Penaklukan Panarukan 5

Waktu telah beranjak setapak demi setapak menuju fajar, Ki Tumenggung Suradilaga kencang memacu kuda melintasi lorong-lorong jalan yang menyimpang dari jalan utama. Ia telah berulang kali mendapatkan tugas khusus dari Sultan Trenggana, namun ia sekarang didera kegelisahan yang cukup mendalam. Betapa ia harus menemui Adipati Pajang dengan membawa sebilah piandel yang cukup disegani oleh orang-orang penting di seluruh tlatah Demak.

“Aku tidak akan keberatan jika akhirnya harus pulang dengan kepala yang tertinggal entah dimana, tetapi keris ini benar-benar menjadikan tugas ini seperti berlipat ganda beratnya,” desah Ki Tumenggung dalam hatinya. Ia berhenti lalu menuntun kudanya menuruni lembah menuju sungai kecil yang berada tidak jauh dari jalan yang cukup dapat dilewati dua ekor kuda berpapasan.

Matahari mulai menyemburkan warna merah di kaki langit. Daun-daun berkilauan tertimpa cahaya pagi. Hutan kecil yang terbelah oleh jalanan sempit itu kini mulai bangkit dari tidurnya. Binatang-binatang liar melangkah menggerakkan kaki menyambut fajar baru seiring dengan kicau burung yang terbang di sela-sela dahan dan pepohonan yang besar.

“Jika tidak ada penghalang dalam perjalanan ini, mungkin aku akan memasuki Pajang pada saat matahari berada di puncak,” ia berkata pelan pada dirinya sendiri dan membiarkan kudanya meneguk air dari sungai kecil yang mengalir diantara sela-sela pepohonan. Ki Tumenggung Suradilaga meraba tali yang menyilang di dadanya seakan ingin memastikan jika piandel itu tidak terjatuh dalam perjalanan. Dalam pada itu, pendengaran tajam Ki Tumenggung mendengar gemerisik langkah kaki yang menginjak rerumputan dan daun-daun yang basah. Ki Tumenggung dengan cekatan segera menyembunyikan diri, namun begitu ia tetap waswas karena kuda tunggangannya tidak akan sempat dituntunnya di balik semak-semak.

Beberapa langkah dari arah selatan terdengar orang bercakap-cakap. Sementara jarak mereka dengan Ki Tumenggung Suradilaga semakin dekat.

“Kau lihat seekor kuda berwarna hitam itu?” tanya seorang pejalan kaki yang memakai celana berwarna hitam pada kawannya.

“Aneh! Tidak mungkin kuda itu lepas dari pemiliknya sementara pelana dan tali kekang masih menempel pada tubuhnya,” jawab rekannya yang berjalan sambil menenteng sebilah golok yang terbungkus daun jati.

“Bukankah kita tidak sedang diburu pekerjaan?” kembali orang bercelana hitam itu bertanya.

“Apakah kau bermaksud menunggu pemilik kuda itu datang?” rekannya balik bertanya.

“Aku kira tidak ada salahnya kita menunggu pemiliknya datang. Mungkin ia sedang ada keperluan sehingga harus meninggalkan kudanya di daerah yang sepi sekalipun masih aman dari gerombolan penjahat,” sahut orang bercelana hitam.

“Baiklah, kita tunggu di bebatuan hitam itu sambil makan pagi. Perutku sudah berteriak kencang minta diisi,” sambut kawannya lalu duduk diatas batu pipih yang besar kemudian membuka bungkusan daun jati. Orang bercelana hitam mengikuti kawannya dan tak lama kemudian mereka mulai menikmati makanan.

‘Mereka tidak bermaksud apa-apa. Sepertinya mereka itu orang-orang yang tinggal di sekitar hutan ini, aku akan keluar menemui mereka berdua,’ pikir Ki Tumenggung Suradilaga. Perlahan ia bangkit berdiri dan menyembunyikan keris Sabuk Inten yang terbungkus dalam kain berwarna putih di balik semak-semak.

Langkah ringan Ki Suradilaga sama sekali tidak terdengar oleh kedua orang yang berada di dekat batu hitam pipih, tiba-tiba saja mereka terkejut dengan kehadiran Ki Tumenggung Suradilaga yang mengenakan pakaian seperti orang kebanyakan.

“Selamat pagi, Ki Sanak berdua,” sapa Ki Suradilaga setelah berbatuk kecil seolah-olah tidak sengaja bertemu dengan mereka berdua.

“Selamat pagi, Ki Sanak,” jawab keduanya berbarengan. Lalu orang bercelana hitam itu ramah berkata,” marilah bergabung bersama kami untuk menikmati hari dengan makan pagi.”

“Terima kasih, Ki Sanak. Sepertinya aku mengganggu ketenangan Ki Sanak berdua yang mungkin akan melakukan pekerjaan besar pada hari ini,” berkata Ki Tumenggung Suradilaga dengan pundak sedikit merendah.

“Bukan pekerjaan besar, Ki Sanak. Tetapi pekerjaan kecil karena kami akan memindahkan isi perut Merapi ke sini,” sahut orang yang memegang golok itu sambil menunjuk arah perut. Mereka bertiga kemudian tertawa kecil dengan kelakar orang itu. Lalu orang bercelana hitam itu bangkit berdiri dan menyodorkan bungkus daun pisang pada Ki Suradilaga.

“Silahkan, Ki Sanak! Tidak baik menolak tawaran orang-orang yang menggemari isi Merapi,” ia tersenyum ramah lalu Ki Suradilaga mengambil sepotong ketela rebus dan duduk di sebelah mereka.

“Sebutan apa yang dapat kami panggil untuk Ki Sanak?” bertanya orang bercelana hitam.

“Aku biasa dipanggil Ki Sarwana di kampung,” jawab Ki Suradilaga cepat menjawab. Agaknya Ki Tumenggung Suradilaga sudah terbiasa melakukan penyamaran sehingga jawaban itu terdengar meyakinkan.

“Oh,” keduanya berdesah pelan dan menganggukkan kepala.

“Namaku Ki Partani dan ia bernama Ki Wartana,” orang bercelana hitam yang bernama Ki Partani menjelaskan. Kemudian ia bertanya,”Apakah kuda di dekat sungai itu kepunyaan Ki Sarwana?”

Ki Suradilaga menganggukan kepala lalu menjawab,” betul, Ki. Aku terpaksa meninggalkannya sendirian karena sesuatu yang tidak dapat aku tahan.”

“Apakah Ki Sarwana sedang melakukan perjalanan jauh? Kalau boleh tahu, darimana Ki Sarwana berasal?” bertanya Ki Partani.

“Aku berasal dari Pedukuhan Mulyasari, dan sekarang aku akan menuju Pajang, Ki Partani. Seorang kerabat akan mempunyai keperluan yang sangat penting dan aku sedang memenuhi undangannya,” jawab Ki Tumenggung lalu ia melanjutkan,” ia akan menikahkan anak gadisnya yang telah dilamar beberapa bulan yang lalu.”

“Oh,” keduanya menganggukkan kepala. Lalu Ki Wartana berkata,” tentu Ki Sarwana sedang berbunga hati karena akan mempunyai seorang cucu.”

Ki Tumenggung menundukkan kepala, menahan tawa. Kemudian ia berkata,” aku harap semua akan berjalan lancer.”

“Semoga begitu,” sahut Ki Partani dan Ki Wartana bersamaan.

“Tetapi aku sendiri agaknya tidak akan pernah menikahkan anak, Ki Sanak berdua. Aku belum mempunyai keturunan hingga sekarang,’” berdesah pelan Ki Tumenggung dalam hatinya dan untuk sesaat ia terlarut dalam perasaan.

“Baiklah, Ki Sarwana. Kiranya pemilik kuda itu telah datang dan kami berdua akan kembali melanjutkan rencana untuk memindahkan isi Merapi,” berkata Ki partani seraya bangkit berdiri dan diikuti oleh adiknya.

