Bara di Borobudur 26.2 – Pertempuran di Lereng Wilis

Bentakan menggelegar Ra Jumantara mengawali gempurannya, batang pohon bergetar oleh hantaman tenaga yang keluar bersamaan dengan suara dahsyat orang kepercayaan Mpu Jagatmaya ini. Jalutama dan Ki Swandanu menyilangkan tangan di depan dada untuk melindungi isi dadanya dari tenaga inti ra Jumantara yang menghantam segala arah, bahkan keduanya terdorong ke belakang setapak menahan tenaga inti lelaki tangguh itu. Sekarang Ra Jumantara telah mengurung Bondan dengan serangan yang bergulung-gulung gencar dan ganas.

Tubuh Ra Jumantara lenyap di balik gulungan sinar kerisnya, kecepatan gerak Ra Jumantara benar-benar dahsyat sehingga tubuhnya seolah menghilang jika saja kerisnya tidak mengeluarkan cahaya. Sementara itu Bondan mulai diterpa kesulitan untuk mencegah lawannya meningkatkan serangan. Bondan mengerti jika kecepatan lawannya berada beberapa lapis diatasnya, oleh karenanya Bondan mulai memusatkan rasa dan budi pada pendengaran.

Di tengah deru kibas senjata yang terkadang mengeluarkan bunyi bercuitan, Bondan mulai dapat mendengarkan suara hewan malam. Samar-samar ia dapat menangkap suara kai Ra Jumantara saa bergeser, berpindah atau menjejak tanah. Pada saat yang bersamaan dengan Bondan mencapai batas tertinggi pendengarannya, Ra Jumantara telah berada di puncak kecepatan gerak yang semakin menggila. Begitu cepatnya ia bergerak, menerjang, memutar tubuh hingga akhirnya tampak seolah-olah ada sebuah pelita besar memenuhi lingkaran pertempurannya dengan Bondan.

Suara desing senjata dari keduanya bercuitan nyaring saling bersahutan, kadang –kadang nampak pula kedua cahaya itu melebur menjadi satu lalu tiba-tiba saling menjauh dan melejit ke atas dan lenyap. Akan tetapi orang-orang di sekitar mereka semakin bergerak menjauh, mereka melangkah mundur beberapa langkah karena sambaran angin panas yang timbul karena kibasan senjata mereka yang bertarung terkadang dapat mencapai tempat mereka dan terasa membakar kulit yang tidak tertutup kain.

Fajar mulai merekah, akan tetapi keduanya belum usai menuntaskan perkelahian. Terkejutlah orang-orang itu saat mereka melihat daun-daun kering dan layu, sebagian kecil telah hangus terbakar.

Ra Jumantara perlahan-lahan telah kehilangan pengamatan diri dan keseimbangan dalam jiwanya. Ia merasa telah berada pada puncak tertinggi ilmunya dan lawannya yang masih muda masih terlihat tegar menghadapinya.

“Ki Rangga, apakah benar apa yang dikatakan Ra Jumantara tentang guru dari anak muda itu?” bertanya Nyi Kirana.

“Aku sama sekali tidak mendengar apapun dikatakan Bondan. Apakah kau mendengarnya, Nyi?” Ki Rangga bertanya balik pada Nyi Kirana.

“Tidak,” Nyi Kirana menggelengkan kepala. Sementara Ki Rangga menatap wajahnya dari samping dengan tatapan yang tajam.

“Bila demikian, aku juga tidak dapat mengatakan apapun tentang guru Bondan,” Nyi Kirana menoleh Ki Rangga dengan dahi berkerut. Kemudian Ki Rangga menambahkan,”Aku tidak mungkin melebihi apa yang dikatakan oleh anak itu dan juga tidak mengurangi apa yang pernah ia katakan.”

Sementara Jalutama berdecak kagum melihat setiap gerak pola yang dilakukan Bondan saat itu. Ki Hanggapati berulang kali hanya bertukar pandang dengan Ki Swandanu.

“Ki Swandanu, apakah memang seperti itu tanda-tanda kemajuan Bondan seperti yang dipesankan oleh Eyang Resi?” Ki Hanggapati bertanya sambil menarik nafas dalam-dalam.

“Entahlah, Ki. Memang ada satu dua tanda-tanda itu telah ada dalam dirinya namun aku sendiri masih belum sepenuhnya yakin,” jawab Ki Swandanu. Ia memeriksa luka-lukanya sesaat lalu katanya lagi,”Satu hal yang aku peroleh selama perjalanan kita ke kotaraja hingga saat ini adalah anak itu tidak ingin berhenti untuk berkembang. Ia dapat melihat setiap celah sempit yang memberinya jalan untuk mencapai batas tertinggi.”

“Ki Swandanu membuatku menjadi malu,” kata Jalutama yang berdiri di dekat mereka dengan sedikit rasa guncangan dalam dadanya.

“Tidak seperti itu, Ngger. Akan tetapi kalian berdua mempunyai masa lalu yang berbeda. Berbeda dalam lingkungan dan jalan hidup. Sehingga setiap dari kalian pun mempunyai kemajuan yang kalian kembangkan sendiri dari pengalaman. Keadaan seperti itu juga terjadi pada diri kami,” kata-kata Ki Swandanu sedikit banyak dapat meredakan guncangan yang dialami Jalutama.

Kembali Ra Jumantara meloncat surut. Kemarahannya semakin menjadi-jadi ketika ia melihat Bondan menghadapinya dengan mata tertutup! Ia sudah tidak lagi memperhatikan keadaan dirinya yang mulai mengalami penyusutan tenaga dan kecepatan. Segenap ilmu ia salurkan melalui kedua tangannya.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *