan yang tidak semestinya,” berkata Pranata, salah seorang pemimpin kelompok yang berusia muda.

“Memang seperti itulah sikap yang seharusnya tertanam dalam diri setiap orang di pedukuhan. Nah marilah kita lanjutkan lagi latihan-latihan yang telah disusun oleh Ki Winatra,” Ki Jagabaya menutup perbincangan lalu meminta pengawal-pengawal segera bersiap kembali untuk menerima latihan.

Kesiagaan para pengawal Pedukuhan Dawang terasa meningkat meskipun tidak terlihat jika diperhatikan tanpa pengamatan khusus. Para pengawal yang berkeliling dalam kelompok kecil yang terdiri dari dua tiga orang semakin sering dilakukan. Keadaan ini berbeda ketika orang-orang perkemahan masih berada di tepi hutan. Para pengawal sama sekali tidak menunjukkan kegiatan yang berarti, namun itu semua adalah keputusan Ki Bekel yang tidak menghendaki kekacauan terjadi sementara kemampuan pengawal jauh berada di bawah orang-orang perkemahan. Sebagian orang yang tidak terlibat dalam kegiatan para pengawal telah ditugaskan oleh Ki Bekel untuk memperbaiki alat-alat tanda-tanda bahaya. Kentongan dengan berbagai ukuran, panah sendaren dan panah api disediakan di setiap gardu jaga.

Mereka yang tidak mengikuti latihan-latihan yang diselenggarakan Ki Jagabaya dan Ki Winatra pun melatih diri mereka sendiri dengan bimbingan para pengawal. Agaknya setiap orang baik yang muda usia sampai orang yang sudah tidak dapat mengangkat senjata merasa harus ikut bersiap untuk menghadapi segala macam kemungkinan. Sehingga jalan-jalan dan tanah lapang menjadi tempat bertemu untuk segala macam kepentingan. Dari sekedar berbincang melepas penat, bergurau bahkan berlatih olah kanuragan. Maka dengan begitu Pedukuhan Dawang menjadi hidup dan telah bersiap untuk keadaan apapun.

Tinggalkan Balasan