Penaklukan Panarukan 6

“Beri ia jalan untuk masuk!” perintah Adipati Hadiwijaya pada prajurit jaga. Langkah lebar prajurit jaga ketika meninggalkan pendapa seakan memberikan kesan tentang wibawa yang melekat dalam diri Adipati Hadiwijaya.

“Apakah kau mempunyai pendapat tentang orang yang bernama Ki Suradilaga, Ki Sambaga?” bertanya Adipati dengan tatap mata selidik.

Ki Rangga Sambaga pelan dan dalam menganggukkan kepala. Dengan penuh rasa hormat, ia mengatakan,”aku mendengarnya sebagai seorang prajurit tangguh yang dimiliki oleh Demak. Beberapa orang bahkan berkata padaku jika Ki Tumenggung Suradilaga adalah salah satu orang kepercayaan Sultan Trenggana.”

“Dan Ayahanda Sultan mengatakan hal yang sama padaku,” gumam Adipati Hadiwijaya perlahan. Ia mengerutkan kening berusaha menduga permasalahan yang mungkin diemban Ki Tumenggung Suradilaga.

“Aku tidak dalam keadaan yang tepat untuk dapat mempercayaimu yang mengaku sebagai seorang tumenggung. Aku memang sering mendengar nama Ki Tumenggung Suradilaga, namun kehadiranmu di Pajang dengan tidak mengenakan tanda-tanda khusus yang hanya dimiliki seorang tumenggung telah membuat kami harus menaruh curiga kepadamu,” kata pemimpin kelompok prajurit jaga pada Ki Tumenggung Suradilaga.

“Aku tidak dapat memaksa kalian untuk percaya dan aku sendiri akan meletakkan senjata jika kalian menghendakinya,” Ki Tumenggung Suradilaga berkata sambil meloloskan sebatang pedang yang tergantung pada pinggangnya dan sebilah tombak pendek yang tergantung di lambung kuda. Ia maju setapak demi setapak menyerahkan senjatanya pada lurah prajurit.

“Aku tidak ingin ada kesalahan, Ki Sanak,” kata lurah prajurit sambil mengangkat tangannya.

Dengan kening berkerut, Ki Suradilaga bertanya,” Apa maksudmu?”

“Aku tidak ingin Kanjeng Adipati mendapat laporan jika seorang tamu atau utusan dari Kanjeng Sultan Demak mendapat perlakuan tidak pantas di Pajang,” kesungguhan menggurat pada wajah lurah prajurit yang memandang tajam kedua senjata Ki Suradilaga.

“Tidak. Kalian telah berbuat sesuai paugeran yang memang seharusnya ditegakkan. Hanya saja aku memang akan mengatakan siapa diriku sesungguhnya di hadapan Kanjeng Adipati,” Ki Tumenggung Suradilaga tetap menyodorkan kedua senjatanya dan sedikit memaksa lurah prajurit agar mau menerima keduanya.

“Baiklah, jika demikian tidak akan ada keberatan diantara kita berdua,” tegas lurah prajurit seraya menerima kedua senjata dari tangan Ki Tumenggung Suradilaga.

Selang beberapa lama, prajurit jaga menyampaikan pesan Adipati Hadwijaya pada lurah prajurit. Ki lurah prajurit membalikkan badan dan melangkah menghampiri Ki Tumengung Suradilaga. Katanya,” Silahkan Ki Tumenggung, aku akan mengantarkan Ki Tumenggung menghadap Kanjeng Adipati. Mari!” Ki Lurah berjalan beriringan dengan Ki Tumenggung Suradilaga.

Keduanya melintasi halaman yang luas dan banyak pohon yang berukuran lumayan besar mengelilingi halaman pendapa kadipaten. Dari kejauhan, Ki Tumenggung Suradilaga telah dapat mengenali Adipati Hadiwijaya yang berdiri kokoh menghadap regol pendapa. Ki Tumenggung kembali meraba kain yang tersampir menyilang di dadanya. Keris Sabuk Inten. Bekal khusus yang diperolehnya dari Sultan Trenggana dan hanya diperbolehkan untuk dikeluarkan dari kain putih yang menjadi pembungkus bila telah berbicara empat mata dengan Adipati Hadiwijaya.

Sesuai paugeran, lurah prajurit itu meminta Ki Tumenggung untuk berhenti di anak tangga terbawah, sementara ia akan menaiki anak tangga pendapa. Namun di saat bersamaan, Adipati Hadiwijaya melambaikan tangan dan meminta keduanya untuk naik bersama-sama.

