Bara di Borobudur 28 – Bondan Terluka

“Ia seorang lelaki terhormat. Dan mungkin ia adalah satu-satunya orang jahat yang tidak pernah menyakiti seorang perempuan,” desah Nyi Kirana yang kemudian larut dalam kesedihan.

“Marilah, Nyi. Semua sudah berakhir dan kita harus menempatkan segala sesuatu pada tempat yang semestinya,” kata Ki Rangga setelah beberapa saat membiarkan Nyi Kirana hanyut dalam suasana yang mengingatkannya pada mas yang telah lewat. Nyi Kirana bangkit berdiri dan berjalan untuk melihat keadaan Bondan. Didapatinya Ki Hanggapati sedang berusaha mengobati Bondan dengan menyalurkan tenaga inti untuk memperkuat urat syaraf yang terguncang karena benturan dahsyat dengan Ra Jumantara.

“Biarkan aku yang menyelesaikan urusan ini, Ki Rangga,” berbisik Nyi Kirana yang keningnya berkerut melihat Ki Hanggapati. Pandangan tajam Nyi Kirana segera mengerti jika Ki Hanggapati akan mengalami kesulitan yang dapat membawa akibat buruk bagi dirinya sendiri jika ia memaksa kemampuannya untuk membenahi bagian dalam tubuh Bondan. Dan ia juga merasakan bahwa setiap mata kini memandangnya dengan penuh keraguan.

Sejenak Ken Banawa menatap mata Nyi Kirana dengan tatapan penuh selidik. Menyadari keraguan yang bersandar dalam dada orang-orang yang berdiri di hadapannya, Nyi Kirana kemudian berkata lagi,”Ki Rangga dan semuanya, mungkin aku adalah perempuan yang tidak tahu diri atau mungkin kesucian dan kemuliaan telah hilang dariku. Akan tetapi aku mempunyai hak untuk berbuat kebaikan.” Ia kemudian mengatupkan bibirnya. Tatap matanya kemudian beralih ke tubuh Bondan yang lunglai di atas tanah berumput. Nyi Kirana menarik nafas dalam-dalam lalu berkata lagi,”Kalian adalah orang-orang yang mempunyai jiwa satria dan kejantanan tidak akan pernah lepas dari martabat yang kalian sandang. Sekarang aku bertanya pada kalian, apakah jika aku mengobati anak muda ini lalu sifat jantan dan martabat kalian akan segera musnah?”

Setiap orang yang merasa mendapat pertanyaan seperti itu segera menundukkan kepala, lalu Ki Swandanu berkata,”Tidak ada pemikiran seperti yang kau duga, Nyi. Akan tetapi aku harap kau dapat mengerti perasaan kami ketika menerima perlakuan di pedukuhan itu hingga awal malam tadi.”

Suasana semakin hening. Bondan terdengar mengerang perlahan kemudian tidak sadarkan diri kembali. Ki Swandanu memandang Ki Hanggapati dengan kening berkerut. Sementara Ki Hanggapati  dengan penuh kesadaran mengakui kebenaran kata-kata Nyi Kirana. Jalutama dengan gelisah dan raut wajah yang menyiratkan kecemasan lekat menatap wajah pucat Bondan. Dalam keadaan seperti itu, Ki Rangga Ken Banawa kemudian mengambil keputusan penting.

“Aku berpikir buruk tentang Nyi Kirana. Karena ia dapat saja sengaja untuk menyerah agar dapat menikam dalam lipatan,” berkata Ken Banawa. Nyi Kirana terkejut dan tidak menyangka Ki Rangga akan berkata begitu tajam menusuk hatinya. Namun ketika ia akan membela diri, Ki Rangga telah membuka bibirnya,” dan aku dapat saja menghilangkan nyawanya jika ia sengaja membunuh Bondan dalam keadaan seperti ini.”

“Tetapi itu semua tidak akan menyembuhkan Bondan, apalagi menghidupkannya kembali. Jadi, dengan pandangan dan wawasan sebagai manusia biasa, aku minta kalian semua memberi kelonggaran pada Nyi Kirana untuk menangani  Bondan,” kata Ken Banawa tegas.

Jalutama yang tidak ingin kehilangan Bondan yang telah dianggapnya sebagai saudara, dan ditambah sakit hatinya pada Padepokan Sanca Dawala kemudian bangkit lalu,”Aku akan mengutukmu jika akhirnya kau membunuh anak ini.” Tajam Jalutama menatap Nyi Kirana.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *