Tegalrejo – 1

Bunyi kentongan yang dapat didengar hingga lahan persawahan memberi tanda khusus pada mereka yang sedang bekerja. Dua kelompok petani bergegas berlarian menyusur pematang saat mereka melihat kepulan debu membumbung tinggi. Sekejap kemudian mereka bertelungkup dibalik rimbun tanaman perdu dengan bermacam senjata telah berada dalam genggaman. Rombongan orang berkuda itu agaknya melaju dengan cepat lalu tiba-tiba berhenti di dekat persembunyian para petani.

“Matahari belum terlalu tinggi dan mereka seperti pergi begitu saja?” kata orang yang berada di depan.

“Apakah kita akan kembali ke markas, Kumendan?” tanya seorang tamtama yang berada sedikit di belakangnya.

Orang yang berpangkat Letnan Muda dan bernama Garumerta lantas menjawab,”Tidak! Kita lanjutkan pengawasan ini hingga matahari jatuh sedikit ke barat. Kita berhenti di rumah kepala desa dan ia harus bertanggung jawab mengenai keadaan itu.” Ia lantas menunjuk pada bagian sawah yang baru saja ditinggalkan dua kelompok petani.

“Terkutuk!” geram seorang petani yang mendengar jelas percakapan itu. Ia benar-benar merasa marah karena orang yang bernama Garumerta adalah kawan di masa kecilnya. Dan sekarang ia menjadi serdadu Belanda namun juga mengumpulkan pajak untuk kepentingan kelompoknya sendiri.

Ia mengerling pada petani yang memegang bambu runcing dan berada di sebelah kirinya. Akan tetapi orang itu menyuruhnya untuk diam.

“Kita tidak akan mendapatkan apapun bila hari ini dengan tangan hampa kembali ke markas. Kapitan Van Dermock pasti akan menghukum kita semua,” berkata Letnan Garumerta kemudian. Sebuah aba-aba ia serukan dan pasukan berkuda yang berjumlah delapan orang itu menghentak lambung kuda dengan tumit masing-masing.

Tiba-tiba terdengar teriakan yang bersahutan. Orang yang memegang bambu runcing itu mendadak melontarkan senjatanya ke arah Letnan Garumerta. Ujung bambu runcing itu menggapai bagian atas Letnan Garumerta yang kemudian terjatuh dari kuda. Dalam sekejap belasan orang berkelebat cepat keluar dari persembunyian dan menyerang pasukan Letnan Garumerta.

“Jangan bunuh mereka!” seru orang yang tadi melempar bambu runcing.

Meskipun pasukan berkuda itu mempunyai senjata yang lebih baik, namun kecepatan para petani saat menyergap dan ketangkasan mereka menggunakan senjata telah menjepit pasukan Letnan Garumerta. Pertempuran yang tidak seimbang itu berakhir dengan cepat. Delapan orang tentara Belanda dalam waktu singkat telah roboh dengan luka parah.

“Kita bertemu kembali Garumerta,” seseorang berujar sambil duduk berjongkok di samping Garumerta yang telentang tak berdaya. Terdengar kemudian orang itu berkata lagi,”Aku menyangka kau akan menjadi serdadu yang dapat menjadi kebanggan kami dengan membantu kawan-kawanmu untuk memegang senjata. Namun yang kami lihat padamu adalah sebuah perubahan yang memalukan. Kau telah bekerja untuk orang berkulit pucat dan kau rela menjadi pesuruh mereka untuk mengambil hasil kerja kami dengan paksa.”

Garumerta memalingkan wajahnya dan merah padam terlihat pada wajahnya saat orang itu selesai berkata-kata.

“Aku dapat saja dengan mudah membunuhmu. Begitu pula kawan-kawanmu di masa lalu yang banyak hadir di tempat ini. Kau lihat mereka?” orang itu bertanya sambil menunjuk ke arah para petani yang rata-rata masih seusia Garumerta. Kemudian ia melanjutkan,”Mereka bekerja untuk menghidupi keluarganya, sementara kau bekerja untuk menghidupi orang yang menindas keluargamu. Apakah memang seperti itukah pengajaran yang kau terima dari mereka?”

Garumerta tidak membalas kata-kata petani itu, ia hanya memejamkan mata. Perasaan Garumerta seperti disayat dan hatinya teriris pedih saat teringat keluarganya yang sedang mengalami masa-masa sulit saat itu. Ia mengerti sepenuhnya jika keluarganya sekarang ini hidup dalam tanggungan Ki Jayaprawira.

“Aku tidak mempunyai pilihan lagi,”  Garumerta berkata dalam hati.

“Apakah kita akan meninggalkan mereka disini, Ki Jayaprawira?” bertanya seorang lainnya dengan sorot mata lurus menatap orang yang melempar bambu runcing.

“Tidak! Kita akan bawa mereka dengan kuda-kuda itu dan kita tinggalkan mereka semua beberapa tombak dari barak mereka,” jawab Ki Jayaprawira. Beberapa orang segera menaikkan serdadu-serdadu Belanda ke atas kuda. Tidak berapa lama mereka menuntun kuda-kuda itu menuju barak serdadu melewati jalan setapak diantara hutan-hutan di wilayah itu.

Menjelang senja mereka baru kembali ke tempat pertempuran setelah melaksanakan pesan Ki Jayaprawira.

“Mungkin mereka akan menyerang desa kita, Ki Jayaprawira. Dan itu bisa terjadi esok pagi,” kata salah seorang yang baru kembali dari barak.

“Malam ini kita buat persiapan untuk menyambut kedatangan mereka. Meskipun aku sendiri menyangsikan keberanian mereka,” sahut Ki Jayaprawira.

Beberapa orang mendengarnya dengan kerut di kening. Lalu,”Bagaimana Ki Jayaprawira yakin tentang hal itu?” tanya salah seorang dari para petani.

“Karena kemarin telah terjadi penyergapan yang serupa dengan apa yang baru saja kita lakukan. Dusun Simpar,” jawab Ki Jayaprawira lalu menarik nafas panjang. Lantas ia membuka bibirnya dan berkata lagi,”Kemudian aku memperkirakan jika hari ini akan lewat sekelompok serdadu yang akan mengambil pajak seperti biasanya. Maka dari itu, aku mengumpulkan kalian di gardu induk dan menyampaikan rencanaku. Lalu kalian semua setuju.”

“Jadi Ki Jayaprawira mencoba untuk memecah kekuatan mereka agar tidak menyerang Dusun Simpar?”

Ki Jayaprawira menganggukkan kepala. Ia adalah orang mengatur siasat penyergapan. Ia menempatkan empat anak muda bertugas sebagai pengamat pada kedua ujung jalan. Dua diantara anak muda itulah yang memukul kentongan sambung menyambung dengan sekali ketukan. Hingga kemudian dua kelompok yang dipimpinnya dapat menyembunyikan diri beberapa saat sebelum pasukan Letnan Garumerta tiba di lingkungan mereka.

Dan seperti itulah yang sudah mulai terjadi di lereng Merapi lalu lambat laun menjalar hingga perbukitan Menoreh dan lereng Wilis. Meskipun penyergapan terhadap serdadu Belanda jarang terjadi, akan tetapi keberanian para petani telah menembus dinding Kraton Mataram. Keberanian mereka melakukan perlawanan dalam kelompok-kelompok kecil dan terpisah telah meresahkan pihak Belanda. Meskipun guncangan itu terasa kecil akan tetapi lambat laun mulai menjadi sebab bagi Belanda untuk menambah orang dalam tiap regu yang melakukan perondaan.

Peristiwa di Matesih adalah penyergapan terakhir yang dilakukan oleh para petani. Upaya Ki Gede Karangpandan untuk meredam gejolak perlawanan agaknya tidak menjadi sia-sia.

“Aku akan menemui Ndara Pangeran dan akan bicara dengannya mengenai penyergapan ini, Ki Jayaprawira. Lalu aku minta Ki Jayaprawira dapat menahan tangan semua orang selama aku tidak berada di Karangpandan,” kata Ki Gede beberapa hari setelah penyergapan.

Ki Jayaprawira rapat mengatupkan bibirnya, sementara rahangnya terlihat mengeras menahan pusaran perasaan yang berkecamuk dalam dadanya. Akan tetapi ia menghormati Ki Gede Karangpandan sebagai seorang pemimpin dengan jiwa satria. Sejenak kemudian ia menganggukkan kepala dan berkata,”Baiklah Ki Gede. Aku dan kawan-kawan kita yang lain akan berdiam diri sampai kepulangan Ki Gede. Kami semua akan berusaha menghindarkan benturan-benturan kecil atau mungkin kami tidak  melakukan apa-apa.”

Beberapa pangeran agaknya dapat membaca perkembangan yang terjadi dan mereka turut menjadi gelisah. Salah satu diantaranya adalah Pangeran Mangkubumi.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".