“Aku berterima kasih pada Ki Sanak bedua,” Ki Suradilaga mengangguk hormat dan agaknya ia mempunyai kesan mendalam terhadap pertemuan singkat dengna dua orang yang tidak ia kenal. Sejenak kemudian ketiganya lantas berpisah. Ki Tumenggung kembali ke tempatnya bersembunyi dan mengambil Keris Sabuk Inten. Ia memeriksa kembali benda berharga yang menjadi kebanggaan Demak Bintara. Sedikit bergegas, Ki Tumenggung menghampiri kudanya lalu menuntun menaiki lereng yang landai dan sejurus kemudian ia telah memacu kuda menuju kota Pajang.

Pada pagi itu Adipati Hadiwijaya sedang menerima laporan dari seorang senapati yang bertugas di tapal batas kadipaten.

“Kanjeng Adipati, beberapa saudagar memberi kabar padaku tentang kegiatan yang meningkat tajam di Jepara,” kata senapati itu ketika ia telah berada di pendapa kadipaten. Menilik pangkat yang ia kenakan agaknya senapati itu adalah seorang rangga.

“Kegiatan yang meningkat itu adalah kabar yang umum dan dapat disaksikan oleh banyak orang. Lalu berita apa yang mereka katakan padamu, Ki Rangga Sambaga?” tanya Adipati Hadiwijaya.

“Mereka berkata jika Jepara sedang menyiapkan banyak prajurit dan kapal yang berjumlah sangat banyak,” jawab Ki Rangga Sambaga.

“Prajurit dan kapal?” Adipati Hadiwijaya mengulang kata-kata Ki Samekta. Ia mengelus janggutnya dan berdiri menatap alun-alun yang berada di seberang jalan. Ia membalikkan badannya dan lurus menghadap Ki Rangga Sambaga.

“Lalu kau belum mendapatkan keterangan lain dari prajurit Demak yang mungkin saja berpapasan denganmu di perbatasan?” bertanya Adipati Hadiwijaya dengan tatap mata penuh menyelidik.

“Aku sempat menanyakan kebenaran berita dari para saudagar yang bercerita padaku. Akan tetapi prajurit-prajurit Demak sendiri sepertinya tidak mengetahui secara pasti kegiatan yang dilakukan oleh Jepara, Kanjeng Adipati,” jawab Ki Sambaga.

Pembicaraan mereka terhenti sejenak ketika seorang pelayan rumah tangga datang menyajikan hidangan pagi bagi mereka berdua. Tak lama setelah itu, ia menuruni anak tangga pendapa dan meninggalkan mereka berdua.

“Silahkan Ki Rangga. Ki Rangga harus selalu dalam keadaan segar bugar,” kata Adipati Hadiwijaya mempersilahkan Ki Rangga untuk memulihkan tenaga dengan hidangan yang diantarkan oleh pelayan. Namun Ki Sambaga merasa tidak pantas jika mendahului Adipati Hadiwijaya sehingga ia hanya mengangguk kecil. Dengan berbagai dugaan yang melintas dalam benaknya, Adipati Hadiwijaya mencoba mengalihkan pembicaraan ke bagian lain. Sejenak kemudian keduanya terlibat pembicaraan sungguh-sungguh mengenai keadaan yang berkembang di wilayah perbatasan. Suasana sedikit mencair ketika Adipati Hadiwijaya mulai mengambil sepotong makanan lalu diikuit Ki Rangga Sambaga.

Adipati Hadiwijaya mendengarkan sungguh-sungguh penuturan Ki Sambaga mengenai keadaan jalan yang menghubungkan setiap pemukiman, keamanan yang melingkupi wilayah Pajang bagian luar dan banyak hal yang disampaikan Ki Sambaga dalam pertemuan itu.

Hari menapak siang ketika seorang prajurit yang menjaga regol kadipaten meminta ijin untuk bertemu dengan Adipati Hadiwijaya.

“Katakan!” perintah Adipati.

“Seseorang mengaku datang dari Demak mengatakan jika ingin menghadap Kanjeng Adipati,” jawab prajurit jaga.

“Apakah ia menyebut nama?”

“Ia bernama Ki Tumenggung Suradilaga. Akan tetapi ia tidak berpakaian seperti seorang tumenggung, Kanjeng Adipati,” prajurit jaga itu menjawab.

“Ki Tumenggung Suradilaga,” berkata pelan Adipati Hadiwijaya mengulang nama yang disebutkan oleh prajurit jaga.

Tinggalkan Balasan