“Kemarilah kalian berdua. Dan orang itu memang benar seorang tumenggung yang aku kenal baik. Ki Tumenggung Suradilaga,” kata Adipati Hadiwijaya.

Keduanya bergegas menapaki anak tangga dan menghaturkan hormat pada Adipati Hadiwiajaya.

“Kedatanganmu telah mengejutkan aku. Terlebih lagi, Ki Tumenggung datang dalam keadaan yangjauh berbeda dengan biasanya,” kembali Adipati Hadiwijaya berkata setelah menerima sembah hormat kedua orang itu.

Ki Tumenggung Suradilaga mengangguk hormat, lalu katanya,”Kanjeng Adipati, jika aku datang dengan pakaian seorang tumenggung maka itu akan mendatangkan kesulitan bagiku. Karena seperti inilah yang diinginkan oleh Kanjeng Sultan Trenggana.”

Adipati Hadiwijaya agaknya tanggap dengan ungkapan yang tersirat di balik kata-kata Ki Tumenggung Suradilaga.

Ia berkata seraya mengangkat tangan,”Ki Rangga Sambaga dan Ki Lurah, kalian dapat meninggalkan kami berdua. Agaknya Ki Tumenggung ingin menyampaikan kisah padaku tentang seorang pendeta yang mungkin ia jumpai di perjalanan. Silahkan!”

“Kami dengarkan, Kanjeng Adipati,” sahut keduanya lalu meminta diri dari hadapan Adipati Hadiwijaya dan Ki Tumenggung Suradilaga.

“Apakah Ki Tumenggung akan lebih dahulu mengendurkan urat syaraf ataukah Ayahanda mempunyai keinginan yang lain? Tempat bagi Ki Tumenggung telah dipersiapkan sebelum kedatangan Ki Tumenggung duduk di pendapa,” wibawa dan ketegasan Adipati Hadiwijaya jelas terlihat ketika ia mengatakan itu. Meskipun sepintas seperti sebuah basa basi, akan tetapi Ki Tumenggung Suradilaga dapat menangkap maksud yang berbeda dari apa yang ia dengar. Untuk beberapa saat ia berdiam diri. Kemudian perlahan ia menurunkan kain putih yang terselempang di depan dadanya.

“Kanjeng Adipati, kiranya sudi menerima serta memeriksa benda yang ada di dalam kain putih ini,” bergetar suara Ki Tumenggung Suradilaga saat berucap kata-kata. Ia beringsut maju setapak demi setapak menghaturkan benda keramat itu ke hadapan Adipati Hadiwijaya.

Dengan menjulurkan kedua lengannya, Adipati Hadiwijaya menerimanya dari Ki Tumenggung Suradilaga. Agaknya ia telah menduga isi bungkusan kain putih itu,  dengan berhati-hati ia membuka bungkusan itu dan menarik keluar isinya.

“Keris Sabuk Inten!” desis terkejut Adipati Hadiwijaya melihat sebilah keris pusaka yang kini berada dalam genggaman tangan kanannya.  Ia lantas membuat gerakan untuk memberi penghormatan pada piandel pusaka yang telah berusia sangat tua. Keris Sabuk Inten dibuat pada jaman Majapahit terakhir. Ki Tumenggung Suradilaga segera mengikuti setiap gerak penghormatan yang dilakukan oleh Adipati Hadiwijaya. Sejenak kemudian keduanya telah bersikap tenang dalam duduknya.

“Aku harap kau tidak salah mengerti, Ki Tumenggung,” kata Adipati Hadiwijaya kemudian. Ki Tumenggung Suradilaga mengangguk dalam-dalam dan menunggu kelanjutan dari kata-kata Adipati Hadiwijaya.

“Itu semua bukanlah bentuk penyembahan pada sebuah benda mati yang pada dasarnya memang tidak memiliki kehendak dan tidak pula dapat berbuat apa-apa. Gerakan itu memang sepintas akan mirip dengan gerakan menyembah Yang Maha Perkasa, akan tetapi sesungguhnya gerakan yang aku lakukan dan kau ikuti adalah sebuah penghormatan. Aku menghargai kerja keras dari empu yang membuat keris ini, aku menghormati Kanjeng Sunan yang memberikannya sebagai hadiah pada Majapahit. Aku mengingat semua peristiwa yang terjadi di sekitar keris ini berada di masa lalu,” Adipati Hadiwijaya menarik nafas panjang.

Ia melanjutkan kemudian,” Di dalam Keris Sabuk Inten banyak peristiwa yang terjadi, baik berhubungan secara langsung dengan keberadaan keris ini atau tidak langsung. Dengan kata lain, aku menghormati sebuah sejarah panjang dan dalam perjalanan sejarah itu sendiri terkandung nilai-nilai yang luar biasa. Kemudian apabila kita berjalan lebih jauh dan menyelam lebih dalam, kau akan temui kebesaran Yang Maha Perkasa dalam setiap lekuk, setiap guratan dan ukiran keris yang memancar keluar darinya.” Ia mendesah, lalu berkata lagi,” Namun kini setiap orang seperti sudah tidak peduli lagi dengan perjalanan hidupnya.”

Ki Tumenggung Suradilaga menunduk dalam-dalam. Dalam hatinya, ia membenarkan setiap kata yang diucapkan oleh Adipati Hadiwijaya. Namun ia juga mengakui kebodohan yang ada dalam dirinya yang pada mulanya hanya mengira sebilah Keris Sabuk Inten adalah pusaka yang mumpuni dan pilih tanding. Ia mengusap wajahnya dan menyadari jika keris yang melekat pada tubuhnya selama beberapa hari itu sebenarnya mempunyai arti yang lebih besar dibandingkan wujud nyatanya.

“Sebenarnya Keris Sabuk Inten ini dititipkan padamu untuk kau tunjukkan padaku dengan satu pesan khusus dari Ayahanda,” tiba-tiba Adipati Hadiwjaya berkata dengan tegas dan tajam.

“Aku mendengar, Kanjeng Adipati,” sahut Ki Tumenggung.

Adipati Hadiwijaya tidak meneruskan kata-katanya, kini ia memandang lekat Keris Sabuk Inten yang berada di pangkuannya.

“Apakah seperti itu yang menjadi pesan Ayahanda?” ia bertanya pada dirinya sendiri. Untuk waktu yang cukup lama Adipati Hadiwijaya merenungi pesan dari Sultan Trenggana yang ada di setiap bagian keris. Ia mengangkat wajahnya, lalu,” Mungkin aku telah mengerti pesan Ayahanda. Lalu apa yang akan kau katakan padaku?”

Ki Tumenggung Suradilaga mengangkat wajahnya sebentar kemudian ia kembali melihat lantai dibawahnya. Adipati Hadiwijaya agaknya menyadari jika pesan itu sangat penting hingga dapat menyebabkan gejolak bergemuruh dalam hati orang yang duduk di hadapannya. Ia sabar menunggu Ki Tumenggung Suradilaga untuk mengendapkan perasaan.

Tanpa mereka berdua sadari, waktu telah merambat menuju senja. Matahari perlahan-lahan menapak jalan turun di balik punggung bukit-bukit yang terhampar di sebelah barat Pajang. Sementara di regol pendapa juga telah terjadi pergantian prajurit jaga dan para perondan mulai mempersiapkan diri untuk menempuh waktu panjang malam hari.

Kesejahteraan rakyat Pajang telah menjadi perhatian utama Adipati Hadiwijaya. Di musim kemarau yang panjang, mereka masih mempunyai persediaan bahan pangan yang cukup, sementara perangkat kadipaten bahu membahu menjaga aliran air agar tetap dapat melintasi parit-parit yang bertebaran di tlatah Pajang. Adipati Hadiwijaya sendiri tak segan untuk mendatangkan para pande besi yang terampil dari luar Pajang. Mereka dikumpulkan dan mendapat pembinaan untuk menularkan kemampuan mereka pada rakyat Pajang. Lalu hasil kerajinan berbahan besi itu kemudian dapat diperdagangkan dengan wilayah-wilayah sekitar Pajang. Bahkan Adipati Hadiwijaya sering memerintahkan untuk mengirim alat-alat pertanian pada wilayah-wilayah yang membutuhkan tanpa ada kewajiban bagi mereka untuk membeli alat-alat itu.

Di bagian keamanan sendiri, jarang sekali terjadi kejahatan di sekitar Pajang. Para prajurit dengan rutin melakukan perondaan dalam waktu yang tidak teratur. Terkadang mereka berjalan jauh dalam satu kelompok besar dalam satu pekan, terkadang mereka terliht dalam kelompok-kelompok kecil yang bergerak cepat di pekan yang berbeda. Bahkan sering kali mereka membelah kelompok besar dan kecil dan mengitari bagian dalam dan luar Pajang seolah-olah terjadi peperangan. Satu dua gerombolan penjahat pernah mencoba memanfaatkan jeda yang ada,akan tetapi mereka salah menduga. Mereka justru melakukan kejahatan pada saat prajurit Pajang melakukan latihan peperangan di dalam kota.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *