Ki Cendhala Geni 12 – Menyelamatkan Arum Sari

Beberapa pekan sebelum kedatangan Bhre Kahuripan di kotaraja, seorang lelaki yang memakai pakaian kebesaran seorang prajurit memasuki halaman keraton Sri Jayanegara. Ia didampingi tiga orang yang juga mengenakan pakaian prajurit.

“Ki Nagapati,” seorang penjaga regol halaman menyapa. Ki Nagapati membalasnya dengan anggukkan kepala. Raut wajah dengan garis-garis tegas yang terukir pada kulitnya menyebar kegagahan yang berbeda dengan pemimpin prajurit lainnya. Senyum di bibirnya juga tak pernah lepas setiap kali bertemu dengan prajurit yang berada di bawahnya. Ia begitu ramah namun sikap gagah dan berwibawa tampak dari bahasa tubuhnya.

“Aku ingin bertemu dengan Sri Jayanegara,” kata Ki Nagapati kepada Pelayan Dalam. Lalu orang itu mendekati dan berbicara perlahan pada Ki Nagapati. Raut muka Ki Nagapati sedikit pucat dan tidak mengesankan bisikan itu adalah kabar yang enak didengar. Pelayan Dalam menyadari perubahan yang terjadi akan tetapi ia harus bersikap sebagaimana yang diperintahkan kepadanya.

“Jika setiap jalan telah ditentukan arahnya, yang akan terjadi semestinya sudah dapat diketahui oleh Raja. Apakah ia sudah mengetahui tentang tujuan orang itu?” bertanya Ki Nagapati. Pelayan Dalam menjawab dengan gelengan kepala.

Lalu Ki Nagapati melanjutkan,”aku hanya ingin mengatakan kepadanya, dan seharusnya ia dapat mendengar melalui bagian yang berbeda. Kakang Lembu Sora dan Gajah Biru sudah lama meninggal dunia. Aku tidak ingin meminta Sri Jayanegara untuk menghidupkan mereka berdua kembali. Aku hanya ingin menjelaskan bagaimana persoalan sebenarnya agar tidak ada lagi orang yang akan saling menyalahkan di kemudian hari. Apakah kau bersedia menyampaikan padanya apa yang aku katakan tadi?”

“Aku akan mencobanya, senapati,” kata Pelayan Dalam membungkuk hormat.

Ki Nagapati terdiam beberapa saat lamanya, agaknya ia sedang mempertimbangkan apakah akan memaksa diri menemui Sri Jayanegara atau kembali ke barak prajurit. Ia menghela nafas panjang, lalu berkata,”baiklah. Aku akan kembali ke barak. Dan mungkin kedatanganku yang terakir kalinya di tempat ini. Dan katakan juga kepadanya mungkin beberapa pekan ke depan ini ia sudah tidak lagi menjadi seorang raja!” Ia berbalik arah dan melangkah lebar meninggalkan halaman keraton. Pelayan Dalam itu mengerti arah perkataan Ki Nagapati karena berita tentang pasukan sehamparan tebasan parang memang sudah terdengar luas. Lalu ia memutar tubuhnya dan kembali masuk ke ruang tengah.

Hari demi hari menapak pasti meninggalkan masa kelam dan kebahagiaan yang pernah dilalui. Pergolakan yang tidak terlihat di permukaan kini mulai mengarahkan taringnya ke kotaraja. Segelintir orang mulai memainkan keadaan yang meremang. Akan tetapi masih sedikit orang yang berani memanjangkan tangannya untuk menepuk air secara langsung dalam suasana remang. Kademangan Wringin Anom adalah permulaan untuk mengukur kekuatan yang sebenarnya dari tangan hitam yang menutup langit kotaraja.

Rencana besar itu telah diawali oleh Patraman yang tidak kuasa menahan gejolak untuk membawa dirinya menjadi lebih tinggi. Di hadapan Gumilang Prakoso, ia berkata,“kewibawaan hanya dirasakan oleh orang yang mengalami masa itu, sedangkan kewibawaan sendiri adalah sesuatu yang hanya dirasakan orang lain. Bukan oleh pelakunya sendiri. Kewibawaan berbeda dengan kekuatan. Berbeda pula dengan kebahagiaan. Dan bagiku kebahagiaan adalah jika berhasil membawa Arum Sari. Pahami itu Gumilang!” derai tawa Patraman terdengar menyayat hati. Hal itu dirasakan oleh Arum Sari yang mendengar jelas percakapan kedua anak muda di luar kereta. Kata-kata itu terus bergema di dalam telinganya hingga dia merasakan bahwa hidupnya sebentar lagi akan mengalami kehancuran.

“Gila! Benar-benar gila!” Arum Sari menghentak-hentak kakinya.

Apa yang diungkapkan Patraman sebenarnya merupakan luapan kegelisahan hatinya. Betapa dia telah membayangkan hukuman yang akan diterima dari Patih Mpu Nambi. Dia membayangkan dirinya telah tergantung di utara alun-alun ibukota. Terbayang pula wajah ayah dan ibunya yang tidak akan mampu mengangkat kepala. Kedua orang tuanya akan berjalan dengan kepala tunduk begitu malu dan mungkin juga terhina. Namun Patraman sudah berkeras hati bahwa apa yang dia lakukan adalah sebuah keyakinan tentang kebahagiaan.

Sejenak kemudian keduanya terlibat dalam pertarungan yang mendebarkan. Kedua pedang anak muda ini saling mematuk dan bergulung-gulung seperti angin prahara. Beberapa waktu telah berlalu keduanya masih dalam keadaan seimbang. Patraman telah mengenal beberapa dasar gerakan Gumilang dan begtu pula sebaliknya. Keduanya telah saling mengenali dasar gerakan masing-masing.

Tinggalkan Balasan