http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

PTB – Merebut Mataram 6

Ki Patih mengalihkan sejenak pandangannya keluar kedai. Tampak olehnya beberapa lelaki bertubuh tegap dan kekar sedang mendorong sebuah pedati yang terlihat membawa beban cukup berat.

“Semuanya terlihat wajar di permukaan,” ucapnya kemudian. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu berkata lagi,”Aku mendapatkan laporan yang berbeda, Ki Tumenggung. Untuk itulah aku mengajakmu kemari agar dapat menilai keadaan bersamamu.”

“Aku setuju dengan Ki Patih. Mungkin suasana siang hari di pedukuhan ini akan berbeda apabila malam telah tiba,” sahut Ki Tumenggung seraya membenahi kain penutup kepalanya. Ia mengerling ke arah pemilik kedai yang berdiri dan seperti memperhatikan keduanya. Ki Tumenggung Sigra Umbara berkata dengan nada rendah,”Agaknya kehadiran kita mendapat perhatian dari pemilik kedai, Ki Patih.”

Ki Patih Mandaraka mengangukkan kepala tanpa menoleh pemilik kedai. Lurus ia masih melihat pedati yang berjalan pelan tak jauh dari kedai. Lalu ia berkata,”Aku ingin bermalam di pedukuhan ini, Ki Tumenggung.”

“Aku tidak melihat pedukuhan ini mempunyai penginapan, Ki Patih,” ucap pelan Ki Tumenggung sambil menggeser tempat duduknya. Ia melanjutkan lagi,”Pedukuhan ini mempunyai kegiatan yang padat tetapi tempat ini bukan tempat tujuan utama para pedagang.”

Ki Patih tersenyum ke arah Ki Sigra Umbara, lalu katanya,”Kau mempunyai penilaian tajam meski aku kira kau lakukan dengan pengamatan sekilas. Kemampuanmu untuk melakukan pengamatan ternyata tak jauh dari gurumu.”

Ki Tumenggung menunduk malu. Sedikit desir dalam dadanya saat ia mengingat gurunya. Lalu,”Guru mewariskan kepadaku hampir semua yang ia miliki, Ki Patih. Meski terkadang, atau bahkan sering, aku tidak menyadari saat-saat guru mengajariku tentang wawasan yang baru,” Ki Sigra Umbara menarik nafas panjang. Kemudian ia berdesis dalam hatinya,”Mungkin membesarkan padepokan peninggalan guru akan menjadi kewajiban utama setelah urusan ini selesai.”

Agaknya Ki Patih mengerti perasaan Ki Sigra Umbara yang sejenak berjalan ke masa lalu. “Baiklah, Sigra Umbara,” Ki Patih berkata sambil bangkit berdiri lalu,”Kita lanjutkan perjalanan ke utara.” Ki Patih Mandaraka mengucapkannya dengan sedikit keras. Lalu ia berjalan mendekati pemilik kedai dan membayar semua makanan dan minuman yang telah mereka nikmati.

“Aku akan kembali kemari. Makanan disini cukup sedap dan aku ingin mengajakmu membuat penginapan di sini,” ucap pelan Ki Patih sambil menyerahkan beberapa keping logam.

“Terima kasih, Ki Sanak,” sahut pemilik kedai dengan raut muka sedikit kaku.

Dua orang pembesar Mataram itu bergegas keluar dari kedai dan berjalan ke arah barat. Dalam pada itu, Ki Tumenggung Sigra Umbara menyempatkan diri untuk mengetrapkan satu ilmu yang dapat mepertajam penglihatan. Tampak olehnya timbal besi yang terpasang pada sabuk salah seorang lelaki yang mendorong pedati. Dengan dahi berkerut ia mencoba mengingat beberapa padepokan yang memiliki ciri seperti yang terlihat olehnya. Namun demikian ia tidak membicarakan hasil pengamatannya itu dengan Ki Pagih Mandaraka.

Sepeninggal Sigra Umbara dan Ki Patih Mandaraka, pemilik kedai melangkah keluar melalui pintu belakang kedai. Ia melangkah lebar lalu menghilang di sebuah tikungan. Agaknya ia telah memasuki pekarangan sebuah rumah yang tidak begitu besar.

“Apakah Ki Tosan Ngulandara ada di dalam?” ia bertanya pada seorang perempuan yang sedang membersihkan pekarangan.

Tanpa bercakap, perempuan itu menganggukkan kepala dan memberi tanda baginya agar segera masuk ke dalam rumah. Sejenak kemudian, pemilik kedai mendapati Ki Tosan Ngulandara sedang mengamati sebilah tombak yang berada dalam gengamannya.

“Kiai, mungkin kiai tidak terkejut dengan berita yang akan aku katakan,” ucap pemilik kedai setelah mengucap salam hormat.

“Katakanlah!” berkata Ki Tosan Ngulandara dengan mata terpicing tajam menatap wajah pemilik kedai.

“Ki Patih Mandaraka telah berada di pedukuhan ini,” suara pemilik kedai sedikit tergetar.

“Apakah aku tidak salah mendengar?” Ki Tosan setengah tidak percaya.

“Tidak, Ki Tosan. Bahkan ia meluangkan waktu cukup lama di dalam kedai,” jawab pemilik kedai. Lalu ia menambahkan,”dan ia tidak datang sendiri.”

Sambil menggeser tubuhnya, Ki Tosan Ngulandara bertanya lagi,”Bersama seorang lelaki yang lebih muda? Seorang tumenggung?”

Pemilik kedai menarik nafas dalam-dalam lalu menganggukkan kepala.

“Baiklah,” Ki Tosan Ngulandara menghela nafas panjang kemudian katanya,”aku akan memerintahkan orang-orang untuk tidak melakukan kegiatan apapun malam ini.”

“Apakah Ki Rananta juga harus mengetahui keadaan ini, kiai?” bertanya pemilik kedai.

“Tidak perlu! Bahkan mungkin akan menjadi keadaan yang gawat bagi kita apabila Ki Rananta mengetahui kehadiran seorang tumenggung di wilayah ini,” jawab Ki Tosan Ngulandara. Lantas ia menambah penjelasan lagi,”Yang aku khawatirkan adalah jika ia kemudian mengatakan kehadiran tumenggung itu pada adiknya.”

“Bukankah mereka berjauhan tempat tinggal?”

“Kau jangan berpikir seperti itu! Nyi Rananta dapat saja mendengar dari suaminya lalu menitipkan pesan pada orang padepokan yang pergi ke Mataram. Dan itu sama dengan memaksa kita membentur kekerasan saat kita belum siap,” kata Ki Tosan Ngulandara seraya bangkit berdiri dan memanggil seorang pengikutnya lalu memberikan beberapa pesan. Sementara itu pemilik kedai meminta diri dan bergegas kembali menuju tempatnya bekerja.

“Kita bermalam di tempat ini, Ki Tumenggung,” kata Ki Patih ketika mereka berjalan melintasi sebuah pemakaman. Ki Sigra Umbara mengedarkan pandangan sekeliling, lalu katanya,”Banyak pohon besar di tempat ini, Ki Patih. Terlebih jalanan sedikit menurun agaknya akan memberi kita kesempatan untuk bersembunyi.”

Sambil manggut-manggut, Ki Patih menunjuk pohon ketapang yang cukup besar dan katanya,”Aku kira tempat itu cukup memberi keleluasaan bagi kita untuk bermalam.” Ki Tumenggung Sigra Umbara mengangguk setuju lalu keduanya bergegas menyelinap diantara rerimbun tanaman.

“Aku akan ke banjar segera saat gelap nanti, Ki Patih,” kata Ki Sigra Umbara setelah mereka duduk bersandar pada batang besar pohon belimbing.

“Lalu kau tinggalkan aku kedinginan di dekat pemakaman ini?” Ki Patih Mandaraka tersenyum. Ki Sigra Umbara menyambut ucapan Ki Patih dengab tawa kecil.

Saat wayah sirep bocah, kedua pembesar Mataram melangkahkan kaki menuju banjar pedukuhan. Nyatalah bagi keduanya jika pedukuhan itu berdiri di wilayah perbukitan. Keduanya melangkah menyusuri jalanan yang menurun curam dan terkadang menanjak landai. Pada kedua tepi jalan nampak jika pedukuhan itu tertata rapi.

“Sangat janggal jika pedukuhan ini mempunyai tatanan yang mirip dengan sebuah kadipaten kecil,” gumam pelan Ki Patih.

“Aku kira memang sepertinya ada tangan yang kuat untuk mengatur semua ini,” kata Ki Tumenggung sambil menunjuk parit yang mengalir membelah sebuah pategalan.

“Namun setiap orang diam ketika ditanya tentang pemimpin pedukuhan ini. Tidak ada seorang bekel atau jagabaya akan tetapi setiap bidang dapat berjalan tertib. Sangat menakjubkan sekaligus mencurigakan,” Ki Tumenggung berkata lagi.

Sejenak kemudian mereka telah tiba di banjar pedukuhan dan tidak ada seorang pun terlihat berada di dalam banjar. Sebagai orang yang berilmu tinggi dan nyaris tidak ada bandingannya di tlatah Mataram, keduanya segera melambari setiap indra dengan ilmu masing-masing. Ki Tumenggung menoleh ke arah Ki Patih dan menggelengkan kepala.

Ki Patih Mandaraka bergumam pelan,”Kita tidak dalam pengawasan satu orang pun. Sementara kita juga tidak menjumpai peronda atau seseorang di dalam gardu jaga.”

“Aku akan jalan memutar di batas luar pedukuhan, Ki Patih,” Ki Tumenggung memberi usulan.

“Baiklah, kita bertemu saat kokok ayam pertama,” sambil menanggapi usulan itu, Ki Patih mengambil arah melewati sebuah jembatan bambu.

Demikianlah akhirnya kedua orang penting Mataram itu berpisah dan mengamati pedukuhan dari banyak sudut pandang. Hingga akhirnya mereka kembali bertemu di sebelah barat pemakaman.

“Kita kembali ke Mataram wayah pasar temawon, Ki Tumenggung. Aku tidak memperoleh sebuah bahan yang mungkin dapat dikembangkan. Aku tidak melihat kegiatan yang cukup memadai untuk dicurigai sebagai ancaman yang berbahaya,” berkata Ki Patih.

“Benar, Ki Patih. Di bagian luar pedukuhan, aku juga tidak melihat apapun yang dapat dianggap sebagai sanggar terbuka atau lapangan untuk latihan gelar perang,” desah Ki Tumenggung,”sama sekali tidak ada.”

Dan seperti yang telah direncanakan, Ki Patih Mandaraka dan Ki Tumenggung Sigra Umbara mengambil kuda yang dititipkan di rumah salah seorang penduduk di luar pedukuhan. Agaknya kedua petinggi Mataram ini sengaja merahasiakan kedatangan keduanya di pedukuhan, sehingga kuda mereka pun berada agak jauh dari tapal batas pedukuhan.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *