Pangeran Diponegoro – Tegalrejo 3

“Aku telah mengetahuinya dari seorang kerabat yang sering pergi ke Pajang untuk berdagang. Namun lebih baik jika Ndara Pangeran dapat menyempatkan diri datang ke Surakarta. Wawasan yang ada dalam diri  Ki Pajangswara mungkin akan dapat memberi keterangan lebih banyak dibandingkan denganku. Dengan demikian, Ndara Pangeran dapat mengetahui sikap orang-orang Pajang melalui Ki Pajangswara.”

“Baiklah, pertemuan ini dapat memberiku bahan penting untuk dipikirkan lebih jauh,” kata Pangeran Diponegoro kemudian. Sambil menatap tajam Ki Gede Karangpandan, ia meneruskan ucapannya,”Dan aku juga berharap dapat bertemu dengan Angger Sunan untuk melihat apakah aku mempunyai harapan jika bersandar padanya.” Ki Gede Karangpandan mengangguk pelan. Pangeran Diponegoro menambahkan lagi,”Aku minta Ki Gede datang lagi ke Tegalrejo satu pekan lagi. Dan dalam sepekan itu, aku minta Ki Gede dapat mempersiapkan senjata-senjata yang mungkin sewaktu-waktu akan diperlukan.”

Sejenak kemudian keduanya bercakap-cakap dengan suara setengah berbisik, agaknya Pangeran Diponegoro benar-benar ingin merahasiakan rencananya dari siapapun kecuali orang-orang yang ia kehendaki.

Teja merah perlahan memudar di kaki cakrawala, Ki Gede Karangpandan segera meminta diri dari hadapan Pangeran Diponegoro. Beberapa kesepakatan untuk rencana telah mereka susun, dan agaknya Pangeran Diponegoro masih membutuhkan waktu untuk menilai ulang secara keseluruhan sebelum ia pergi ke Surakarta.

‘Secepatnya aku akan ke kraton. Aku harap Paman Pangeran Mangkubumi tidak pergi terlalu jauh sehingga beberapa pangeran dapat diajak duduk bersama mengenai apa yang sedang aku pikirkan.’ Begitu pikir Pangeran Diponegoro yang kemudian melangkah masuk ke pringgitan.

Saat hari mulai gelap, beberapa orang mulai meronda mengelilingi Kademangan Tegalrejo. Seringkali mereka meronda hingga batas luar kademangan dan bertemu dengan satu atau dua kelompok prajurit yang dipimpin orang berkulit pucat. Tidak jarang suasana tegang terjadi apabila mereka sama-sama tidak mau mengalah ketika berpapasan dalam ruas jalan yang sempit. Namun begitu, para pemimpin kelompok masih dapat mengendalikan keadaan sehingga tidak terjadi benturan keras.

“Bantheng!” memanggil Pangeran Diponegoro pada seorang pelayannya yang setia dan bertubuh kecil.

Ndara Pangeran,” jawabnya sambil memberi hormat.

“Aku ingin kau mengirimkan gulungan kertas ini ke banyak tempat di perbukitan Menoreh dan sekitar Merapi. Beberapa prajurit berkuda akan mengawal kepergianmu,” kata Pangeran Diponegoro seraya menyerahkan sekantung kulit yang berisi lembaran-lembaran kertas yang tergulung rapi. Bantheng -menerima kantung kulit itu dan meletakkan dengan hati-hati disebelah tempatnya duduk. Pangeran Diponegoro lurus menatapnya lalu berkata,”Aku ingin kepergianmu kali ini tidak diketahui siapapun, terutama orang-orang yang bekerja di dalam kraton. Aku akan mengatakan pada lurah prajurit untuk membawa satu atau dua orang dalam penyamaran kali ini.”

“Aku hanya khawatir jika kedatanganku akan diacuhkan oleh mereka yang akan menerima lembaran yang Ndara Pangeran kirimkan,” kata Bantheng dengan wajah menunduk.

“Tidak!” tegas Pangeran Diponegoro memberi jawaban. Ia menambahkan,”Bahkan dengan kehadiranmu dalam pengawalan prajurit justru akan menegaskan jika sebenarnya aku sendiri yang mengirimkan pada mereka.”

Bantheng tidak dapat lagi membantah perintah Pangeran Diponegoro. Memang Bantheng adalah salah satu pelayan atau abdi dalem yang sangat setia pada Pangeran Diponegoro. Setiap orang yang akan berbicara atau bertemu dengan Pangeran biasanya akan berusaha bertanya pada Bantheng atau Joyosuroto mengenai keadaan hati Pangeran. Oleh karenanya tidak seorang pun bangsawan Ngayogyakarta dan Surakarta serta pemimpin daerah di sekitarnya yang memandang rendah kedua abdi dalem Pangeran Diponegoro.

Sendika dawuh, Ndara Pangeran,” kata Bantheng.

“Nah, sekarang kau dapat bergegas mempersiapkan dirimu. Dan aku minta kau panggil Ki Lurah Ambarukmo kemari,” perintah Pangeran Diponegoro mengakhiri pertemuan empat mata dengan abdi dalem yang bertubuh kecil dan lincah itu.

“Ki Lurah,” berkata dengan hormat Pangeran Diponegoro ketika Ki Lurah Ambarukmo telah berada di hadapannya. Seraya mengulurkan tombak pendek berselongsong kain berwarna coklat, Pangeran berkata,”Kau akan menjadi kawan seperjalanan bagi Bantheng. Ia akan menjadi duta bagiku untuk membawa pesan-pesan pada setiap pemimpin yang berada di daerah ini.” Kemudian Pangeran Diponegoro menyebutkan nama-nama sejumlah daerah. Ki Lurah Ambarukmo mengernyitkan dahinya karena ia tahu jika apa yang disebutkan oleh Pangeran adalah wilayah yang sangat luas.

Lalu ia memanggil seorang pelayan yang bertubuh kecil dan memberi perintah,” Malam ini kau siapkan segala keperluan karena aku akan berangkat dari Kraton Mataram.” Kemudian ia berkata lagi,”aku akan mengumpulkan semua saudara-saudaraku untuk menguatkan mereka agar tetap menolak sewa menyewa dengan orang-orang pucat itu.”

“Lalu apa yang akan Ndara Pangeran lakukan?” tanya Roto.

“Aku akan menunggu waktu yang tepat. Dan dalam waktu sepanjang yang aku butuhkan, aku masih akan mengamati keadaan yang dapat saja berubah kapan saja. Aku tidak ingin mengangkat senjata sementara aku belum mengendapkan gejolak kemarahanku,” jawab Pangeran Diponegoro dengan suara pelan namun menggetarkan hati Roto.

“Dan Ndara Pangeran akan kembali ke Kraton?” Roto bertanya lagi.

“Aku akan kembali. Aku tidak mungkin membiarkan Adimas Gatot Menol berada di lingkungan yang akan mempengaruhinya menjadi buruk,” jawab Pangeran Diponegoro yang kemudian berdiri lalu meminta Roto, abdi dalem, untuk menyiapkan kuda.

Sejenak kemudian dengan diiringi dua abdi dalem dan dua orang prajurit, Pangeran Diponegoro menuju Kraton.

Pada waktu itu, di sebuah bangunan besar yang terletak di utara Kraton Mataram, Residen Smissert berbicara empat mata dengan Patih Danurejo IV.

“Apakah kau telah mempunyai gagasan agar para pangeran rela melepas tanah mereka?” bertanya Residen Smissert.

“Belum, Tuan Residen. Banyak pangeran yang belum mau mengikuti kemauan kita dan mereka benar-benar keras kepala,” jawab Ki Patih Danurejo.

“Lalu apakah kau tahu apa yang menjadi hambatan mereka?”

“Diponegoro, Tuan Residen,” jawab Ki Patih Danurejo IV dengan wajah terangkat. Residen Smissert menatap tajam wajah Ki Patih Danurejo. Ia berkata pelan,” kau lebih mengetahui keadaan dirinya daripada aku.”

Residen Smissert bergeser dua langkah, kemudian ia berkata,” Bukankah kau menjadi seorang patih karena jasa Diponegoro? Dan aku mempunyai sebuah pemikiran bila sebenarnya kau sendirilah yang takut menghadapi Diponegoro.”

Kata-kata Residen Smissert menghunjam jantung Ki Patih Danurejo. Ia sama sekali tidak mengira jika orang berkulit pucat itu akan menguak peristiwa yang menjengkelkan Pangeran Diponegoro.

“Sekarang kau dapat menimbang kembali semua usaha-usahamu saat mempengaruhi para pangeran dungu itu. Dan katakan segera padaku jika kau memang tidak sanggup melakukan. Sehingga aku dapat mencari orang yang tepat untuk menggantikanmu,” Residen Smissert memberi tekanan pada Ki Patih Danurejo IV.

“Dan aku akan membongkar semua kebusukanmu, Tuan Residen. Kita berdua akan sama-sama mengalami kehancuran,” tantang Ki Patih Danurejo IV.

“Aku mengingatkanmu kembali, Sumodipuro,” kata Residen Smissert penuh amarah. Ia melanjutkan,” residen sebelum aku, Crawfurd, memaksa diri membawa nama Pringgodiningrat yang sebenarnya ditolak oleh Diponegoro. Dan namamu juga diajukan dengan alasan tertentu. Tentu saja kau tidak mengerti apa yang menjadi pertimbangan kami saat meyakini jika Diponegoro akan setuju dengan namamu.” Smissert mengetukkan tongkatnya ke lantai. Kembali ia berbicara panjang,” Crawfurd menimbang namamu karena kelak kau akan berperan sebagai kepanjangan tangan kami dalam mendekati para bangsawan Mataram. Dan ternyata sejak kau diangkat sebagai Patih, kau belum cukup baik menjalankan tugas-tugas yang kami berikan padamu.”

Ki Patih Danurejo IV menjadi merah padam mukanya. Akan tetapi ia adalah orang yang dapat memanfaatkan keadaan dan termasuk orang yang bernalar panjang. Sejenak kemudian air mukanya kembali tenang. Datar. Seperti tidak terjadi apapun dengan kata-kata pedas Residen Smissert.

“Sebenarnya keadaan dirimu tak berbeda jauh denganku, Smissert,” kata Ki Patih yang sebenarnya juga tersinggung dengan ucapan Residen Smissert.

“Para pangeran dan pengikutnya sebenarnya ingin mengusirmu keluar dari Mataram. Mereka telah memberi penilaian jika kau adalah orang rendah yang telah menghina harga diri Kraton Mataram. Akan tetapi mereka cukup hati-hati agar tidak lagi terjadi pencurian benda-benda penting Kraton,” kata Ki Patih Danurejo IV yang sebetulnya juga masih menyimpan dendam karena penjarahan yang dilakukan oleh orang-orang berkulit pucat. Akan tetapi ia sulit untuk mengatakan jika ia sendiri melakukan kerjasama yang saling menguntungkan dengan orang berkulit pucat.

Residen Smissert mengangkat tangannya dan meminta Ki Patih Danurejo IV untuk diam.

Kemudian ia berkata,” Sudahlah! Kita tidak seharusnya terlarut dalam pertengkaran yang tidak berguna ini.

Ki Patih Danurejo menarik nafas dalam-dalam lalu katanya,”Katakan apa rencanamu kemudian!”

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan