Ki Cendhala Geni 11.3 – Pertempuran di Rawa-rawa

Patraman yang sedang tidak dalam keadaan terdesak mencoba mengamati sosok penyerangnya itu. Dalam keremangan dia mencoba mengingat karena dia merasa seperti mengenal sosok penyerangnya. Perhatiannya tertuju pada baju yang dipakai oleh Gumilang karena ada beberapa ciri yang sudah dikenalinya. Selain itu gerak olah kanuragan Gumilang juga ada dikenali olehnya meskipun hanya sejumlah kecil.

Berdesir hati Patraman dan sedikit dia berharap agar apa yang dia pikirkan tidak pernah terjadi. Pikirannya segera melayang ke belasan tahun silam. Masa-masa dimana hampir semua anak muda para petinggi mendalami ilmu keprajuritan dan olah kanuragan. Kini dia menjadi salah satu pemimpin di Wringin Anom dan dia cukup baik mengenali ciri-ciri pakaian yang dikenakan Gumilang. Hatinya berdesir dan jantungnya berdentang lebih keras karena tanda khusus yang memang hanya dia kenali. Sebuah kenangan bahwa dahulu di masa latihan itu ada seorang anak muda yang mahir menggunakan berbagai macam senjata. Memainkan busur laksana pedang dan belati yang terkadang seperti bergerak laksana patukan ular. Keraguan dan kecemasan kini merayap dalam dada Patraman.

Tatkala ia melihat Laksa Jaya dalam keadaan terdesak, Patraman menerjang Gumilang dari samping kiri. Mata pedangnya seolah mempunyai mata dan begitu cepat hingga seperti puluhan mata pedang sedang memburu Gumilang. Sedikit bergeser ke belakang, Gumilang berhasil menghindari serangan Patraman kemudian dia membelokkan ujung pedangnya ke lambung Patraman. Serangan yang tidak disangka-sangka ini memaksa Patraman untuk surut ke belakang.

Kedudukan yang sedikit berubah itu dimanfaatkan  Gumilang segera mengalihkan serangannya ke Laksa Jaya yang baru saja berdiri dan menata ulang gerakannya. Sekejap kemudian Laksa Jaya sudah terdesak hebat. Gulungan pedang Gumilang diselingi sabetan pendek belatinya menjadi sebab keringat dingin mulai membasahi Laksa Jaya. Kedua senjata ini mengepung dari berbagai penjuru dan tidak ada ruang baginya untuk menyelamatkan diri kecuali berharap bantuan Patraman. Kepanikan kini melanda hatinya, Gumilang secara tiba-tiba merubah alur serangannya. Dengan berjalan jongkok secara cepat, belati Gumilang mengejar sepasang kakinya. Di tengah kesibukannya menghindari belati, pedang Gumilang pun tak kalah gesit menyambar bagian atas tubuhnya. Patraman tercekat melihat pemandangan yang terjadi di depan matanya namun dirinya hanya berputar-putar untuk mencari titik lemah Gumilang. Sabetan pedang Gumilang berhasil dielakkan Laksa Jaya namun kakinya terlambat menghindari dari belati yang mematuk sangat cepat.

Betis Laksa Jaya menganga lebar. Darah segera tersembur keluar menggenangi kain yang membalut kakinya. Belum sampai sekejap mata, Gumilang mengarahkan ujung pedangnya ke leher Laksa Jaya. Sekelebat pedang berhasil membelokkan ujung pedang Gumilang. Pedang yang bergagang keemasan ini segera melanda Gumilang seperti terjangan badai yang menghantam tebing. Demi menjaga jarak dan mengamati lawan barunya, Gumilang melompat jungkir balik ke belakang. Langkah surut Gumilang ini membawa perang tanding diantara pemuda ini semakin dekat dan berjarak hanya dua tombak dari kereta tempat Arum Sari disekap. Gumilang cepat berpikir bahwa dengan lumpuhnya Laksa Jaya justru akan dapat membawa petaka baru. Karena dia tahu jika lawan yang masih segar ini sedikit lebih tinggi dari Laksa Jaya. Dia bermaksud membawa perang tanding ini lebih dekat dengan Arum Sari agar dia sendiri lebih mudah mengamati situasi yang terjadi di sekitar Arum Sari.

Tatap mata tajam Gumilang segera mengenali siapa yang memegang pedang bergagang keemasan.

“Engkaukah itu Patraman?”

“Benar. Bukankah engkau adalah Gumilang Prakoso? Seorang bintara muda yang banyak digandrungi oleh para gadis di Tumapel? Sungguh sial karena wajahmu akan tersayat dan kulitmu akan teriris tipis oleh pedang ini!”

“Tidak! Tidak! Aku tak takut bualanmu, aku hanya heran mengapa engkau terlibat dalam urusan ini? Sungguh tidak ada kepantasan bagi seorang putra Demang Tumapel berada dalam urusan perempuan! Apakah engkau sudah bertelinga kerbau, Patraman? Apakah engkau sudah tidak peduli dengan kehormatan yang dibangun oleh ayahmu?” Engkau sungguh-sungguh telah gila, Patraman!”

Sebaris pertanyaan yang tidak perlu dijawab oleh Patraman namun sangat menusuk hatinya. Merah merona karena marah dan malu kini memenuhi setiap garis urat wajah Patraman. Perkembangan dari apa yang telah dia rencanakan sekarang menuju kondisi yang sulit untuk diperkirakan. Situasi yang terjadi di rawa-rawa ini mulai berkembang menjadi sebuah kerugian bagi dirinya.

“Gumilang! Hanya setan yang percaya dengan wibawa. Dan hanya setan pula yang peduli dengan kehormatan. Keduanya adalah omong kosong, sama halnya dengan wujud setan itu sendiri!”

“Kini engkau pun menyalahkan setan? Mengapa tidak engkau akui saja bahwa sebenarnya setan adalah dirimu? Hal itu akan memudahkan bagiku mengakhiri hidupmu,” derai tawa Gumilang terdengar seperti bisa ular yang melumuri jantung Patraman. Sebuah penghinaan yang luar biasa kini dia peroleh dari seorang bintara muda yang pernah menjalani latihan di Dharma Arendra.

Ibhakara yang kemudian memasuki Kahuripan segera mengambil arah menuju kepatihan untuk menemui Ki Cendhala Geni. Karena ia membawa lencana khusus yang dibuat oleh Ki Cendhala Geni maka tanpa kesulitan ia dapat menembus penjagaan para pengawal kepatihan. Sebenarnya Ki Cendhala Geni sedang tidak ingin menerima satu orang pun saat itu, akan tetapi seorang pengawal berkata,”Ki Patih, mungkin saja orang ini dapat membawa berita yang mendahului kedatangan prajurit kotaraja datang kemari.” Ki Cendhala Geni menatap tajam pada pengawal itu sambil mendengus.

“Siapakah nama orang itu?”

“Dia mengaku sebagai Ibhakara, sebuah lencana kepatihan telah ia tunjukkan padaku.”

Tinggalkan Balasan