Dendam Sabdo Palon – Naya Genggong

Paijem dan Maribut berdebat sengit. Perdebatan yang mengalir deras dan berubah menjadi baku hantam.

Kali ini nampak keras, saling ngotot, baku pukul adu jotos hingga hidung keduanya keluar mimis. Berdarah raga, membara kedua hati anak manusia terbawa amarah. Ego dan naluri Paijem sebagai pembunuh bayaran yang cukup terkenal di lingkungan para pembesar kerajaan tergerak liar. Maribut di lihatnya seperti semut.

“Sabdopalon Nayagenggong pasti bangkit lagi. Melampiaskan janji dendam kesumat 500 tahun silam. Rasakan dendam Sabdopalon ini!” teriak melengking Paijem dibarengi dengan sabetan parang tipis khas Pulau Gambut. Entah dari mana didapatkannya parang tipis yang sanggup membelah tubuh sekali ayun seperti membelah apem, sudah teruji dalam ratusan kali pertarungan berdarah.

Maribut dengan ketenangan yang tersisa geser ujung kaki kiri, mundur selangkah hindari parang tipis.

Di luar dugaan Paijem, leher Maribut yang hendak ditebasnya ditarik menyamping ikuti gerakan kaki, di susul dengan dua gerakan berikutnya yang sangat cepat. Tiba tiba dirasakannya ketajaman ujung parang nempel tepat pada tengkuknya. Kecepatan Maribut merebut pedang dari tangannya diluar perkiraan Paijem.

“Sudahlah. Kita hentikan ribut sia-sia seperti ini. Tak guna kita saling bunuh,” ujar Maribut seraya sedikit tekan ujung parang hingga gores kulit Paijem hingga berdarah.

Nampak butiran keringat dingin sebesar biji jagung di wajah Paijem. Nyalinya mengkerut. Gemetar sekujur badan merasa hadapi maut.

Paijem sama sekali tidak menyangka bila orang yang diremehkannya selama ini ternyata berada di lapisanolah kanuragan yang jauh diatasnya. Kekuatan yang lahir dari nyali besar telah merenggut kejantanan yang dibanggakan Paijem. Maribut yang dikenalnya sebagai pengemis hina, setiap hari memungut butiran nasi sisa. Kini Maribut nampak sebagai sosok malaikat pencabut nyawa, yang siap tusuk dan iris tengkuknya dengan parang tipis miliknya sendiri.

Maribut bergerak tangkas memilin dua tangan Paijem di belakang punggungnya. Di ikat erat. Lalu meninggalkan begitu saja tanpa sepatah kata. Parang tipis milik Paijem di bawanya.

Tiga hari berselang, Paijem mencari Maribut ke delapan penjuru angin. Menyusur lembah, memeriksa setiap gua di tebing yang curam. Paijem menyisir setiap pasar, warung kopi, merambah dari hulu ke hilir sungai tempat biasanya Maribut mandi. Semua tempat di Kabuyutan Jaresongo itu telah penuh dengan tapak kaki Paijem.

Maribut seakan menghilang di telan bumi.

Sementara pada waktu yang sama, Maribut duduk tepekur seorang diri di batas cakrawala. Berselimut awan tipis antara ada dan tiada. Ia mengingat masa-masa ketika kotaraja berkubang api dan darah. Saat ia menemui seorang pengemis tua yang duduk bersandar pada dinding istana. Mereka berbincang di sela-sela lamunan.

————-

Sabdapalon dikisahkan sebagai pengawal para raja Majapahit. Mulai Raden Wijaya sampai Brawijaya V.

 

 

Sumber gambar https://kanzunqalam.com/

Tinggalkan Balasan