Ki Cendhala Geni 11.4 – Gajah Mada

“Baiklah. Dan sebaiknya kau berkata benar.”

Tak lama kemudian Ibhakara memasuki ruangan dimana Ki Cendhala Geni telah menunggunya.

“Sebaiknya kau berkata dengan benar. Aku tidak ingin mendengar para penjilat memberi kabar bohong yang dapat mengusik ketenanganku,” Ki Cendhala Geni berkata pongah seakan-akan ia telah menjadi seorang patih dalam waktu yang cukup lama. Ibhakara menarik nafas panjang melihat kesan angkuh yang ditunjukkan oleh Ki Patih Kahuripan yang baru menjabat. “Mungkin akan lebih baik kau mati di tangan orang-orang Majapahit, orang tua!” Ibhakara memendam geramnya dalam hati.

Ibhakara lalu secara singkat menceritakan apa saja yang dilihatnya ketika meninggalkan Wringin Anom. Ia mengatakan berita-berita yang didengarnya dari prajurit yang meronda. Sudah barang tentu prajurit peronda tidak menaruh kecurigaan padanya yang saat itu mengenakan pakaian prajurit lengkap dengan lambing Kahuripan.

“Sekarang kau dapat kembali ke barak yang telah kau tempati sebelumnya. Atau kau dapat pergi kemana saja,” Ki Cendhala Geni menanggapi Ibhakara. Ia sudah mengambil keputusan terkait kedatangan pasukan berkuda Ki Nagapati dan kelompok pasukan lainnya yang mulai bergerak menuju Kahuripan.

Terhenyak Ibhakara mendengarnya, pikirnya,”apa aku tidak salah dengar? Mengapa orang tua ini begitu mudah memandang peristiwa penting yang membahayakan nyawanya?”

“Pergilah! Selagi usiamu masih begini muda, pergilah jauh-jauh dari bahaya yang sebentar lagi akan datang menerjang seperti badai di lautan. Dan biarkan aku yang sudah tua ini akan menghadapi kematian dengan kebanggaan dan kehormatan,” kata Ki Cendhala Geni sungguh-sungguh. Ibhakara melihat kesungguhan di wajah Ki Cendhala Geni, lalu,”benar kata orang tua ini. Sebaiknya memang aku keluar dari Kahuripan dan persetan dengan yang lainnya!” desah suara hati Ibhakara.

“Baiklah, Ki Patih. Aku meminta diri,” Ibhakara membungkuk hormat dan berlalu meninggalkan Ki Cendhala Geni.

Sepeninggal Ibhakara, Ki Cendhala Geni segera membenahi dirinya dan berjalan keluar menuju regol halaman kepatihan. Seorang prajurit yang menyapa lalu bertanya tujuannya hanya dijawabnya dengan senyum dan lambaian tangan. Langkah Ki Cendhala Geni semakin jauh meninggalkan regol kepatihan, lalu ia menyelinap di antara iring-iringan orang yang akan melewatkan senja di alun-alun kota. Sekejap kemudian ia melayang melewati dinding kota, kemudian berlari cepat menuju ke timur.

“Ki Srengganan! Kau akan menyesali apa yang akan terjadi nanti malam. Lenyapnya Gajah Mada pada malam kita memasuki kota  sudah pasti akan membawa petaka bagi Kahuripan. Dan untuk sementara ini aku biarkan kau menikmati petaka itu sendirian sebagai seorang Bhre Kahuripan,” tawa kecil Ki Cendhala Geni terdengar ketika ia berlari seperti terbang melintasi sawah yang ditumbuhi padi yang masih hijau.

Sebenarnya pada malam ia telah memasuki Kahuripan dengan seluruh kawanannya, Ki Cendhala Geni telah mendengar jika seorang perwira berpangkat rendah berhasil keluar dari Kahuripan. Setelah mengetahui nama perwira itu, maka Ki Cendhala Geni pun menyadari bahwa bahaya besar akan menjemputnya bila ia bertahan di Kahuripan. Gajah Mada merupakan satu nama yang dapat menghadangnya selama di Kahuripan dan juga satu-satunya perwira yang tidak mau tunduk pada Ki Srengganan. Maka sepanjang senja kala itu ia nyaris tanpa berhenti pergi meninggalkan Kahuripan menuju tempat dimana Ubandhana akan menemuinya. Demikianlah hingga kemudian Ki Cendhala Geni terlibat pertarungan seperti yang dikisahkan sebelumnya.

Di waktu yang bersamaan dengan perang kecil untuk membebaskan Arum Sari, Kahuripan sedang dalam keadaan mencekam. Gajah Mada yang telah berada di dalam kota segera menemui setiap prajurit yang setia pada Bhre Kahuripan. Beberapa pesan ia berikan kepada mereka. Dalam gelapnya malam dan kesunyian, sejumlah prajurit yang setia mulai bergerak melumpuhkan kawanan Ki Cendhala Geni. Sementara di luar dinding kota, pasukan berkuda Ki Nagapati telah mengepung di sebelah selatan Kahuripan. Beberapa kelompok pasukan lainnya telah bersiaga di bagian yang lain dengan dibantu oleh pengawal-pengawal pedukuhan yang akhirnya menjadi tahu peralihan kekuasaan di kota.

Rencana yang disiapkan Gajah Mada telah mempersempit ruang gerak para pemberontak yang terdiri dari kawanan penjahat dan prajurit yang tertipu oleh Ki Srengganan. Di dalam rencana itu, Gajah Mada dan para prajurit yang setia pada Bhre Kahuripan mulai mendesak para pemberontak untuk keluar melalui daerah yang dijaga oleh Ki Nagapati beserta pasukannya. Para prajurit yang mendukung Ki Srengganan telah terkurung dalam barak-barak mereka ketika Gajah Mada dan lurah prajurit lainnya mengubah jadwal ronda dan pengawalan. Dan kawanan yang datang bersama Ki Cendhala Geni dan Ubandhana segera menyerahkan driri ketika menyadari kedua pemimpin mereka telah tidak terlihat bersama mereka.

Sementara kawanan penyamun sedang diurus oleh Ki Nagapati beserta pasukannya, Gajah Mada yang dibantu oleh Pawagal memasuki keraton Bhre Kahuripan

“Hanya pasukan Ki Nagapati yang dapat memberiku rasa aman,” begitu kata Gajah Mada dalam hatinya. Gajah Mada tidak melupakan bagaimana usaha keras Ki Nagapati untuk meyakinkan rajanya bahwa Lembu Sora dan Gajah Biru tidak bersalah. Pada suatu ketika, Gajah Mada pernah mendengar Dyah Gitarja, Bhre Kahuripan menceritakan upaya Ki Nagapati yang berusaha bertemu dengan Sri Jayanegara untuk terakhir kalinya.

Tinggalkan Balasan