Ki Cendhala Geni 11.2 – Pertempuran di Rawa-rawa

“Boleh jadi aku akan menyerah dan berhenti membunuh orang yang rela untuk mati, namun itu akan kulakukan bila telah selesai menguliti kulit kepalamu dan menempatkan belulangmu di atas daun pintu. Bukankah engkau harus berterima kasih kepadaku, Ken Banawa? Bahwa engkau akan menjadi ungkapan rasa terima kasih dariku. Sampai jumpa di neraka, setan tua!” Satu bentakan Ki Cendhala Geni sangat menusuk jantung mengiringi terkaman maut yang berada di ujung kapaknya. Kapak yang terseret itu memercikkan kilatan api ketika bersentuhan dengan tanah.

“Sampai jumpa di neraka, Ki Cendhala Geni! Akulah yang membakarmu!” Ken Banawa yang tak kalah garangnya.

Keduanya saling melompat dan menerjang, satu dentang keras benturan senjata dari keduanya beberapa kali menimbulkan percikan api. Kapak Ki Cendhala Geni tiba-tiba berpindah dari kanan ke tangan kiri dan secepat itu pula menebas menyilang dari kanan bawah ke kiri atas sisi pertahanan Ken Banawa. Pengalaman Ken Banawa mampu menutup celah lemah itu, tubuhnya bergeser mengikuti pergerakan kapak. Satu langkah bergerak ke kiri lalu berputar cepat dan ayunan pedangnya kini mengancam bagian tengkuk Ki Cendhala Geni. Ki Cendhala Geni menyurutkan tubuhnya ke bawah dan sambil berguling dia menjauh dari ancaman pedang yang menebar aroma maut. Sejurus kemudian, sekali lagi, kedua orang yang kira-kira berusia sebaya ini kembali terlibat saling serang dengan dahsyat.

Sama sekali tidak ada seorang yang menyangka bahwa bentakan Ki Cendhala Geni sanggup merobohkan satu orang dari Kalayudha, kesatuan prajurit yang dipimpin Laksa Jaya. Orang ini seketika seperti terpaku dalam berdirinya ketika auman Ki Cendhala Geni memasuki rongga telinganya. Hal ini tidak dibuang percuma oleh laskar Majapahit yang menjadi lawannya. Tusukan tombak pendeknya menembus dada laskar Laksa Jaya.

Arum Sari yang mengamati pertarungan yang terbagi dalam beberapa lingkaran kecil mulai merasakan penat di matanya. Kecepatan setiap orang dan dentang senjata yang beradu telah melelahkan jiwanya. Segera memejamkan matanya sambil mengingat siapa sosok Patraman dan Laksa Jaya. Benaknya segera melayang ke beberapa purnama yang telah lewat. Diingatnya bahwa Patraman adalah orang Tumapel yang dikirim oleh Adipati Singasari untuk membantu ayahnya dalam mengamankan Wringin Anom dari gangguan para penyamun. Dalam beberapa perjumpaan dengan Patraman, dirinya mendapatkan kesan bahwa pemuda Tumapel ini adalah seorang anak muda yang ambisius dan berwatak keras. Dirinya mendengarkan itu dari percakapan beberapa prajurit yang sedang bertugas di kaputren. Terlebih lagi ketika dia mengenang betapa Patraman melakukan protes titah Sri Jayanegara ketika sang baginda menunjuk Ki Demang sebagai orang tertinggi yang mempunyai wewenang memutuskan segala hal di Wringin Anom. Saat itu Patraman berbicara sambil menunjuk ke arah wajah Ki Demang dalam sebuah sidang di pendapa kademangan.

Menurut Arum Sari, sikap Patraman sama sekali tidak mencerminkan nilai-nlai seorang prajurit, baik itu seorang senopati maupun perwira. Apalagi jika dibandingkan dengan tata moral dan keluhuran yang selama ini telah mereka junjung tinggi. Saat itu dengan kata-kata kasar dan bernada menghina, Patraman benar-benar meremehkan kemampuan Ki Demang yang merupakan pemimpin tertinggi di Kademang Wringin Anom. Namun sejauh itu Arum Sari masih belum mengerti alasan penculikan itu.

Sementara itu di dekat rawa-rawa, Gumilang Prakoso yang bertarung melawan Patraman dan Laksa Jaya benar-benar menunjukkan kemampuan dirinya dalam batas tertinggi. Gendewa yang tadinya tergenggam di tangan kiri secara cepat tergantung di punggungnya tanpa mengurangi daya serang. Sebagai gantinya kini Gumilang memegang sebuah belati sepanjang lengan orang dewasa. Belati pendek itu dengan ganas mematuk-matuk setiap pergelangan tangan lawannya yang mencoba mendekat, sedang pedang Gumilang menggedor pertahanan kedua lawannya tiada henti. Keadaan yang belum begitu terang dengan cahaya matahari rupanya tidak mengurangi Gumilang mencecar Laksa Jaya. Laksa Jaya merupakan orang terlemah jika dibandingkan dengan Patraman, menurut pengamatan Gumilang. Oleh karenanya Gumilang menjadikan Laksa Jaya sebagai tujuan utama dan yang pertama dilumpuhkan. Dia melepaskan Patraman dan tidak memperdulikan serangan Patraman. Meski begitu, usaha Patraman untuk mengalihkan perhatian Gumilang tetap percuma karena putaran pedang Gumilang telah membungkus rapat dirinya ditambah belati yang sering secara tiba-tiba mematuk dirinya ketika berada di belakang Gumilang.

Tusukan pedang berhulu kepala rajawali berhasil ditepis Laksa Laya, namun dengan cepat Gumilang memutar pedang dan hendak membelah kepala Laksa Jaya. Cepat-cepat Laksa Jaya menempatkan pedangnya diatas kepala dengan ditahan kedua tangannya. Namun tenaganya tak mampu membendung Gumilang hingga akhirnya Laksa Jaya jatuh berlutut karena kerasnya hantaman Gumilang.

Tinggalkan Balasan