Bara di Borobudur 25.1 – Pertarungan di Lereng Gunung Wilis

“Sebaliknyalah yang akan terjadi, Ki Sanak! Sesaat lagi kau akan berlutut dan menangis di depanku untuk sebuah ampunan,” getar amarah mengalun dari suara Bondan yang raut wajahnya kini menjadi tegang dan sorot matanya membara seoalah akan membakar apapun yang dilihatnya.

“Anak muda! Kau tidak tahu arti belas kasihan!” demikian Ra Jumantara mengatupkan bibirnya, secepat kilat ia menerjang Bondan dengan arus serangan seperti badai di lautan.

Tubuhnya menghilang dari pandangan Bondan, akan tetapi Bondan sama sekali tidak berusaha menghindar. Kali ini, melihat susunan tubuh saat bersiap, agaknya Bondan akan menghadapi Ra Jumantara dengan mengandalkan ketajaman pendengarannya. Tapa kalong yang ia lakukan dalam pengawasan Ki Swandanu untuk menjalani pesan dari gurunya, rupanya akan dijadikan Bondan sebagai benteng pertama untuk membendung arus serangan Ra Jumantara.

Saat mereka berdua berdiri berhadapan, lingkaran-lingkaran pertempuran yang lain telah memudar.

“Aku akan membawamu ke Pajang untuk sebuah pengadilan,” berkata Ki Rangga pada Nyi Kirana sambil mengikat kedua tangan perempuan itu.

“Terserah padamu, Ki Sanak. Akan tetapi kau jangan sesali jika terjadi peristiwa yang tidak kau inginkan terjadi di depan banyak orang.”

Dahi Ki Rangga berkerut untuk sejenak berusaha menangkap arti kata-kata Nyi Kirana.

“Apapun itu, jika terjadi maka terjadilah dan aku berada di sana,” kata Ken Banawa kemudian.

“Kau terlalu tua untuk bersikap sombong, Ki Sanak. Dan kau tidak akan berkata-kata lagi meskipun kau akan seret aku sepanjang perjalanan menuju Pajang,” tegas Nyi Kirana berkata-kata lalu mengalihkan pandangan matanya ke lingkaran yang tersisa.

Ki Swandanu dan Jalutama yang mendengarkan percakapan itu sama-sama merenungkan arti ucapan Nyi Kirana. Sementara Ki Hanggapati berkata,”Sebaiknya kita tetap waspada. Orang yang menjadi lawan Bondan agaknya akan dapat menyusahkan kita semua, meskipun kita lawan bersama-sama.”

Nyi Kirana tertawa nyaring, kemudian katanya,”Penglihatanmu memang tajam, Ki Sanak. Memang benar yang kau katakan, anak muda itu akhirnya terbunuh olehnya dan kalian semua akan menyesali keputusan untuk tidak menghabisi hidupku!” Kemudian ia terdiam, sambil menundukkan wajahnya dan berkata lirih yang hanya dapat ia dengar sendiri,” Meski begitu, ketajaman penglihatanmu juga dapat menjadi awal kebahagiaanku.”

Angin prahara yang dikirimkan oleh Ra Jumantara benar-benar menjadikan Bondan sangat sibuk. Kedua tangan Bondan bergerak cepat, berputar-putar membungkus tubuhnya sementara kaki Bondan hanya bergeser setapak demi setapak. Ia tidak lagi berusaha mengimbangi kecepatan gerak dari lawannya. Hanya tubuh dan tangan Bondan yang berputar-putar menjadi lingkar pertahanan yang sulit ditembus oleh Ra Jumantara.  Namun di balik serangan-serangan yang datang bergelombang tiada henti, Ra Jumantara menjadi sangat marah. Ia menambah kekuatan dan tenaga pada tiap pukulan dan tendangan yang ia lontarkan. Hentakan tenaga Ra Jumantara dapat mendesak Bondan yang lambat laun mulai merasakan pertahannya telah tergerus.

“Orang ini memang luar biasa.” Bondan cepat memutar tubuhnya seperti gasing menghindari tendangan beruntun Ra Jumantara. Bondan masih menunggu saat yang tepat untuk mengambil kesempatan balas menyerang. Tiba-tiba ia menyambut tendangan Ra Jumantara yang datang beruntun dengan jari tangan mengembang menangkis sangat cepat. Meskipun Ra Jumantara terkejut akan tetapi ia tidak mengurangi daya gempurnya. Sekali lagi Bondan harus memuji kecakapan tempur lawannya. Bondan merasakan telapak tangannya mulai menghangat setiap kali menangkis tendangan Ra Jumantara. Namun keadaan itu tidak menyurutkan niat Bondan yang mulai berusaha mendesak lawannya dengan serangan cepat dan berbahaya.

Kedua lengan Bondan mulai berayun, menusuk dan menyilang datar mengarah bagian tubuh berbahaya, Ra Jumantara terpaksa mengubah olah geraknya untuk membuat dinding pertahanan yang mulai terdesak oleh serangan demi serangan Bondan.

Bondan secara tiba-tiba meningkatkan kecepatan geraknya. Ia berusaha memaksa Ra Jumantara bertarung dalam jarak jangkauan lengannya. Bondan memutari dan memotong setiap langkah lawannya dengan kecepatan yang mengagumkan. Meskipun Ra Jumantara telah mengetahui kecepatan dan tenaga Bondan akan tetapi ia tidak mau kehilangan pengamatan.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *