http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

PTB – Merebut Mataram 4

Pada saat Pedukuhan Dawang menghentak dengan semangat untuk mempertahankan tanahnya, di sebuah padepokan yang terletak di sebelah utara kotaraja, Ki Basanta Alit sedang berbicara dengan anak lelaki satu-satunya, Rananta. Sementara para cantrik hilir mudik di sekitar bangunan induk padepokan dengan bermandi sinar matahari pagi yang mulai menghangati permukaan tanah.

“Sebaiknya kau urungkan niatmu untuk memasuki Mataram, setidaknya kau dapat menunda untuk beberapa bulan ke depan. Kau dapat mengirim beberapa orang untuk mengamati keadaan di dalam kotaraja, namun itu tidak berarti kau harus turut serta bersama mereka. Bukankah kau telah mendengar kematian Raden Andum Pamuji? Itu berarti Mataram masih dalam keadaan siaga tinggi,” berkata Ki Gede sambil menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian ia mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah kotaraja yang berada di balik bukit-bukit yang terhampar di hadapannya. Ia menoleh pada Rananta. Lalu ia berkata kemudian,” Ki Tumenggung Sigra Umbara bukanlah orang yang berada di lapisan yang sama denganmu. Ia meniti ilmu setapak demi setapak, dari saat ia belum menjadi siapapun hingga seperti yang tahu saat ini.”

Rananta menghela nafas panjang, sambil menyadarkan punggungnya ia berkata,” Ayah tentu tahu jika Mataram tidak hanya memiliki seorang tumenggung yang berkepandaian tinggi. Akan tetapi aku juga tidak ingin bertindak dengan gegabah. Aku sangat memahami watak Ki Tumenggung karena bagaimanapun aku pernah berguru pada orang yang sama dengannya. Perbedaan besar diantara kami tetap akan memberi warna tersendiri pada hubungan kami selanjutnya. Ia mungkin akan terus mengembangkan diri, dan aku pun belum berhenti untuk menapak hingga titik puncak yang dapat kugapai.” Ia menghentikan kata-katanya dan kemudian menuangkan wedang sereh pada mangkok ayahnya dan untuk dirinya sendiri. Setelah minuman segar itu mengaliri tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering, Rananta melanjutkan kata-katanya,” aku dapat menerima saran dari ayah dengan mengirimkan orang untuk mengamati keadaan di dalam Mataram. Namun aku juga tidak akan melepaskan mereka begitu saja tanpa orang yang dapat menghubungkan padepokan ini dengan Mataram.”

Ki Basanta Alit kemudian berkata,” Keinginanmu merupakan sesuatu yang sangat wajar. Kau tidak ingin ada yang terputus dalam rangkaian rencana yang telah disusun rapi. Aku ingin kau memikirkan kembali tentang kemungkinan yang terjadi jika kau kemudian berada di tangan orang-orang Mataram. Aku tidak meragukan kemampuanmu. Sama sekali tidak! Tetapi setidaknya kau dapat merenungkan bagaimana rencana itu selanjutnya jika kau berada di dalam kekuasaan mereka. Tentu saja kau dapat mengerti jika ayah seorang diri tidak akan mampu merebutmu dari Mataram.”

“Ayah,” kata Rananta kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam. Lanjutnya,” aku telah mengirim orang untuk menemui Ki Tanu Dirga dan Raden Atmandaru. Dan dalam beberapa hari ini mereka akan menempatkan satu atau dua orang yang mempunyai kemampuan yang tidak jauh berbeda dengan kita berdua.”

“Apakah kau telah mengetahui tentang orang-orang yang akan ditempatkan Raden Atmandaru di sini?” bertanya Ki Basanta Alit dengan pandangan tajam.

Rananta menggelengkan kepala. Lalu ia menjawab,” tidak banyak yang aku ketahui tentang mereka. Aku hanya mendengar jika salah satu dari mereka atau mereka semua adalah orang-orang yang dapat keluar dari Tanah Perdikan Menoreh dalam keadaan selamat. Lalu aku bayangkan lapisan ilmu mereka jika berita itu memang benar adanya.”

“Bukan itu maksud pertanyaan Ayah,” kata Ki Basanta Alit kemudian. Ia meneruskan,” maksudku adalah sejauh mana Angger dapat meyakini jika mereka adalah orang yang dapat diserahi kepercayaan? Kita tidak dapat melakukan kerja sama dengan orang yang belum sepenuhnya dapat dipercaya meskipun ia mempunyai kemampuan lebih tinggi dari lapisan-lapisan langit. Dan mengenai kepercayaan ini pun Ayah tidak dapat sepenuhnya bersikap jika Raden Atmandaru mempercayai seseorang lalu aku juga harus mempercayainya. Karena siapapun dapat berubah sikap dan keputusannya jika ia memiliki gejolak yang selalu menyala dan mampu membakar sekitarnya.”

Rananta mengerutkan kening saat menyimak kata-kata ayahnya. Lalu katanya, “Kekhawatiran Ayah adalah hal yang sangat wajar. Mungkin saja kita semua akan binasa di dalam padepokan.”

“Dan itu terjadi ketika kau meninggalkan padepokan.”

Rananta termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Tidak ada kesempatan untuk menunda kegiatan pengamatan ini. Aku juga tidak mungkin meninggalkan padepokan karena kekhawairan ayah juga mempunyai kemungkinan yang kuat untuk terjadi.”

“Lalu apa keputusanmu sekarang?”

Dada Rananta seperti sedang bergemuruh mendapatkan pertanyaan yang sebenarnya ia telah menduga sebelumnya, namun kali ini ia benar-benar tidak mempunyai jawaban yang dapat mewakili gagasan yang mengendap dalam benaknya.

Lelaki bertubuh gemuk itu kemudian menjawab dengan suara bergetar,” Baiklah, aku akan berada dalam padepokan untuk sementara waktu. Setidaknya setelah kedatangan utusan Raden Atmandaru tiba di padepokan,” jawabnya kemudian.

“Pergilah ke Mataram setelah mereka telah beberapa hari berada di sini. Setidaknya kau dapat mengenali watak dan perilaku orang-orang asing yang tiba-tiba datang dalam kehidupan sehari-hari padepokan. Seperti yang aku katakan sebelumnya jika kita tidak dapat mempercayai begitu saja sekalipun mereka adalah utusan Panembahan Hanykrawati sendiri,” Ki Basanta Alit menambahkan.

Rananta mengangguk dalam-dalam dan Ki Basanta Alit dapat merasakan gejolak perasaan anak lelaki yang ia harapkan dapat menjadi penerus di padepokan. Rananta kemudian bangkit dan minta diri pada ayahnya untuk berkeliling di sekitar padepokan. Sepeninggal Rananta, Ki Basanta Alit menarik nafas dalam-dalam, lalu ia bergumam dalam hatinya,”Aku tahu kau sangat ingin memasuki kotaraja dan menggantikan Panembahan Hanyakrawati dengna orang lain. Dan aku juga harus mengerti apabila kau masih sering kesulitan mengurai persoalan datu demi satu hingga semuanya menjadi terang benderang.” KI BasantaAlit kemudian beranjak bangkit dan memanggil beberapa pemimpin kelompok cantrik untuk melakukan latihan-latihan olah kanuragan.

Rananta menghela kudanya menuju sebuah pedukuhan kecil yang berada tidak begitu jauh dari padepokan. Sebenarnya Rananta telah mempunyai kesepakatan dengan Raden Atmandaru untuk membentuk beberapa kelompok yang berada di luar  lingkup padepokan.

“Aku tidak memintamu untuk menyerang Mataram dengan orang-orang yang baru saja kita kumpulkan. Aku hanya ingin memperkuat padepokanmu dengan orang-orang ini sebagai pelapis pertama jika sewaktu-waktu Mataram berusaha merebut padepokan,” berkata Raden Atmandaru pada Rananta dua tiga bulan yang lalu.

“Aku paham tentang rencana Panembahan. Meskipun begitu, aku sendiri tidak akan mengatakan tentang keberadaan orang-orang ini kepada Ayah,” Rananta berkata sambil mengurai cambuknya. Ia meneruskan kata-katanya,” Aku kira dalam waktu yang kita miliki saat ini, kita harus mendorong kemampuan orang-orang itu hingga sejajar dengan kemampuan prajurit Mataram.”

“Rananta, sebenarnya mereka bukan orang yang sama sekali tidak menguasai olah kanuragan. Bahkan aku yakin mereka berada di lapisan yang sama dengan prajurit Mataram. Mereka pernah bertempur bersamaku di lereng barat Merbabu,” kata Raden Atmandaru dengan mata menerawang jauh. Ia bergeser satu dua langkah lalu ia menyambung kata-katanya,” Aku ingat ketika peristiwa itu terjadi. Kami menyergap dua kelompok pasukan Mataram yang hendak kembali ke Mataram. Dan ada beberapa orang diantaranya mempunyai tanda keprajuritan yang berbeda dengan prajurit Mataram pada umumnya.”

Rananta tajam menatap Raden Atmandaru. Ia mengangguk kecil-kecil.

“Sudah barang tentu kau telah menduga apabila tanda keprajuritan itu adalah ciri-ciri dari pasukan khusus Mataram,” berkata Raden Atmandaru selanjutnya. Kembali Rananta menganggukkan kepala.

“Dan peristiwa itu adalah awal keberhasilan kami. Mereka dapat kami lumpuhkan, hanya saja pemimpin pasukan khusus itu dapat meloloskan diri dari kejaran orang-orang kami,” wajah Raden Atmandaru seakan menunjukkan penyesalan karena ia dan pengikutnya gagal mencegah pemimpin pasukan khusus untuk menjauh dari medan pertempuran.

“Mustahil jika Ki Tumenggung Sigra Umbara melarikan diri dari medan!” tukas Rananta.

“Bukan Ki Tumenggung yang saat itu menjadi menjadi pemimpin mereka. Akan tetapi seorang lurah. Aku dapat mengenali tanda kepangkatan dalam keprajuritan Mataram. Dan sudah tentu aku akan pastikan akan menghadapi Ki Tumenggung seandainya ia ada dalam kepungan kami,” Raden Atmandaru berkata dengan suara menahan gejolak dalam dadanya. Ia sedikit merasa tersentuh harga dirinya ketika Rananta seperti memandang sebelah mata ketika nama Ki Sigra Umbara disebutkan.

Raden Atmandaru lalu melanjutkan,” Dan menurutku, mereka adalah kelompok yang sial. Mereka mendapatkan tugas untuk memastikan musuh-musuhnya telah menyeberangi Merbabu, Mataram kehilangan terlalu banyak prajurit untuk sebuah tugas yang sebenarnya tidak perlu mereka lakukan. Dengan kata lain,kematian para prajurit itu merupakan perbuatan yang sia-sia. Sementara dari pihak kami, hanya sedikit yang menderita luka-luka. Penting untuk kau pahami, aku tidak kehilangan seorang pun dalam pertempuran itu.”

Raden Atmandaru sengaja memberi tekanan pada kalimat terakhir yang ia ucapkan karena memang sangat jarang terjadi ada orang yang terhindar dari kematian saat bertempur dengan prajurit Mataram. Rananta sepertinya memahami maksud Raden Atmandaru, ia juga mengetahui apabila para prajurit Mataram mempunyai jejak sejarah panjang dengan berbagai kemenangan.

“Aku dapat melakukan lebih baik dari yang kau perbuat,” gumam Rananta dalam hatinya. Ia kemudian berkata dengan nada datar,” Mungkin saja keadaan yang berbeda dapat menimpa pasukan kita apabila bertemu dengan bagian lain dari susunan prajurit yang ada di Mataram. Mungkin juga pada saat gesekan itu harus terjadi, justru korban yang lebih banyak berada di pihak kita.”

“Semoga itu tidak terjadi, Rananta,” Raden Atmandaru berhenti sejenak. Ia meneruskan,” Mudah-mudahan tidak. Apabila kekalahan itu terjadi pada saat kita memulai benturan dengan Mataram, itu sama saja memberikan arti bahwa kita tidak bekerja. Atau mungkin kita tidak mampu menyusun rencana dengan baik. Dan kemungkinan yang lain adalah kita melakukan dalam waktu yang salah. Karena kekalahan yang pertama akan membawa akibat yang buruk untuk usaha-usaha selanjutnya. Kita akan bekerja dua kali lebih keras lagi. Dalam pandangan orang-orang yang mengikuti kita, kau dan aku akan berada dalam kedudukan yang lemah. Serta mungkin saja mereka akan mengabaikan kemampuan kita, dan jika itu terjadi sebaiknya kita segera melupakan keinginan mengganti Panembahan Hanyakrawati untuk selamanya.”

Rananta mendesah panjang seraya menatap bulan yang tertutup arak-arakan mendung tipis yang melintas di atas Merapi.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *