Ki Cendhala Geni 13 – Penyelamatan Arum Sari

Dan ada perbedaan yang mendasari pertarungan kedua pemuda yang keras hati ini. Patraman merasa harus mampu memenangkan perang tanding ini karena dia tak akan mau dirinya digantung di hadapan banyak orang. Sedangkan mati masih belum menjadi pilihan bagi Patraman. Karena baginya, Arum Sari merupakan pijakan awal untuk meraih kedudukan lebih tinggi bahkan jika mungkin adalah berhadapan langsung dengan kekuatan pasukan Majapahit. Di pihak yang berseberangan, Gumilang merasa bahwa dia harus dapat menundukkan Patraman dalam keadaan hidup atau mati. Menurutnya hanya dengan begitu maka akar permasalahan yang timbul di Wringin Anom dapat diselesaikan. Wringin Anom bagi Gumilang bukanlah sekedar kademangan atau pedukuhan besar, tetapi juga menyimpan ancaman yang sewaktu-waktu bisa saja membakar seluruh wilayah di sekitar Brantas  sekalipun ki demang sama sekali tidak menunjukkan sebagai orang yang haus kekuasaan.

Rencana manusia memang tak selamanya akan dapat berjalan sesuai harapan. Angan-angan Patraman ini harus menghadapi kenyataan bahwa dia akan mendapat rintangan yang cukup berat.

Meskipun Ki Cendhala Geni terkesan bekerja untuknya akan tetapi ternyata sejauh ini Ken Banawa cukup mampu mengimbangi kekuatan Ki Cendhala Geni. Menyebut nama ini seperti mengucapkan nama seorang penguasa di sepanjang pesisir Laut Selatan hingga lereng Gunung Lawu. Dan tentu saja Ki Cendhala Geni tidak mempunyai cara berpikir yang pendek seperti yang diduga Patraman.

Melalui satu benturan lalu kedua orang muda ini terlempar surut dan sejenak kemudian saling berhadapan dengan garang. Menggeser selangkah ke belakang dengan lengan kanan tegak lurus sambil menjulurkan pedang, siku kiri Gumilang berada lekat di punggung tangan dengan gagang menempel erat di dagunya. Mata tajam Gumilang menatap seperti elang yang mengincar monyet yang berloncatan di antara ranting pohon. Patraman mengangkat kedua lengannya seperti kepak garuda. Kedua lutut yang ditekuk dan tubuh yang direndahkan ini menunjukkan pertahanan tangguh namun dapat berubah secepat kilat menjadi serangan maut.

Seperti ada aba-aba yang menggerakkan, dalam waktu hampir bersamaan keduanya saling menerjang. Langkah kecil Gumilang sangat cepat menghampiri Patraman yang dengan sekali lompat telah menyambut serangan Gumilang. Hantaman keras kedua senjata tidak dapat dihindarkan. Patraman merasakan sakit merambati pangkal bahunya. Sekejap dia termangu terheran-heran dengan kekuatan Gumilang. Nyaris saja kepalanya terpisah dari badan bila ujung matanya tidak menangkap desir pedang Gumilang. Dia melenting ke belakang untuk sedikit mengambil jarak dan dengan sepenuh tenaga menerjang Gumilang. Sekejap kemudian keduanya terlibat dalam pertarungan sengit. Pedang Patraman meliuk-liuk menebas ke arah Gumilang. Menerima terjangan sengit seperti topan prahara, Gumilang pun segera membuat perisai dengan memutar pedang dan menjulurkan belatinya untuk mematuk apa saja bagian tubuh Patraman.

Selain Patraman yang sudah ciut harapan untuk selamat dari hukuman yang akan menimpanya, dia juga mempunyai harapan agar Laksa Jaya mampu membawa pergi Arum Sari selagi dia dan kawan-kawannya menahan Gumilang dalam lingkaran-lingkaran kecil pertarungan kedua kelompok ini.

Gumilang segera menguasai keadaan lawannya dengan serangan yang bertubi-tubi saling bersusulan. Sama sekali tidak ada ketimpangan dalam serangan gencar dan cenderung ganas dari Gumilang. Kemampuannya meningkat pesat dalam bimbingan Ken Banawa dan gurunya, Ki Dipa Balawan yang sering dia kunjungi setiap beberapa bulan sekali untuk sekedar melihat keadaan seseorang yang berjasa besar bagi dirinya. Lawan Gumilang bukanlah anak muda yang baru saja berkelahi, namun Patraman pun sudah banyak terjun langsung dalam perkelahian seorang demi seorang maupun sebagai prajurit Majapahit.

Patraman dengan cerdas membawa Gumilang bergeser lebih jauh dari Arum Sari.

Dia berharap Arum Sari akan mampu disergap Laksa Jaya dan segera melarikan gadis kesayangan orang-orangWringin Anom secepatnya. Hiruk pikuk pertarungan kedua kelompok ini diyakini akan dapat membantu memuluskan rencananya, begitu pikir Patraman.

Terdengar keluhan pendek tertahan dan seseorang roboh bermandikan darah yang keluar dari batang lehernya.

Sebatang keris yang berukiran pohon jati pada gagangnya telah menembus leher Laksa Jaya.

Hati Patraman berdesir dan dirinya untuk sejenak telah dikuasai rasa tidak percaya bahwa Laksa Jaya akhirnya roboh tak berkutik lagi. Deru angin yang berasal dari gerak pedang Gumilang mengejutkan dirinya. Merendahkan tubuhnya sedikit ke kiri dia berhasil lepas dari bahaya maut. Dia tidak mengingkari bahwa dirinya sekarang dicengkeram kegelisahan kegagalan atas usahanya untuk menculik Arum Sari. Sekilas diliriknya kedudukan Ki Cendhala Geni yang ternyata masih seimbang dengan Ken Banawa dan Ubandhana yang mulai keteteran melawan Bondan, Patraman pun merencanakan untuk melepaskan diri dari tekanan Gumilang.

Tinggalkan Balasan