Penaklukan Panarukan – 8

Tanpa diketahui oleh Ki Suradilaga, Adipati Hadiwijaya telah mengutus satu dua orang kepercayaannya untuk memanggil Ki Rangga Sambaga dan seorang lainnya. Mereka bertiga berbicara sebentar di sisi pohon gayam yang berada di halaman belakang.

Saat matahari belum menapak tinggi, beberapa orang nampak berjalan keluar dari regol kediaman Adipati Hadiwijaya. Dalam pada itu, Ki Tumenggung Suradilaga juga terlihat duduk di pendapa beberapa langkah dari Adipati Hadiwijaya. Sesekali Ki Suradilaga menganggukkan kepala ketika melihat segala kesibukan dan ia juga diijinkan untuk mendengarkan perintah-perintah Adipati kepada para bawahannya.

“Aku kira Pajang tidak dapat menunda atau membuat segala sesuatunya menjadi lambat,” kata Adipati ketika hanya Ki Suradilaga yang berada di pendapa.

Ki Suradilaga mengangguk dalam-dalam. Katanya,”Aku akan membawa kabar baik ini secepatnya ke Demak, Kanjeng Adipati.”

Adipati Hadiwijaya melihat ke arahnya, kemudian,”Aku ingin kau berangkat menuju Demak satu atau dua hari lagi. Aku ingin hari ini kau ikut menemani Ki Rangga Sambaga ke pedukuhan Sambi Sari. Aku ingin kau juga dapat mengatakan pada Ayahanda Sultan tentang mutu senjata yang akan aku kirimkan ke Demak.”

“Aku akan ikuti perintah Kanjeng Adipati,” kata Ki Tumenggung sambil membungkuk hormat.

Tidak berapa lama kemudian seorang lelaki berjalan mendekati akan tangga pendapa dan memberi hormat pada kedua orang yang telah berada di situ sebelumnya.

“Ki Rangga, aku ingin kau mengantarkan Ki Tumenggung Suradilaga ke pedukuhan Sambi Sari. Aku telah mengatakan padamu keadaan yang sedang berkembang di Pajang, selain kehadiran Ki Tumenggung tentunya,” Ki Rangga Sambaga mengangguk hormat lalu  Adipati Hadiwijaya melihat Ki Suradilaga kemudian,”Aku ingin kau benar-benar bersiap diri. Mungkin saja akan ada hambatan atau mungkin kalian berdua tidak menemui rintangan. Tetapi, Ki Suradilaga, aku tidak ingin kau berpikir jika Pajang adalah tempat yang aman bagimu.”

“Bagaimana maksud Kanjeng Adipati?” bertanya Ki Suradilaga.

“Ki Rangga Sambaga adalah orang yang berkemampuan sangat tinggi di tlatah Pajang. Tidak akan ada gerombolan penyamun atau orang-orang yang iseng akan memberi kalian gangguan. Akan tetapi, aku tidak ingin pada akhirnya ketinggian ilmu kalian berdua dan wewenang Ki Sambaga akhirnya dapat membuat kalian terlena,” Adpati Hadiwijaya lalu merendahkan suaranya,”Kalian akan terbungkus dalam penyamaran.”

Ki Suradilaga mengangguk dalam-dalam, ia mengerti bahwa setiap penyamaran akan dapat membawa dirinya ke perkembangan suasana yang tidak terduga. Sementara Ki Rangga Sambaga memerintahkan pelayan untuk menyiapkan kuda, Adipati Hadiwjaya berkata,”Mungkin aku akan lebih dahulu tiba di Demak, jadi aku minta Ki Suradilaga segera menyusul setelah lawatan di Sambi Sari. Dan Ki Ranga Sambaga, kendali ketertiban Pajang aku serahkan padamu. Bertanyalah pada Ki Buyut Mimbasara dan aku ingin kau sesekali ajak anak itu berkeliling.”

“Aku mendengar, Kanjeng Adipati,” jawab Ki Sambaga.

Matahari telah menapak tinggi dan bergeser perlahan meninggalkan puncaknya. Adipati Hadiwijaya, Ki Tumenggung Suradilaga dan Ki Rangga Sambaga telah berpisah dan masing-masing telah berada dalam kesibukan tersendiri.

“Ki akan menyusuri wilayah barat Pajang, Ki Tumenggung. Pedukuhan Sambi Sari berjarak sekitar setengah hari perjalanan berkuda,” berkata Ki Rangga Sambaga setelah berada di atas punggung kuda.

Ki Tumenggung Suradilaga menganggukkan kepala dan katanya,”Aku akan menggunakan nama Ki Sulaga, Ki Rangga.”

“Ki Sulaga,” desis pelan Ki Rangga mengulang. Lalu ia berkata,”Ki Gambas Ayut.” Ia melihat wajah Ki Suradilaga atau Ki Sulaga seperti menahan tawa.

“Ki Gambas Ayut,” pelan Ki Sulaga mengulang kemudian melepas tawanya. Kuda-kuda mereka berderap tidak begitu cepat menuju Pedukuhan Sambi Sari.

Sementara itu dalam sebuah rumah yang hanya berjarak sebuah bangunan dari pendapa kadipaten, Pangeran Parikesit menatap lurus seorang prajurit.

“Apakah kau yakin mereka menuju Sambi Sari?”

“Aku yakin, Pangeran.”

“Lalu siapakah orang dari Demak itu?”

“Orang dari Demak itu bernama Ki Suradilaga dan ia adalah seorang tumenggung.” Ia berhenti sejenak. Kemudian ia berkata lagi,“Pangeran, dalam waktu dekat Hadiwijaya akan melakukan perjalanan ke Demak.”

Pangeran Parikesit menatapnya lekat-lekat dengan dahi berkerut. Ia bertanya heran,”Apa aku tidak salah dengar, Angger Kidang Tlangkas?”

“Tidak, Pangeran. Aku mendengar kata-kata Hadiwijaya sangat jelas. Meskipun aku berada dalam gardu jaga, namun aku dapat menggeser pusat pendengaran di tempat Hadiwijaya berdiri.”

“Kau lakukan itu saat di gardu jaga?”

“Benar, Pangeran. Dan saat itu hanya ada dua orang temanku yang mengawasi bagian luar.”

Pangeran Parikesit mendengarnya sambil manggut-manggut. Ia berdesis dalam hatinya,”Jika begitu, perkembangan anak ini nyaris di luar perkiraanku semula. Dan mungkin ia berada dalam tataran yang tidak begitu jauh dengan Ki Rangga Sambaga.”

“Baiklah, sebaiknya kau segera menyusul mereka. Lakukan penyergapan dan lumpuhkan mereka, terutama orang yang bernama Ki Suradilaga. Kau dapat mengajak serta Ki Sedayu Tawang,” Pangeran Parikesit memberi perintah.

Prajurit itu segera meminta diri dan bergegas menuju rumah tinggal Ki Sedayu Tawang. Sementara itu Pangeran Parikesit seperti sedang merenungkan sesuatu dalam pikirannya. Untuk waktu yang lama ia diam dalam duduknya hingga senja hampir berakhir. Ketika matahari benar-benar tenggelam di balik punggung bukit, ia bangkit dan berjalan memasuki rumah.

Sementara itu, Kidang Tlangkas dan Ki Sedayu Tawang memacu kudu menyusur jalan menuju Sambi Sari. Kala itu hari masih benderang sehingga mereka tidak menemui kesulitan untuk mengejar Ki Tumenggung Suradilaga dan Ki Rangga Sambaga.

“Apakah kita akan menyergap mereka di Sambi Sari atau di tempat lain, Ki Sedayu?” bertanya Kidang Tlangkas.

Ki Sedayu Tawang menatapnya tajam. Lalu ia bertanya balik,“Apakah Pangeran Parikesit tidak membicarakan itu padamu, Ngger?”

Kidang Tlangkas menggelengkan kepala lalu mempercepat laju kuda saat ia melihat gerumbul bambu  yang berada di sisi kiri dan kanan jalanan menuju Sambi Sari. Ki Sedayu Tawang mengerti maksud Kidang Tlangkas yang kini berburu waktu untuk mencapai rerimbun bambu. Ia pun turut menghentak lambung kuda, keduanya kini seolah berpacu untuk mencapai rerimbun bambu terlebih dahulu. Namun tiba-tiba saja Kidang Tlangkas mengubah haluan kudanya, ia melompat beserta kudanya ke sebuah pategalan kering dan berhenti di bawah pohon randu. Ki Sedayu Tawang, yang tidak mengerti perubahan rencana itu, meski terkejut tetapi ia kemudian mengikuti Kidang Tlangkas.

