Jangan Berkata Nasionalis Jika Hatimu Imperialis

Kebangsaan!

Kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. “Konon” beginilah kalimat yang sering didengungkan ke anak, sejak pendidikan dasar sampai menengah. Itu yang masuk di telinga. Dan secara sederhana, kalimat sejenis itu juga diulang oleh beberapa orang yang menyelenggarakan kegiatan Parlemen Remaja atau apapun istilahnya. Kegiatan itu adalah kegiatan resmi dari parlemen.

Sementara, yang terlihat di mata, beda tema. Para pembesar, orang yang merasa besar, mempertontonkan adegan saling hujat, saling caci, obral benci jual kadal. Termasuk disini adalah mereka yang menempatkan diri berseberangan dengan pemerintah.

Oposisi, ya oposisi itu sebenarnya mempunyai tugas yang tak kalah penting dengan pemerintah. Oposisi mempunyai kewajiban untuk mengawasi, mengamati dan mendorong setiap ujung ke ujung kegiatan yang dilakukan pemerintah.

Namun kenyataannya adalah oposisi pada dewasa ini lebih sibuk nyinyir, membuat UU yang bukan prioritas seperti UU MD3. Sibuk kampanye ganti presiden dan sebar sembur mantra basi. Dalam keadaan seperti itulah akhirnya para pembesar dan orang yang merasa besar justru membuat rakyat seperti Dargombes dan Balgeduwal menjadi heran.

Besar dari sisi apanya?

Kebesaran hati?

Mereka, orang yang disebut pembesar, menikmati perlombaan membuang rasa malu dan tanggung jawab. Sebut contoh ya seperti E-KTP, kemudian diikuti OTT oleh KPK terhadap anggota DPR. Lalu ada Bupati Mojokerto si Mustafa Kemal Pasha. Masih ada nama segudang jika disebut satu per satu.

Para pembesar yang menyamar sebagai penyamun eh penyamun yang menyamar sebagai pembesar seringkali membesarkan diri sendiri. Menilai dirinya lebih besar dari seekor kambing. Menilai dirinya lebih garang dari seekor kerbau. Lalu? Tirakat atau membatasi diri untuk kepentingan sendirilah yang jauh lebih besar.

Nyaris 4 tahun ini di panggung politik Indonesia tidak dapat lepas dari nada berisik tanpa arti. Meributkan apa yang selama ini telah mereka nikmati tanpa gangguan. Harga semen dan kebutuhan lain di Papua, Attambua, Toli-toli dan pelosok negeri sudah menembus batas rendah di bumi, lalu terjadilah kebisingan lalat yang kesana kemari mendengung. Subsidi silang diberlakukan, Jawa untuk sementara harus puasa demi kesejahteraan sosial saudaranya di seluruh pelosok. Jawa memang harus puasa!!!!

Yang selama ini ribut dan berisik berteriak minta keadilan adalah mereka yang sekarang ditimpa kemarau panjang. Mereka lupa jika sebelumnya telah mengalami masa subur puluhan tahun. Cari, lihat dan bandingkan apa yang dilakukan Orde Baru selama puluhan tahun di Papua, Tarakan, Mentawai, Sumbawa dan daerah lainnya.

Diplomasi, retorika maupun segala tingkah jauh dari etika. Apalagi estetika. Jaauuuh! Semua tampilan manis yang dikemas beragam kata sopan sama sekali tidak ada unsur pengajaran dan teladan yang baik.

Yang terlihat sejauh mata memandang dan terdengar gendang telinga jauh berseberangan. Kontras. Tidak harmonis. Merusak keseimbangan alam. Jangan salahkan bila Sujiwo Tejo membawa kembali mantra lama yang sangat merasuk, jancuk! Teladan. Sebuah kata dengan makna sarat estetika, nyaris langka di keseharian rakyat jelata.

Indonesia mengajar belum menyentuh bagian-bagian kendali tenaga inti. Kegiatan ini masih sebatas menunjukkan cara baca tulis. Artinya masih harus dilanjutkan dengan pengajaran. Tentang dirinya sendiri. Tentang identitas kebangsaan. Tentang kebhinekaan. Tentang kau dan aku. Tentang kita. Rumah besar kita bernama Nusantara.

Nusantara punya Bandung Bondowoso, tanpa perlu kita ndrewes ngiler dengan Samson dan Hercules.

Romeo Juliet? Kita punya Roro Mendut dan Pronocitro.

Avengers? Kita punya Agung Sedayu, Swandaru Geni, Kiai Gringsing yang tak kalah keren.

Iron Man? Kita punya Wiro Sableng.

The Last Samurai? Kita punya Bara di Borobudur.

Cenayang? Santet, pelet, beguganjang sampai babi ngepet pun ada di bumi nusantara kita.

Nusantara kiblat dunia.

Salah satu bukti adalah, Islam nusantara jadi rujukan ulama sedunia. Candi Borobudur jadi pusat saat Waisak. Hanya segelintir anak ingusan keblinger membawa gagasan asing mendirikan negara agama di bumi Pancasila.

Ndeso! Putin itu pemimpin ideal!”, Dargombes menyambar ucapan seorang penjual sandal. Saat malam makin merangkak larut, si penjual sandal memakai celana ketat, berbalut stoking, tembem pipi berpoles perona wajah. Bersolek dan bersulap dari penjual sandal ke profesi sundal.

Lelaki renta yang dulu bergerilya pertaruhkan nyawa di perang kemerdekaan melihat semua yang terjadi di hening malam sunyi. Berlinang air mata basahi wajah keriputnya.

“Saya mengalami Indonesia mulai presiden pertama sampai sekarang. Baru Presiden Joko Widodo yang membangun Indonesia merata dari desa ke desa. Kalau sistem ini dikerjakan mulai presiden pertama, mungkin indonesia sudah sejajar dengan negara maju. Sayangnya apa yang dikerjakan pada pemerintahan sekarang selalu dicibiri oleh orang elite yang mengaku mewakili rakyat. Padahal, ujung-ujungnya kekuasaan dan uang!”

Dargombes dan Balgeduwal saling pandang. Terlebih ketika bibir lelaki tua itu bergetar nyanyikan lagu kebanggaan dengan suara terbata, ”
Padamu negeri kami berbakti
Bagimu negeri jiwa raga kami….”

Iya. Kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Kalimat ini ternyata bukan jargon omong kosong. Masih ada sebagian orang yang peluk erat NKRI. Siap pertaruhkan selembar nyawa beserta raga keriputnya. Demi Indonesia!

 

Demikianlah. Wassalam.

Tinggalkan Balasan