Ki Cendhala Geni 11.1 – Pertempuran di Rawa-rawa

Batang tombak yang pendek  Ubandhana tak mampu menembus pertahanan Bondan. Dengan menggunakan pangkal lengan, Bondan mementahkan hantaman tombak Ubandhana. Seketika itu Bondan melakukan serangkaian serangan dengan hantaman siku kiri saling bergantian dengan keris di tangan kanan.

Pada saat itu Ubandhana terkejut dengan perubahan yang dilakukan Bondan. Dan ia harus menerima akibat yang sama sekali tidak diharapkan. Rahang kirinya terhantam siku kiri Bondan yang kemudian menyusulkan satu tamparan keras melalui ikat kepala yang tergenggam tangan kirinya.

Cairan berwarna merah yang kental mengalir tipis dari sela-sela bibir Ubandhana.

Ken Banawa yang masih terlibat pertarungan sengit dengan Ki Cendhala Geni seperti berada di atas angin. Ki Cendhala Geni alias Ki Cendhala Geni mulai menjadi keteteran dan pertarungan jarak pendek ini menjadi tekanan baginya. Ken Banawa yang memegang pedang sejajar dengan satu bagian menempel erat pada lengannya kian hebat melancarkan serangan. Sabetan dan tusukan pedangnya menjadi susah ditebak. Ken Banawa tidak lagi banyak melakukan tusukan-tusukan secara gencar. Serangan demi serangan disusun bergantian dengan pukulan tangan kiri dan tendangan yang seolah hujan dari berbagai arah.

Perubahan ini mau tidak mau telah  Ki Cendhala Geni segera merubah taktik untuk mengimbangi serangan gencar dan bergelombang Ken Banawa. Dengan memanfaatkan panjang kapaknya, Ki Cendhala Geni mundur beberapa langkah sambil mencoba berusaha melakukan serangan balasan. Mendapatkan kedudukan yang sesuai dengan jangkauan kapaknya, Ki Cendhala Geni melompat agak tinggi dan menerjang Ken Banawa dengan hantaman kapaknya. Tubuh Ki Cendhala Geni melayang lalu menukik deras kemudian melenting ibarat burung camar yang mematuk ikan di tengah samudera. Perubahan jurus ini memberi tekanan pada Ken Banawa. Harapannya untuk dapat memukul mundur Ki Cendhala Geni melalui pertarungan jarak dekat harus menemui jalan buntu. Bagaimanapun juga Ki Cendhala Geni adalah seseorang yang berilmu tinggi dan mempunyai pengalaman sangat luas. Kekuatan dan kecepatannya telah mendapat pengakuan dari orang-orang di dunia olah kanuragan.

Mentari memantulkan cahayanya di permukaan air laut yang letaknya tak jauh dari rawa-rawa. Cahaya merah keemasan tampak bagaikan bermain diatas gelombang kecil, berkilauan seolah kerlip bintang di malam hari. Begitu indah dan penuh pesona.  Perlahan dan penuh kepastian sinarnya merambat halus menyentuh permukaan tanah.

Kedua orang yang sama-sama memiliki ilmu tingkat tinggi sudah tidak berada dalam posisi yang sama secara terus menerus. Ken Banawa membentuk selubung pertahanan yang segera berubah menjadi serangan balik yang mematikan. Ki Cendhala Geni juga menempuh cara yang sama dengan Ken Banawa. Hingga tak lama kemudian kedua tokoh digdaya ini segera terlibat dalam adu serang, saling membeturkan senjata dan terkadang berloncatan menjauhi satu sama lain.

Kapak Ki Cendhala Geni yang mempunyai sisi tajam pada kedua ujungnya membabat lambung kiri Ken Banawa. Ken Banawa yang mengira arah serangan adalah ke bawah ketiaknya, oleh karena itu dia melakukan tusukan ke pangkal lengan Ki Cendhala Geni. Namun perubahan arah kapak memaksa Ken Banawa mundur setapak sambil memutar tubuhnya lantas dalam keadaan membelakangi Ki Cendhala Geni, Ken Banawa tiba-tiba mematukkan ujung pedangnya ke ulu hati Ki Cendhala Geni.

Ki Cendhala Geni dengan cepat membenturkan senjatanya untuk mengubah arah pedang Ken Banawa. Pedang Ken Banawa tergetar hebat dan dia merasakan sedikit rasa sakit pada sikunya. Di pihak lain, Ki Cendhala Geni pun kagum pada kekuatan lawannya dan dia sendiri merasakan kejutan pada pangkal lengannya akibat benturan itu. Pertarungan seimbang dengan penuh kejutan yang mengiris hati betapa beberapa gebrakan yang berujung maut itu hanya dilakukan tak kurang dari sekejap mata. Berlumur debu serta peluh bercampur lumpur kering, tubuh Ki Cendhala Geni yang besar dan penuh otot itu kini berdiri berhadapan dengan Ken Banawa, seorang senopati tangguh Majapahit.

“Ki Cendhala Geni, menyerahlah. Tanganmu sudah banyak berlumur dengan dosa dan darah pembunuhan. Majapahit akan memberimu ampunan bila engkau menyerahkan dirimu sekarang!” seru Ken Banawa lantang.

“Omong kosong! Aku tidak pernah membunuh siapapun dalam hidupku tetapi merekalah yang menyerahkan dirinya untuk mati di tanganku,” sahut Ki Cendhala Geni dengan datar. Tidak dalam nafas tersengal-sengal sebagaimana orang yang telah melakukan pekerjaan berat.

“Mereka semua bukan termasuk orang yang bodoh, Ki Cendhala Geni! Ranggawesi dan Ki Lurah Guritno telah menjadi tumbal keganasan dan keserakahanmu. Engkau berpikir bahwa engkau tidak terkalahkan. Bahkan aku mendengar engkau menyatakan diri sebagai penguasa lereng Merapi,” suara Ken Banawa tergetar hebat. Dia mengenang kematian Ranggawesi, seorang prajurit muda  penuh bakat yang bertugas di Sumur Welut. Dia juga membayangkan betapa keluarga Ki Demang kini mengalami penderitaan karena diculiknya Arum Sari oleh Ubandhana yang ternyata merupakan pengikut Ki Cendhala Geni.

Ken Banawa bersiap dengan gerak landasan yang merupakan ciri khasnya untuk bertahan. Tubuh yang direndahkan dengan sedikit menghadap serong ke kanan, posisi siku yang sejajar dan menutup dagunya, pedang Ken Banawa terjulur berada di bagian belakang tangannya dan seolah disembunyikan di belakang punggungnya.

Tinggalkan Balasan