Bara di Borobudur 27 – Pertempuran di Lereng Wilis

Kerisnya menyala merah membara dan sekali-kali keluar lidah api. Bondan terkejut menyaksikan perubahan yang terjadi pada lawannya. Sebenarnya yang terjadi adalah Ra Jumantara telah melampaui batasan yang ada dalam dirinya. Di hadapannya Bondan telah bersiap dengan tubuh sedikit merendah. Bagi Ra Jumantara, sikap tubuh Bondan justru seperti seekor kelinci yang telah siap untuk dipanggang sebagai hidangan pagi.

“Tidak ada jalan untuk kembali, anak muda. Tentu akan menjadi pertemuan yang sangat menyenangkan bagi Mpu Reksa Rawaja jika ia telah tiba di Pajang,” kata Ra Jumantara di sela-sela pengerahan tenaga inti yang semakin dahsyat. Lalu ia berkata lagi,”Aku sangat berharap dapat melihat pertarungan yang akan terjadi jika Mpu Reksa Rawaja harus menghadapi gurumu, Resi Gajahyana.”

Dahi Bondan berkerut dalam ketika ia mencoba mengerti kata-kata Ra Jumantara.

“Eyang Resi sudah tidak mungkin akan kembali mengotori tangannya dengan sebuah pertarungan,” gumam Bondan di tengah-tengah pengerahan puncak ilmunya.

Teriakan melengking memekakkan telinga panjang terdengar keluar dari bibir Ra Jumantara. Dedaunan bergoyang-goyang seperti tertiup angin. Bondan tak ingin Ra Jumantara datang lebih dahulu padanya, dari jarak sekitar dua belas langkah ia meluncur dahsyat dengan kecepatan yang sulit untuk dikatakan. Akan tetapi Bondan agaknya salah memperhitungkan, Ra Jumantara justru melepaskan pukulan jarak jauh yang sangat hebat. Dorongan angin terasa sangat panas mengenai tubuh Bondan yang sedang melayang, angin pukulan itu dapat menghambat laju Bondan yang sedikit tergetar karena dorongan itu semakin besar. Tidak ada jalan bagi Bondan kecuali mengebutkan ikat kepalanya ke tenaga inti Ra Jumantara yang terlihat seperti uap panas.

Satu ledakan dahsyat menggelegar membuat kaget seluruh penghuni hutan. Daun dan rumput kering terhempas ke udara. Tanah yang kering menjadi debu yang menusuk mata. Jalutama dan Ki Swandanu terhuyung mundur selangkah, sementara tiga orang lainnya bergetar hebat meskipun telah memiringkan tubuh dengan bentuk pertahanan yang kuat. Sebatang pohon yang berada paling dekat dengan kedua orang yang berkelahi itu tidak menjadi roboh, akan tetapi seluruh daunnya menjadi rontok dan ranting-rantingya mengering.

Tiba-tiba keadaan menjadi hening.

Adalah Ken Banawa yang pertama kali bangkit dan berlari menuju lingkaran. Terlihat olehnya Bondan tergeletak lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Wajah pucat Bondan dan darah yang keluar dari hidungnya menjadi pertanda jika ia mengalami luka dalam yang sangat berat. Ki Swandanu dan yang lainnya segera berjongkok mengitari Bondan.

“Biarkan aku bekerja, Ki Rangga,” kata Ki Swandanu yang memperlajari ilmu pengobatan dari Resi Gajahyana untuk waktu yang lama. Ki Rangga segera memberi tempat pada Ki Swandanu untuk memulai langkah-langkah menyelamatkan nyawa Bondan. Ki Swandanu segera mengeluarkan beberapa butiran padat dan diselipkannya ke bibir Bondan. Beberapa tetes air yang dikeluarkan Jalutama dari bumbung kecil yang terselip pada pinggangnya dapat mendorong butiran-butiran itu memasuki tubuh Bondan yang sedikit diangkat kepalanya oleh Ki Hanggapati. Sementara itu Ken Banawa melihat Nyi Kirana telah duduk di sebelah Ra Jumantara. Merasa sedang diawasi oleh seseorang, Nyi Kirana menoleh dan matanya tertumbuk pada Ki Rangga yang berdiri tegak melihat ke arahnya.

Sambil menganggukkan kepala, Nyi Kirana melambaikan tangan pada Ki Rangga memintanya untuk datang melihat keadaan Ra Jumantara.

“Percayakan Bondan kepada kami, Ki Rangga. Sedikit yang aku miliki akan tetapi mungkin dapat membantu Bondan memulihkan dirinya dari bagian dalam,” berkata Ki Hanggapati. Ki Rangga segera meninggalkan Bondan yang berada dalam pengawasan orang-orang yang dipercayainya, sementara ia menuju ke tempat Ra Jumantara berbaring.

“Tidak dapat diselamatkan lagi, Ki Rangga,” berkata Nyi Kirana. Sebilah keris telah menancap dalam di bagian dada Ra Jumantara. Ki Rangga segera berjongkok dan menempatkan kepala Ra Jumantara di atas pahanya.

Tiba-tiba terdengar desah nafas berat Ra Jumantara, ia berusaha berkata-kata,”Kehebatan anak itu sungguh tidak ada tandingnya untuk usia begitu muda. Andai saja aku dapat melewati hari ini, aku akan berikan semua yang aku miliki kepadanya. Katakan padanya, Ra Jumantara bukan termasuk orang-orang yang kalah.” Seusai bibirnya terkatup, kepala Ra Jumantara terkulai lemas. Ki Rangga memalingkan muka. Raut kesedihan nampak jelas tegurat pada wajahnya. Nyi Kirana menundukkan kepala dan teringat olehnya Ra Jumantara semasa hidupnya saat keduanya bertualang dalam naungan Padepokan Sanca Dawala.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *