Bara di Borobudur 25.2 – Pertarungan di Lereng Gunung Wilis

“Mungkin saja anak ini masih menyimpan bekal yang tidak dapat aku duga,” Ra Jumantara berguman dalam hatinya.

Pada saat itu lingkaran pertempuran yang lain telah usai. Kini semua mata memandang perang tanding yang terjadi antara Bondan dengan Ra Jumantara. Ki Rangga Ken Banawa diliputi kecemasan karena sejauh ini Bondan belum memperlihatkan kedudukan yang melegakan hatinya. Sementara Ki Swandanu dan Ki Hanggapati masih menebak setiap kemungkinan yang dapat terjadi, meskipun begitu keduanya mengharapkan Bondan dapat melakukan keajaiban.

Nyi Kirana sendiri mempunyai harapan yang sama dengan kedua orang Pajang. Dalam hati kecilnya, Nyi Kirana ingin menjauh dari kebisingan yang pernah ia jalani. Akan tetapi di sisi lain, Nyi Kirana pun berharap Ra Jumantara dapat membebaskan dirinya.

“Aku akan menghabisi Ra Jumantara jika ia dapat mengalahkan anak muda yang tangguh itu. Tetapi sebelum itu terjadi, Ra Jumantara tentu akan berupaya keras memeras tenaga untuk menghabisi orang-orang ini, terutama senapati Majapahit itu,” bisik Nyi Kirana dalam hatinya sambil menatap satu per satu orang  di sekelilingnya dengan tangan terikat erat.

Bondan yang tidak pernah sekalipun menganggap perang tanding sebagai sebuah ujian nampaknya benar-benar mengerahkan segenap kemampuannya. Ia memberikan perlawanan sangat hebat pada Ra Jumantara yang berulang kali harus beringsut mundur karena hempasan serangan Bondan. Selangkah Bondan surut ke belakang, lalu melompat sangat hebat menerjang Ra Jumantara yang terpaksa harus mundur sambil menangkis kedua kaki Bondan yang berkelebat memutar sangat cepat. Dalam keadaan seperti itu, Ra Jumantara berupaya memegang betis Bondan dengan cengkeraman sepenuh tenaga.

Akan tetapi Bondan dapat memutar tubuhnya serta melepaskan satu pukulan secepat kilat menusuk lambung Ra Jumantara. Meskipun pukulan itu tidak mengenai tubuhnya, namun Ra Jumantara dapat merasakan angin panas menggapai kulit yang menghadap lurus pukulan Bondan. Ia melompat surut menjauh dari jangkauan Bondan.

“Kau memang hebat, anak muda! Katakan, siapa gurumu?” suara Ra Jumantara bergetar dengan tenaga inti menghadang gerak laju Bondan.

“Guruku adalah mereka yang mati karena ulah kalian!” Bondan balas membentak dengan suara yang terlambari tenaga inti.

Ra Jumantara tertawa keras. Suaranya telah terlambari oleh aliran tenaga inti. Getaran suaranya membentur dada dan mempercepat jantung berdentang. Jalutama dan Ki Swandanu merasakan sesak di dadanya, mereka sangat kesulitan untuk bernafas sementara suara Ra Jumantara mendenging tinggi di gendang telinga mereka. Keduanya merasakan pada bagian dalam telinga seperti disayat sebilah bambu tipis dan tajam. Sementara Ki Rangga Ken Banawa, Ki Hanggapati dan Nyi Kirana merasakan jika tubuh mereka seperti didorong mundur oleh kekuatan yang sangat besar. Kekuatan ini bahkan dapat mengekang ketiga orang yang akan membentengi diri dari himpitannya.

Ra Jumantara berdiri tegak dengan tajam menatap Bondan. Keduanya kini terpisah dalam jarak kurang dari sepuluh langkah.

Bondan segera dapat menilai keadaan yang terjadi. Ia dapat menilai tataran kekuatan dan ilmu Ra Jumantara yang tidak dapat dibiarkan terlalu lama untuk membenamkan mereka yang tidak terlibat pertarungan. Sementara itu ia sendiri mengalami serangan berupa getaran suara yang lebih hebat karena jarak yang begitu dekat dengan lawannya. Dada Bondan seakan digedor dengan satu pukulan yang hebat saat Ra Jumantara menggandakan tenaga yang disalurkannya melalui suara.

Tangan Bondan bergerak cepat dan ikat kepalanya telah terurai lepas dalam genggamannya. Satu lecutan ia hentakkan menghantam getar suara Ra Jumantara yang bergelombang. Terdengar suara ledakan yang tidak begitu keras akan tetapi orang-orang di sekitar mereka dapat merasakan sedikit kelonggaran. Suara lecutan ikat kepala Bondan ternyata mampu memberi sedikit keleluasaan orang-orang yang tidak terlibat pertarungannya. Dalam waktu yang sangat singkat itu, Bondan berkelebat laksana kilat dan melecutkan ikat kepalanya ke arah Ra Jumantara.

Ra Jumantara cukup sigap menyilangkan tangan kirinya di depan dada, ujung ikat kepala Bondan tepat mematuk lengan kiri lawannya. Lengan Ra Jumantara tergetar hebat dan rasa ngilu segera menjalari tulang hingga ke pangkal bahu. Ia mengamuk hebat karena di luar dugaan sebelumnya, ternyata Bondan sanggup memberikan sakit pada bagian dalam tangannya. Tubuh Ra Jumantara melayang dan melesat deras menerjang Bondan lalu tiba-tiba saja senjatanya telah terhunus dalam genggaman.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *