Mulut Kotor, Otak Kolor di Tengah Teror

Ternyata negara ini juga menyimpan sekumpulan spesies yang bermulut kotor, berotak kolor yang muncul di tengah teror.

Entah apa yang sedang dipikirkan oleh seorang yang kita tahu siapa dia. Narasi negatif dengan kepekatan racun tikus telah diluncurkan untuk melempar tanggung jawab.

Sebagai seorang yang katanya mewakili banyak orang seharusnya ia dapat melihat jidatnya sendiri. Dengan lemah karena penuh lemak di tubuhnya, ia seperti enggan mendorong pembahasan RUU Teroris agar lebih cepat. Dia juga tidak mampu menggunakan wewenang untuk menekan Pemerintah RI agar mengeluarkan Perppu Teroris.

Kemudian di seberang sungai, entah apa yang menjadi pertimbangan media massa. Karena sudah jelas setiap kalimatnya tidak bermanfaat tetapi selalu menjadi narasumber. Sedangkan pers atau media wajib hukumnya menjaga keharmonisan dalam hidup bernegara dan berbangsa. Artinya adalah selama media masih menjadikan kalimat-kalimat kotor sebagai sumber berita itu artinya media turut serta membuat disharmonisasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Apakah ada kaitan kejadian teror ini kelambatan Legislator?

Sebuah pertanyaan yang sangat keren di saat ada kita tahu siapa dia menyudutkan pemerintah. Sebenarnya dalam politik, publik atau masyarakat harus dan wajib mengetahui sebab-sebab yang menjadikan RUU Teroris menjadi RUU Kolor. Mungkin saja orang-orang yang terlibat dalam pembahasan RUU Teroris ini merasa aman dan nyaman dari serangan teror. Dugaan buruk ini timbul karena semakin lambat ditetapkan, semakin banyak korban berjatuhan. Akan tetapi boleh jadi para anggota pembahasan RUU Teroris lebih suka menunggu korban jatuh.

Dargombes menoleh ke arah Balgeduwal, ia bertanya,”Apakah otak kotor itu sedang berusaha menarik perhatian para teroris?”

Balgeduwal menggelengkan kepala, jawabnya,”Aku tidak tahu. Aku rasa juga tidak mungkin para empunya otak kotor itu menyodorkan keluarganya sebagai tumbal.”

Dargamobes diam termangu-mangu. Terlintas dalam pikirannya sebuah pertamyaan lanjutan. Namun Dargombes masih dapat menahan diri. Tiba-tiba ia teringat tulisan yang terukir halus pada sebuah daun pisang. Pelan bersuara ia mendesah mengulang tulisan yang terbaca olehnya :

1. Ada orang yang menempatkan hukum atau peraturan sebagai pemimpin tertinggi.

2. Ada orang yang menempatkan perutnya ke bawah sebagai panglima yang mulia.

3. Ada orang yang otaknya berada dalam kendali orang lain. Ia hanya dapat berkata Ya dan Tidak pada majikannya.

4. Ada orang yang berpikir dengan bagian terbawah. Ia bersikap patuh di pagi hari dan membangkang saat senja merebak di bumi.

Dargombes mengibaskan celana batiknya lalu katanya,”Bal, mungkin para pengusung kabar berita, mungkin para pujangga, mungkin para penggerak pena. Ada yang menempati salah satu dari empat kedudukan yang ditulis diatas daun pisang.”

Balgeduwal menghisap udara hingga dadanya terasa sesak. Lantas ia berucap,”Mungkin juga ada punggawa gedung yang berada diantara empat sifat itu. Kita tidak pernah tahu satu per satu isi hati orang.”

Sementara di puncak langit, rembulan mulai tertutup matahari. Gerhana bulan perlahan menyingsing.

Tiba-tiba muncul didepan mereka berdua. Sekepulan asap yang berwujud seperti uang. Wujud aneh itu kemudian bersuara,”Bukan demit dan bukan siluman. Bukan hantu dan bukan kendaraan. Jawab pertanyaan, atas kepentingan siapakah sehingga aku terlihat nyata bagimu?”

Kedua orang itu tampak berpikir keras. Muka mereka menjadi tegang. Bu lurah, ki jagabaya, ki rangga, adipati, sopir delman online dan nyaris setiap jenis pekerjaan melintas dalam otak keduanya.

Seperti sama-sama tahu jawabannya, Dargombes dan  Balgeduwal menjawab berbarengan,”Bedheeeeeees (monyet) !”

 

 

Demikianlah. Wassalam

 

 

Tinggalkan Balasan