Bara di Borobudur 26.1 – Pertarungan di Lereng Gunung Wilis

Keris yang mempunyai lekuk lima itu segera menebar maut di sekitar Bondan. Angin panas memancar keluar dari bilah senjata itu dan mengepung Bondan dari segala penjuru.

Meskipun Bondan masih berusia muda, namun ia dapat mengimbangi kekuatan ilmu dan pengalaman Ra Jumantara. Ia pun telah menarik kerisnya yang berlekuk tujuh dari balik ikat pinggangnya, kini dalam kedua tangan Bondan telah tergenggam senjata yang berbeda watak dan jenisnya. Sekejap kemudian keduanya kembali terlibat dalam pertarungan yang seru dalam lingkaran angina panas yang mulai membara. Keris Ra Jumantara mengumbar warna merah membara sementara keris di tangan Bondan mengeluarkan sinar berwarna hijau terbungkus dalam prahara Ra Jumantara. Keadaan sekitar mereka kini menjadi terang bermandikan cahaya yang keluar dari dua bilah keris Bondan dan Ra Jumantara.

Peluh telah membasahi kulit keduanya dan mengalir dari lubang keringat mulai mengering karena angin panas yang keluar saat pengerahan tenaga inti mulai memuncak. Keduanya mulai merambah ke lapisan puncak pada segenap kemampuan yang ada dalam diri mereka.

Orang-orang yang melihat pertarungan itu menahan nafas dan nyaris tidak percaya pada kemampuan keduanya yang bertarung mati-matian. Nyi Kirana sama sekali tidak menduga usaha dan semangat Bondan ternyata memberi bukti jika anak muda itu benar-benar hampir sebanding dengan Ra Jumantara. Di dekatnya berdiri Jalutama yang kagum dan bangga terhadap anak muda yang baru dikenalnya beberapa saat yang lalu.

“Keduanya mempunyai tataran yang seimbang dan luar biasa,” desis Nyi Kirana yang ternyata terdengar oleh Ki Rangga Ken Banawa.

“Seumur hidupku baru pertama kali aku melihat orang begini muda telah mampu menempatkan diri pada jajaran olah kanuragan di lapisan teratas,” sahut Ken Banawa. Kemudian Ki Rangga berkata lagi,”Dan baru pertama kali ini pula aku melihat Bondan bertempur dengan lambaran tenaga inti yang sebelumnya hanya sesekali ia keluarkan.”

“Bila saja aku masih hidup saat kalian dapat tiba di Pajang,” Nyi Kirana tidak meneruskan kata-katanya. Mata Nyi Kirana menjadi basah dan ternyata kekerasan hatinya ketika ia melihat keadaan yang tersembunyi di balik pertarungan di hadapannya. Memang sebenarnya perasaan Nyi Kirana sedang dijalari gejolak yang ia sendiri sedang berusaha mengenali arti gejolak itu, akan tetapi agaknya pengenalannya tidak dapat mencapai hasil baik karena perhatiannya lebih tersita untuk Ra Jumantara dan Bondan yang sedang bertarung.

Ki Rangga melihat Nyi Kirana saat perempuan itu berhenti berkata-kata. Kata Ki Rangga,”Katakanlah, Nyi! Mungkin saja di sisa penghabisan umurku, aku dapat membantumu.”

“Tidak, Ki Rangga. Itu bukan apa-apa,” sahut Nyi Kirana.

Ra Jumantara melampiaskan amarahnya dengan memutar keris disertai lambaran tenaga inti tingkat tinggi pun merasa heran dengan kekuatan Bondan.

“Baru kali ini aku berkelahi dengan senjata yang dialiri tenaga inti hingga terasa membara,” gumam Ra Jumantara dalam hati.  Akan tetapi Ra Jumantara adalah orang yang semakin berusaha keras jika menemui hambatan berat. Sementara ia sendiri mempunyai kedudukan khusus di Padepokan Panca Dawal sebagai orang kepercayaan Mpu Jagatmaya. Kemampuan sangat tinggi yang dimilikinya telah menyebar rasa jerih bagi prajurit Majapahit yang berada di lereng Tapak Ngliman.

Maka dengan begitu, ia mencoba melakukan penilaian dari segala kelebihan dan kekurangan Bondan. Di sela-sela pertarungan itu tiba-tiba ia berkata,”Anak muda! Apakah mempunyai hubungan ilmu dengan jalur Resi Gajahyana?”

Bondan tersentak kaget dengan pertanyaan lawannya. Namun ia memilih diam dan berusaha mengimbangi kecepatan gerak Ra Jumantara yang luar biasa.

“Kau tidak dapat lagi kabur dari mataku, anak muda. Kau sangat mahir dan tangguh dengan keris dan ikat kepala yang kau jadikan senjata. Hanya segelintir orang di Majapahit yang mampu menggerakkan kedua tangannya dengan senjata secara bersamaan dan berimbang,” kata Ra Jumantara lalu melompat panjang ke belakang. Sambil membenahi nafas dan menata kembali saluran tenaganya, Ra Jumantara kembali berkata,”Di kotaraja hanya satu orang yang dapat berbuat seperti yang kau lakukan saat ini.” Warna kembali berpendar dari senjatanya yang ampuh dan ganas, udara panas segera dirasakan oleh orang-orang di sekitar lingkar pertarungan Bondan dan Ra Jumantara.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *