Pangeran Diponegoro – Tegalrejo 2

“Di banyak tempat, aku telah mendengar jika rakyat mulai memperlihatkan kegeraman dengan terbuka. Peristiwa di Karangpandan, Simpar lalu beberapa penyergapan di lereng Merbabu sebenarnya tanda kegelisahan yang tidak dapat kita abaikan, Angger Pangeran,” desis Pangeran Mangkubumi sambil membenahi letak duduknya.

Kemudian ia meneruskan,“Kita tidak bisa membiarkan orang-orang berkulit pucat itu terlalu dalam menjangkau kekuasaan Angger Sultan. Seperti yang kau lihat sendiri di dalam Kraton, Angger Pangeran. Mereka menempatkan diri mereka sendiri melebihi batas yang kita berikan. Bahkan kita juga sering melihat mereka memandang rakyat tak ubahnya seperti melihat sekumpulan binatang ternak,” berkata Pangeran Mangkubumi pada suatu sore di Kademangan Tegalrejo. Sementara Pangeran Diponegoro bersandar pada tiang penyanggah pendapa.

“Aku tidak dapat berbuat lebih jauh dengan keberadaan mereka di lingkungan kraton, Paman. Wewenang Ki Patih Danurejo dan kehadiran Ibunda Ratu telah membuat keadaanku menjadi terbatas dan sulit,” desah nafas panjang Pangeran Diponegoro pun terdengar seolah sedang melepas himpitan di dalam dadanya. Lalu ia berkata lagi,“Paman, bukankah keberadaan beberapa pangeran yang berusia matang sebenarnya telah dapat mewakili Adimas Sultan untuk melaksanakan tugas sehari-hari?”

“Pertanyaanmu tidak salah, Ngger. Namun ruang gerak para pangeran telah dibatasi secara ketat dengan adanya sewa menyewa tanah yang sudah jelas membawa kerugian bagi pihak kita semua,” jawab Pangeran Mangkubumi. Dan ia menambahkan kata-katanya,”Namun kita juga tidak dapat mengingkari kenyataan jika kita mendapat halangan dari Ki Patih Danurejo.”

Pangeran Diponegoro memandang tajam ke arah pamannya namun tak lama kemudian ia membenamkan wajah dalam-dalam. Hati Pangeran seperti sedang berkecamuk dengan sebuah keputusan di masa lalu. Lalu ia mengangkat wajahnya dengan mata menerawang sangat jauh. Sebongkah perasaan terasa mengganjal dalam hatinya.

“Apakah Angger Pangeran menyesali keputusan itu?” Pangeran Mangkubumi menatap tajam wajah keponakannya yang dikenal kuat dalam pendirian.

Pangeran Diponegoro menggelengkan kepala. Kemudian ia menjawab,”Tidak ada yang aku sesalkan, Paman. Sekalipun aku tidak pernah menduga jika orang itu akan berbuat jauh menyimpang dari apa yang aku harapkan.” Rahangnya nampak mengeras saat ia membuka bibirnya dan berkata,”Kedudukan Patih yang berada dalam genggamannya seolah belati di tangan orang bodoh. Aku hanya mempunyai bayangan buruk apabila belati itu akan benar-benar menjadi sebab datangnya kerusakan untuk masa yang sangat panjang.”

“Tentu saja orang seperti ini tidak akan dapat berpikir dengan nalar yang cukup panjang. Aku sangat mengenal orang-orang  yang mempunyai watak seperti orang yang kau bicarakan,” suara Pangeran Mangkubumi terasa menahan kegeraman.

“Akan tetapi aku dapat mengerti alasan orang-orang bernalar pendek seperti itu, Paman. Dan mungkin atas alasan itulah ia tidak akan pernah merasa bersalah atau berkhianat, sementara kita yang berada di bagian yang berbeda telah mempunyai penilaian yang berbeda,” raut muka Pangeran Diponegoro telah berubah menjadi tenang.

Dahi Pangeran Mangkubumi berkerut mendengar kata-kata Pangeran Diponegoro. Ia menganggukkan kepala lalu meminta keponakannya itu meneruskan kata-katanya,”Lanjutkan, Ngger. Aku mendengarkan.”

“Paman, aku memikirkan alasan yang mungkin saja telah menjadi landasan sikap seperti yang telah ditunjukkan oleh orang-orang yang tidak merasa adanya ikatan dengan tanah dan air,” Pangeran Diponegoro menarik nafas perlahan. Ia sedang mengendapkan perasaan agar apa yang berada dalam pikiran dan perasaannya dapat dialirkan secara tenang. Kemudian lanjutnya,”Mungkin Ki Patih Danurejo termasuk orang yang mempunyai kerangka berpikir yang berbeda dengan kita. Maksudku ia akan memberikan kerja keras dan kesetiaan pada orang kulit pucat itu karena ia menganggap sedang bekerja untuk mereka.”

“Akan tetapi ia tahu jika kenyataannya bukan seperti itu, Ngger,” sanggah Pangeran Mangkubumi.

Pangeran Diponegoro mengangkat tangannya, lalu,”Ia mengerti dan memahami sepenuhnya, Paman. Ia sadar bahwa saat ia diangkat oleh Ayahanda sebagai seorang patih, maka sebenarnya ia telah terikat dengan Kraton. Semua yang melekat dalam dirinya telah berada dalam satu perjanjian kuat dengan Kraton, terutama Adimas Sultan.” Lurus Pangeran Diponegoro memandang halaman di depan rumahnya, lantas ia kembali berkata-kata,”Namun, dalam satu keadaan tertentu, akhirnya ia menggeser kesetiaan itu pada apa yang mungkin dinilainya sebagai pihak yang kuat. Ia mungkin melihat lemahnya kerabat kita di dalam Kraton untuk tetap berdiri tegak, atau mungkin ia melihat jika Adimas Sultan adalah orang yang lemah. Kemungkinan seperti itu dapat saja membawa perubahan secara mendasar dalam pandangan hidupnya.”

“Baiklah, aku mengerti arah pembicaraanmu,” Pangeran Mangkubumi bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati keponakannya. Mereka berdiri tegak sebelah menyebelah, kemudian Pangeran Mangkubumi berkata,”Aku sarankan agar kau bicarakan tentang persoalan tanah itu dan ketertiban kraton dengan saudaramu yang lain. Mungkin mereka dapat membantumu melihat permasalahan ini dari segi yang berbeda denganmu.”

Ia meneruskan kemudian dengan pelan,” kekerasan adalah jalan terakhir yang dapat kau tempuh. Namun kau harus mempertimbangkan segalanya dari berbagai segi. Segala persiapan harus kau lakukan dengan cermat. Surakarta dapat kau jangkau agar datang kemari untuk membantumu.”

“Mengapa Surakarta?” Pangeran Diponegoro bertanya dengan mata terpicing.

“Mereka mempunyai keteguhan dan kepatuhan yang mungkin belum pernah kau temui,” Pangeran Mangkubumi memutar tubuhnya menghadap Pangeran Diponegoro, lanjutnya,”Kau akan menjumpai jika mereka adalah orang-orang yang luar biasa.”

“Aku perhatikan nasehat Paman,” tegas Pangeran Diponegoro. Sejenak kemudian Pangeran Mangkubumi meninggalkan Pangeran Diponegoro untuk kembali ke Kraton Mataram.

Tak lama kemudian seseorang lelaki yang berusia lebih muda dari Pangeran Diponegoro tampak menaiki tangga pendapa dan mendekati Pangeran Diponegoro. Ia duduk dengan posisi tubuh yang sangat baik. Sepertinya ia mempunyai hubungan yang sangat baik dengan Pangeran Diponegoro. Keadaan itu dapat terlihat dari beberapa orang yang sedang membersihkan halaman dan cukup senang dengan kedatangannya.

“Ki Gede, aku yakin apabila kau mengerti alasanku memilih Ki Tumenggung Sumodipuro sebagai patih Mataram,” berkata Pangeran Diponegoro pada seorang pengikutnya yang setia. Ia berhenti sebentar dan bergeser satu dua langkah di dekat Ki Gede Karangpandan Kusumo Hadi.

“Tidak sepenuhnya aku dapat mengerti setiap keputusan Ndara Pangeran,” kata Ki Kusumo dengan kepala menunduk.

“Orang dengan kemampuan sepertimu sudah jelas tidak mungkin dapat menjadi gagal mengerti tentang keputusanku memilih Ki Tumenggung Sumodipuro sebagai Patih Mataram. Katakan!” tegas Pangeran Diponegoro pada Ki Kusumo Hadi.

Ki Kusumo merasa pepat dalam dadanya. Ia tidak ingin menjadikan orang yang dihormatinya itu pada akhirnya merasa bersalah dengan keputusannya saat menetapkan Ki Tumenggung Sumodipuro sebagai Patih Mataram. Ia merenung sebentar. Lantas berkata,”Ndara Pangeran, jika aku boleh memberi saran sebenarnya ada langkah lain yang dapat ditempuh oleh Ndara Pangeran. Sudah barang tentu aku tidak mengatakan saran ini tanpa dilandasi alasan yang cukup.”

“Katakan, bukankah kau mengerti bila aku selalu terbuka dengan pendapat orang lain?” Pangeran Diponegoro menatap lurus wajah Ki Kusumo.

Ndara Pangeran mempunyai kerabat di Pajang. Terlepas dari apa yang telah terjadi di masa lalu, akan tetapi orang-orang Pajang adalah orang yang teguh dalam pendirian sama halnya dengan Ndara Pangeran sendiri. Selain itu orang-orang Pajang adalah orang yang lebih menyukai kedamaian,” Ki Gede Karangpandan berhenti sejenak. Ia mengamati perubahan pada setiap gerak gerik Pangeran Diponegoro.

“Kemudian?” bertanya Pangeran Diponegoro sejurus kemudian.

“Mereka, orang-orang Pajang, akan memilih berputih tulang ketika rasa damai itu mulai terusik,” sambung Ki Gede Karangpandan.

“Aku tidak menyeret mereka ke dalam suatu peperangan, Ki Gede,” datar Pangeran Diponegoro berucap.

“Aku tidak berkata seperti itu, Ndara Pangeran. Akan tetapi Ndara Pangeran sebaiknya mempertimbangkan ikatan batin dan kekeluargaan diantara Ndara Pangeran dengan Pajang. Mereka tidak akan tinggal diam melihat Ndara Pangeran berjuang sendiri,” terucap kata-kata dengan disertai kelembutan dari Ki Gede Karangpandan.

“Apakah itu berarti aku harus memberi kabar pada mereka tentang kemungkinan yang akan terjadi?” Pangeran Diponegoro bertanya dengan tatap mata yang seolah menyembunyikan sesuatu. Lalu ia melanjutkan,”apabila orang-orang Pajang memang bersikap jantan seperti itu, aku kira orang-orang Karangpandan pun akan mengambil sikap yang serupa. Karena sejatinya mereka adalah keluarga besar.”

Pangeran Diponegoro melirik Ki Gede Karangpandan.

“Sikap orang-orang Karangpandan telah jelas, Ndara Pangeran. Mereka akan berkalang tanah bersama Ndara Pangeran. Kita adalah orang-orang yang mempunyai harga diri yang tinggi, Ndara Pangeran. Para petani di Karangpandan sejak awal merasa keberatan dengan tata cara sewa yang dibuat berdasarkan kebutuhan dan keinginan orang-orang berkulit pucat sendiri. Sebenarnya kami di Karangpandan tidak keberatan dengan sewa menyewa akan tetapi kami minta penetapan dan pemberlakuan secara adil,” Ki Gede menuturkan.

“Aku banyak mendengar keberatan seperti itu dan keberatan dari pangeran yang lain tentang sewa menyewa yang berat sebelah. Aku telah mendengar peristiwa yang terjadi di daerah Ki Gede. Akan tetapi kita bukan orang rendah yang tidak berbudi,” rahang Pangeran Diponegoro tampak mengeras. Ia menahan gejolak dalam dadanya yang tiba-tiba meletup dan mendentangkan jantung sedikit lebih kencang. Ia bertanya lagi kemudian,”Apakah kau telah mendengar sikap orang Pajang mengenai sewa menyewa itu?”

Tinggalkan Balasan