Reproduksi Zombie Melalui Pendidikan Nasional

Tidak selamanya peningkatan kesejahteraan guru akan berbanding lurus dengan mutu anak didiknya. Alokasi APBD di banyak wilayah secara mayoritas masih diserap untuk kesejahteraan para guru.  Tentu saja alasan itu dapat ditanyakan pada instansi terkait.

Dengan alasan utama dan dalam kewajaran, jika guru masih harus mencari tambahan untuk memenuhi kebutuhan harian ya wajar jika kesejahteraan para guru menjadi perhatian utama. Akan tetapi bukan masalah kesejahteraan para guru yang menjadi masalah. Masalah utama pendidikan bukan terletak pada guru. Benar, jika ada yang berkata bahwa pendidikan adalah tanggung jawab para guru. Dan juga benar jika pendidikan adalah tanggung jawab wali murid.

Dan yang menjadi dasar kedua pendapat itu adalah rendahnya alokasi anggaran untuk pendidikan. Jawa Timur menempatkan pendidikan dengan alokasi hanya 1,7 Persen. Kemudian ada Papua yang memberikan sebesar 1,4 persen dari APBD murni 2016. Sementara amanah konstitusi adalah 20 persen. Dengan angka dahsyat seperlima bagian dari APBD sebenarnya sudah tidak ada alasan untuk memulai proses setiap anak menelusuri bakat dan minat.

Jadi, siapa dan apa yang menjadi rintangan?

Belum ada sudut pandang yang dapat membenarkan perbedaan status guru. Maksudnya guru dengan label PNS/ASN dengan guru swasta. Dalam bahasa konyol, sama-sama mengemban tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa namun berbeda secara label sosial.

Selanjutnya, pilihan ganda. Entah darimana asalnya sehingga pilihan ganda ini mengajari siswa belajar menghitung kancing baju. Penekanan pada hasil/nilai pada akhirnya menjadikan sekolah, guru, dan siswa untuk melaju melawan arus. Mereka mengabaikan proses.

Belajar adalah cara untuk mengerti, memahami kemudian menguasai materi ilmu.

Tentu saja akan menjadi perdebatan seru apabila dalam tingkat SMP, guru hanya dan akan mengisi kelas dengan ilmu HANYA ada pertanyaan saja. Contohnya begini, Pak Guru A memasuki kelas, duduk, lalu bertanya pada siswa siswi,” Ada pertanyaan?

Namun pada pertemuan sebelumnya, Pak Guru A telah memberi kisi-kisi materi yang akan diurai dalam pertemuan selanjutnya. Sehingga Pak Guru akan duduk saja apabila tidak ada pertanyaan yang terlontar.

Mungkin ada protes bagaimana mungkin siswa SMP diminta mandiri dan kreatif? Sederhana jawabnya, kalau mereka mampu berkreasi menerobos setiap level game, tentu saja ruang kreatif lainnya akan segera dipacu. Atau bahasa kasarnya, seusia SMP sudah mengenal pacaran mengapa tidak mampu berpikir lebih rasional?

Jangan ada protes keberatan dengan gaya baru seperti disebut pada paragraf diatas. Termasuk juga bagian keberatan adalah tidak mendengar keluh kesah anak mengenai kesulitan mengikuti materi belajar. Setiap anak dilahirkan dengan bakat yang berbeda. Setiap anak mempunyai keunikan. Seorang anak dapat saja mempunyai kelebihan di bidang melukis, namun akhirnya dia terjerumus karena kebodohan orang tua. Begini, sebagian dari kita masih menempatkan materi sebagai alat ukur bahagia sejahtera. Sebagian dari kita menempatkan nilai ujian sebagai alat ukur kepintaran. Di sisi lain, tanpa sadar kita mendorong anak untuk menjadi zombie.

Komunikasi adalah jalan satu-satunya untuk memperoleh gambaran puncak. Telusuri dan bertanya pada anak. Ikuti dan arahkan. Urusan hasil adalah bagian kecil dari proses. Tentu saja, orang tua atau wali tidak dapat berjalan sendirian. Pemerintah wajib mempunyai jalan keluar tentang bakat dan minat seluruh anak-anak usia sekolah di Indonesia.

Duduk dan ngopi bersama. Musyawarah dengan bijak. Abaikan iming-iming mafia yang berada di balik penerbit buku. Bebas biaya itu bukan yang utama, tetapi bagaimana 20 persen dari anggaran dapat berbanding lurus dengan peningkatan mutu adalah prioritas.

Bangsa ini membutuhkan orang yang berkarakter kuat mengawal amanah rakyat.

 

 

Sumber gambar https://www.123rf.com/stock-photo/brainless.html

Tinggalkan Balasan