Kidang Tlangkas memberi tanda pada Ki Sedayu Tawang untuk bersikap tenang, kemudian ia melompat turun dari kudanya lalu berjalan mendekati Ki Sedayu Tawang.

“Aku melihat satu dua bayangan berkelabt diantara rerimbun bamboo, kiai. Dan aku rasa tidak mungkin kita akan membiarkan diri kita berdua untuk disergap dalam keadaan menjelang gelap seperti sekarang ini,” pelan berkata Kidang Tlangkas sambil mendongakkan kepala melihat langit yang mulai dirambati gelap.

“Kau sangat teliti, Ngger. Baiklah, lalu apa rencanamu berikutnya?”

“Kita berada dalam jarak yang lumayan jauh dari mereka, dan apabila kedua bayang tadi mempunyai kemampuan sangat tinggi maka kita tidak dapat menghindar dari sebuah benturan yang terkadang aku tunggu-tunggu, kiai,” jawab Kidang Tlangkas.

“Akan tetapi aku tidak dapat membiarkanmu mendekati mereka dalam keremangan semacam ini,” bisik pelan Ki Sedayu Tawang.

“Malam ini mungkin akan sangat gelap, kiai. Apakah kiai akan bermaksud menyergap mereka dalam gelap sebentar lagi?”

“Tidak, Ngger. Aku akan membiarkan malam ini dalam keadaan biasa saja. Karena Sambi Sari tentu memiliki sesuatu yang kita belum tahu akan tetapi agaknya mereka membutuhkan sesuatu yang besar di sana.”

Kidang Tlangkas manggut-manggut dan agaknya ia setuju dengan gagasan Ki Sedayu Tawang. Lantas ia berkata,”Jika begitu, kita akan berdiam diri saja dan mendekam kelaparan, kiai?”

“Apakah kita akan mengundang kedua bayangan itu untuk makan malam bersama kita, Ngger?”

Kidang Tlangkas tersenyum kecut mendengarnya. Lalu ia memutar tubuhnya dan mengawasi rerimbun bambu yang berada sekitar selontaran anak panah darinya. Sambil berjongkok ia meraba pinggangnya yang sebenarnya terdapat sekantung kulit berisi air minum. Bagaimanapun juga Kidang Tlangkas adalah anak muda yang berkembang dalam tuntunan Pangeran Parikesit. Kemudian ia menapak jalan sebagai prajurit Pajang, sehingga dalam  keadaan yang jauh dari makanan dan sumber minuman ia telah melatih dirinya untuk menghadapi keadaan yang lebih sulit.

“Tenangkan dirimu, Ngger. Dalam waktu yang singkat seperti tadi, aku masih menyempatkan diri membawa bekal sekedarnya untuk mencegah bunyi-bunyi yang mungkin saja dapat menganggu tugas pengamatan ini,” senyum Ki Sedayu Tawang dan menyodorkan sekepal nasi gureh yang terbungkus dalam daun pisang.  Tanpa berkata dan berpikir panjang, Kidang Tlangkas segera menerimanya dan memakan dengan lahap.

“Agaknya mereka menunggu gelap, Ki Tumenggung,” kata Ki Gambas Ayut dengan pandang mata menatap ke pategalan tempat Ki Sedayu Tawang dan Kidang Tlangkas menghentikan kuda.

“Mungkin saja mereka tidak ingin bergabung dengan kita di sini,” berkata Ki Suradilaga sambil mengikat kudanya. Ia berkata lagi,”Aku kira kita tidak dapat mencurigai mereka dengan melakukan perbuatan yang tidak kita harapkan terjadi.”

“Aku mempunyai penilaian seperti itu, Ki Tumenggung. Namun aku telah mendengar berita tentang beberapa orang yang sebenarnya juga mengawasi Pajang. Mungkin mereka termasuk dalam kelompok orang-orang itu,” Ki Rangga berkata-kata sambil melepas kantong kulit berisi air minum  yang diikatnya pada pelana kuda.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *