http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

PTB – Merebut Mataram 5

Rananta berhenti sekitar belasan tombak dari regol pedukuhan. Ia melihat dua tiga orang sedang duduk di gardu jaga. Sementara yang lain nampak berdiri menghadap bulak pendek seperti sedang menunggu sesuatu. Ia melompat turun dari kuda dan menata perasaannya yang sedikit bergejolak. Setelah kendali perasaannya telah seimbang, ia menyusup diantara rerimbunan semak. Kuda yang ia tambatkan tidak begitu jauh seolah mengerti bila Rananta menginginkannya untuk diam. Dalam pada itu Rananta telah mencapai kedudukan yang memberinya keuntungan untuk melakukan pengawasan terhadap orang-orang di sekitar regol.

Hutan yang sedikit lebat memberi bantuan pada Rananta untuk bergeser lebih dekat. Segera ia memusatkan budi dan rasa agar pendengarannya dapat menjangkau orang-orang yang berada di bulak pendek.

“Aku tidak melihat apapun,” kata orang bertubuh gempal dan mengenakan pakaian terbuka sehingga dadanya terlihat.

“Mungkin ia bergerak terlalu cepat sehingga lebih dahulu lenyap sebelum suara nyaring itu menghilang,” sahut seorang kawannya dengan rambut terpilin.

Orang bertubuh gempal memandangnya heran, lalu bertanya,”Suara nyaring atau tangis bayi?”

“Aku tidak begitu jelas mendengarnya. Bukankah kita sama-sama terkejut saat mendengar suara aneh itu?” orang rambut terpilin bertanya balik.

Rananta yang mendengar jelas percakapan itu kemudian turut mengarahkan pandangan pada arah yang yang sama dengan pengawal pedukuhan. Kemampuan kanuragan Rananta yang jelas lebih tinggi dari pengawal pedukuhan segera dapat melihat sebuah bayangan yang berkeleba sangat cepat diantara pohon dan tanaman perdu. Meskipun begitu Rananta tidak mengenal sosok bayangan yang terkadang lenyap seolah ditelan bumi.

“Mungkinkah mereka adalah orang yang dimaksudkan oleh Raden Atmandaru?” ia mendesis dalam hatinya.

Untuk waktu yang cukup lama, bayangan itu tidak nampak bergerak lagi di mata Rananta.

“Mengapa ia tidak berpindah tempat?” dahi Rananta berkerut. Akan tetapi Rananta memutuskan untuk tidak mendekati bayangan itu. Dilihat olehnya para peronda yang mengawasi bulak pendek telah berjalan menuju gardu jaga. Mereka yang berada di dalam gardu juga mendengar suara aneh dan akhirnya suara aneh itu menjadi pembicaraan diantara mereka saat itu.

Rananta telah kembali duduk diatas punggung kuda dan menghentak pelan menuju pedukuhan. Orang-orang yang berada di sekitar gardu segera mendengar derap kuda, sessat kemudian mereka melihat debu mengepul tipis dari kaki-kaki kuda. Dua tiga orang segera bangkit dan berjalan cepat menutup jalan masuk pedukuhan.

“Oh, Ki Rananta,” salah seorang dari mereka berkata.

“Selamat siang,” ujar Rananta dari atas kuda. Mereka pun menyisih dari jalan, akan tetapi Rananta justru melompat turun dan melangkah lebar memasuki gardu jaga. Orang-orang kemudian mengikutinya.

“Tutuplah regol pedukuhan,” perintah Rananta lalu menugaskan seorang pengawal untuk berjaga dan mengawasi bagian luar pedukuhan.

“Aku tahu jika baru saja kalian mendengar suara yang terdengar aneh menurut kalian,” berkata Rananta dengan pandangan menyapu wajah setiap pengawal pedukuhan.

Enam orang pengawal itu kemudian menganggukkan kepala.

“Apakah salah satu dari kalian dapat mellihatnya?”

Mereka menggelengkan kepala.

“Apakah kalian telah membuat suatu perkiraan tentang siapa pelakunya serta maksud dan tujuannya?” kembali Rananta bertanya setelah ia terdiam sesaat.

“Aku tidak mempunyai dugaan apapun, Ki Rananta,” jawab pemimpin mereka. Salah seorang pengawal berkata,”Apakah mungkin suara tadi adalah hantu penunggu hutan, Ki?”

Rananta tajam menatap pengawal yang bertanya tentang hantu. Raut wajah tidak senang tampak jelas tergambar dari sorot matanya. Lantas Rananta menarik nafas panjang dan berkata,”Hantu atau apapun yang ada dalam pikiranmu itu sebenarnya gambaran dari sebuah keinginan buruk yang mengendap dalam hatimu. Sebaiknya aku tidak perlu mendengar pertanyaan atau persoalan seperti yang tergambar dalam pikiranmu.” Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada pemimpin pengawal dan bertanya,“Baiklah, lalu apakah kawan-kawan kalian masih berlatih di sanggar terbuka yang baru saja kita siapkan?”

“Untuk saat ini seharusnya mereka masih berada di sana, Ki Rananta. Tapi aku akan memastikannya sekarang,” pemimpin pengawal kembali menjawab. Ia membalikkan badannya dan melangkah keluar gardu jaga. Namun langkahnya terhenti saat ia mendengar Rananta berseru padanya.

“Tunggu dulu! Dengarkan rencanaku, aku akan berada di gardu ini hingga malam tiba. Dan kau,” kata Rananta sambil menunjuk orang yang berdiri di samping pemimpin pengawal,”harus memastikan mereka menghentikan latihan hingga senja. Tidak boleh ada kegiatan apapun di pedukuhan ini kecuali mereka yang sedang berada di pategalan dan sawah,” sambungnya kemudian.

Mata Rananta mengedar keadaan di sekelilingnya, ia menambahkan lagi,”Pastikan juga tidak ada senjata yang tergantung di depan banjar. Taruh semua senjata dalam peti-peti kayu yang berada di sebelah tangga.” Orang yang ditunjuknya menganggukkan kepala dan bergegas pergi menuju banjar pedukuhan. Dalam waktu itu, Rananta memandang lekat-lekat wajah pemimpin pengawal. Ia berkata kemudian,”Saat senja tiba, kau harus mengabarkan pada setiap penghuni pedukuhan untuk bersiaga. Kita tidak tahu apa yang ada di balik suara aneh itu. Mungkin saja suara itu adalah pertanda bagi orang-orang Mataram. Atau mungkin ada kawan kita yang berbalik arah atau ingin mendahului gerakan kita disini.”

Orang-orang yang berada di pedukuhan itu datang dari banyak tempat. Mereka datang ketika mendengar sebuah rencana untuk membangun daerah dengan tatanan baru. Beberapa diantara mereka bahkan berpikir jika pedukuhan itu adalah sebuah tanah perdikan, sehingga harapan dan semangat pun membuncah dalam dada mereka. Saat pertama kali datang dan menjumpai hutan dan tanah berbukit-bukit, sebenarnya mereka hampir kembali ke kampung halamannya semula. Namun kehadiran Raden Atmandaru di tengah mereka dan ditambah dukungan peralatan yang diberikan olehnya, mereka pun bergerak dalam satu pekerjaan besar dengan langkah serta rencana yang jelas. Dalam waktu singkat, pedukuhan itu telah tumbuh menjadi pedukuhan yang maju. Apalagi gagasan Rananta untuk membuat jalur perdagangan dengan daerah lain di wilayah Mataram juga dapat berjalan mulus. Nama besar Ki Basanta Alit dan Padepokan Tegalrandu agaknya juga membawa pengaruh yang besar bagi perkembangan pedukuhan.

Dalam satu kesempatan, beberapa hari sebelum kedatangan Rananta, Ki Patih Mandaraka sempat mengadakan lawatan ke pedukuhan itu dengan menyamar sebagai pedagang. Ia datang dan melakukan pengamatan bersama Ki Tumenggung Sigra Umbara.

“Apakah Ki Tumenggung tidak melihat sesuatu yang janggal di pedukuhan?” bertanya Ki Patih pada Ki Tumenggung Sigra Umbara di suatu kedai yang bersebelahan dengan pasar.

Sejenak Ki Tumenggung melihat sekelilingnya, lalu ia menjawab,”Sama sekali tidak ada yang terlihat aneh, Ki Patih. Hanya saja pedukuhan ini mempunyai detak kegiatan yang seharusnya dimiliki sebuah kademangan.”

Ki Patih tersenyum dengan sorot mata yang menggambarkan kedalaman nalar dan keluasan wawasan. Kemudian,”Kau tidak salah, Ki Tumenggung. Keanehan itu justru pada apa yang kau lihat. Apabila dinilai dari jumlah rumah-rumah yang kita lewati semenjak melintasi regol pedukuhan, kegiatan penduduk disini sebenarnya lebih pantas untuk dicurigai,” Ki Patih berhenti sejenak. Setelah meneguk wedang sereh hangat yang dicampur dengan gula merah, ia berkata lagi,”Apakah kau mengalami luka dalam saat menyergap orang-orang yang berusaha memasuki kraton malam itu?”

Ki Tumenggung menggelengkan kepala. Ia menjawab,”Aku tidak mengalami luka yang berarti, Ki Patih. Namun aku harus akui apabila orang yang berhasil menyelamatkan perempuan muda itu memang berilmu tinggi.”

Ki Patih Mandaraka tersenyum dengan memanggutkan kepala. Katanya,”Aku akan mengusulkan pada Wayah Panembahan untuk tidak menyertakanmu dalam persiapan menuju Surabaya. Aku seperti mempunyai bayangan buruk tentang keberadaan pedukuhan ini.” Keriput wajah Ki Patih Mandaraka seperti tidak mampu menutup kebijaksanaan yang memancar kuat dari sinar mukanya.

“Apakah kau siap bila pada hari ini atau esok, aku memintamu untuk membawa pasukan khusus kemari?” Ki Patih Mandaraka bertanya untuk melihat kesiapan batin Ki Tumenggung.

Seperti biasa, Ki Tumenggung tidak memberi jawaban dengan cepat. Ia termangu-mangu dengan pertanyaan KI Patih. Ki Patih melihat gurat wajah yang tidak asing dilihatnya. Duduk dihadapannya adalah orang yang ia kenal sekian lama. Dari seorang yang sebelumnya sama sekali tidak dikenal hingga berjalan setapak demi setapak menjadi seorang tumenggung pasukan khusus.

“Bagaimana, Sigra Umbara?” kembali suara halus Ki Patih Mandaraka menggoyang perasaan Ki Tumenggung.

“Aku akan lakukan dan menggerakkan pasukan khusus kapan saja Ki Patih menjatuhkan perintah,” Ki Tumenggung diam sejenak. Ia mengalihkan pandangan dan melihat pasar yang mulai berkurang pembelinya saat hari sudah menjelang siang.

“Lalu?” Ki Patih sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.  Ki Tumenggung tersenyum melihat gerakan Ki Patih yang seperti sedang tidak sabar menunggu jawaban darinya. KI Patih pun tergelak kecil karena usahanya untuk memancing perasaan Ki Tumenggung dapat diketahui orang yang dulu menjadi orang kepercayaan Panembahan Senapati. Dan hingga sekarang, Ki Patih masih menaruh kepercayaan tinggi padanya.

“Lalu akan meminta ijin pada istriku,” jawab Ki Tumenggung sambil tersenyum.

“Jika tidak diijinkan oleh istrimu?” tanya Ki Patih.

“Aku akan mengajaknya kemari, Ki Patih,” jawab Ki Tumenggung yang kemudian diikuti tawa kecil keduanya.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *