Pangeran Diponegoro – Tegalrejo 4

“Mudah bagimu untuk berkata seperti itu! Akan tetapi kau selalu memulai percakapan yang sama jika ada sesuatu yang kau anggap sebagai kesalahanku,” kata Ki Patih Danurejo dengan nada tinggi. Ia berjalan satu dua langkah mendekati jendela besar yang berada di sebelah barat, dengan bertolak pinggang ia menunjuk ke wajah Residen Smissert dan katanya,”Mulai hari ini kau jangan berpikir jika aku tunduk dalam perintahmu. Tetapi kedudukan kita adalah sederajat. Aku dapat menolak perintahmu yang tidak membawa kebaikan bagiku, Tuan Residen.”

Dengan muka merah menahan amarah, Residen Smissert bangkit dan meninggalkan Ki Patih Danurejo tanpa sepatah kata.

Malam yang merangkak perlahan tidak menjadi penghalang bagi rombongan kecil Pangeran Diponegro yang mengambil jalan memutar menuju Kraton Yogyakarta. Mereka lantas mengambil jalan yang berbelok ke utara menuju sebuah rumah kecil yang terletak agak jauh dari Kraton.

“Berhati-hatilah! Ada seorang pengintai yang berada di depan kita,” bisik Pangeran Diponegoro. Para pengawalnya menganggukkan kepala dan menarik senjata mereka dari lambung kuda.

“Sarungkan kembali! Kita belum mengetahui siapa dan maksudnya bersembunyi,” perintah pangeran Diponegoro dan menarik kekang kuda agar berjalan lebih lambat. Ia berkata lagi,”Susun barisan dan tetaplah bersiaga!” Orang-orang yang mengikutinya segera menimpan kembali senjata mereka dan mengambil jarak yang cukup dari Pangeran Diponegoro. Dalam keadaan itu, para pengawal semakin mengagumi jiwa dan semangat Pangeran Diponegoro yang justru berada di ujung depan iring-iringan. Dari balik semak-semak yang berbaris di tepi jalan tiba-tiba muncul seorang lelaki yang bertubuh besar. Ia mengeluarkan secarik kain yang terikat pada ujung bambu dan dari bibirnya ia mengucapkan kata-kata tertentu. Ia melangkah lebar dan mengenalkan dirinya sebagai pengawal Pangeran Mangkubumi.

“Apakah Pangeran Mangkubumi berada di dalam rumah?” tanya Pangeran Diponegoro.

“Ya,” jawab pengawal itu ,“Pangeran Mangkubumi dan yang lainnya baru datang petang tadi.”

Pangeran Diponegoro memperhatikan keadaan sekelilingnya.

“Kau yakin tidak ada yang mengikuti?” Pangeran Diponegoro melanjutkan.

“Tidak ada,” berkata pengawal itu lalu, “aku keluar dari Kraton sejak siang tadi dan berada di satu dua tempat yang telah ditentukan oleh Pangeran Mangkubumi.”

“Baiklah,” kata Pangeran Diponegoro kemudian melompat turun dari kuda. Seperti rencana semula, para pengikut Pangeran Diponegoro lantas berpisah sambil menuntun kuda mereka dan menyebar di sekeliling tempat mereka bertemu dengan pengawal Pangeran Mangkubumi. Dalam pada itu, Pangeran Diponegoro berjalan kaki dengan cepat dan hanya diiringkan oleh pengawal yang ditunjuk Pangeran Mangkubumi.

“Aku kira Kakang Diponegoro telah berada di sekitar tempat ini,” berkata Pangeran Tanpa Nangkil. Beberapa saudara dan kerabatnya telah berkumpul dan duduk berkeliling di ruang tengah.

Pangeran Mangkubumi memandangnya lalu,” Apakah kau dapat memperkirakan rencana yang akan disampaikan oleh kakakmu?”

“Aku dapat mengerti jalan pikiran Kakang Pangeran, Paman. Tetapi lebih baik adalah kita semua menunggu gagasan yang akan disampaikan oleh Kakang Diponegoro pada kita semua,” jawab Pangeran Tanpa Nangkil. “Sementara sambil menunggu saat yang mungkin telah dirancang Kakang, aku ingin katakana pada Paman jika kami semua telah siap memberi dukungan apapun yang diperlukan oleh Kakang Pangeran.”

Kini semua orang yang hadir di ruangan itu menganggukkan kepala. Lalu Ki Tumenggung Natadiningrat, seorang pengikut setia Raden Rangga yang mempunyai pengalaman tempur melawan orang berkulit pucat, berkata,”Mungkin nanti aku akan mengusulkan agar Ndara Pangeran mulai melepaskan pandangan keluar dari Tegalrejo. Ndara Pangeran pasti akan membutuhkan tempat lain di luar Tegalrejo.”

Tiba-tiba terdengar daun pintu yang diketuk dengan irama tertentu. Pangeran Mangkubumi segera memerintahkan seorang prajurit untuk memeriksanya.

Ndara Pangeran telah berada disini,” kata prajurit.

Pangeran Mangkubumi mengangguk. “Ya” jawabnya. “Persilahkan mereka masuk.”

Maka sejenak kemudian Pangeran Diponegoro telah berada di ruang tengah dan duduk bergabung dengan saudara-saudaranya yang lain. Untuk beberapa lama ia seperti merenungkan sesuatu. Lalu ia mengawali dengan nada datar. Katanya,” Kita berkumpul disini untuk menyusun kekuatan yang ada pada diri kita masing-masing.”

Sesaat ruangan itu menjadi sepi dan sunyi. Mereka masing-masing hanyut dalam arus angan-angannya.

Ki Tumenggung Natadiningrat kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,” Aku akan berada di Tegalrejo sampai Ndara Pangeran benar-benar merasa siap. Dalam masa itu, aku akan menggunakan beberapa orang sebagai penghubung untuk memberitahukan setiap perkembangan keadaan di lereng Merapi dan Merbabu.”

Pangeran Diponegoro menoleh ke arahnya dan mengangguk. Katanya,“Kita tidak akan pergi ke Tegalrejo besok pagi. Kita tuntaskan segala pembahasan malam ini hingga satu hari esok.”

“Baiklah, aku kira Ki Tumenggung sudah jelas menyatakan tempatnya berpijak,” kata Pangeran Mangkubumi yang kemudian bangkit berdiri dan berjalan pelan memutari orang-orang yang duduk diatas tikar. Lalu ia berkata lagi,”Apakah sudah ada tanda-tanda Ki Patih Danurejo akan melakukan perintah Residen?”

“Mungkin. Aku mendengar Ki Patih mengirim banyak orang untuk mempercepat penarikan uang sewa menyewa,” kata Pangeran Tanpa Nangkil.

“Itu bukan sewa menyewa,” kata seorang pangeran yang duduk sebelah menyebelah dengan Pangeran Tanpa Nangkil. Dengan nada tinggi kemudian ia berkata lagi,”Sewa menyewa adalah perjanjian yang saling memberi keuntungan bagi setiap pihak yang terikat dengan perjanjian. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Kompeni adalah sebuah penindasan.” Rahangnya tampak mengeras menahan gejolak amarah dalam dadanya.

“Benar!” kata Pangeran Diponegoro tenang. “Tujuan mereka di tanah ini adalah membawa kehancuran. Mereka memerlukan segala kekayaan dan semua yang kita miliki di atas tanah ini. Aku tidak melihat sebuah upaya dari orang berkulit pucat itu yang membawa kebaikan bagi setiap orang yang hidup dan mati di atas tanah ini. Apalagi, jika benar kabar yang mengatakan jika uang sewa menyewa ditarik lebih cepat dari biasanya. Sementara masa sekarang bukanlah masa panen besar. Kita baru saja menabur benih di sawah dan kolam-kolam. Ini bukan perjanjian yang menguntungkan.”

Maka tidak lama kemudian orang-orang yang berkumpul di ruang tengah kediaman Pangeran Mangkubumi mulai mengutarakan pendapat dan perasaan masing-masing.

“Baik, aku akan mengambil tempat di belakang Kakang Diponegoro,” kata Pangeran Tanpa Nangkil yang kemudian diikuti oleh para pangeran yang lain kecuali beberapa orang saja.

“Aku tidak dapat memberi persetujuan atas gagasan Kakang Pangeran,” kata seorang pangeran yang berbaju warna ungu. Ia mengatakan lagi,”Sebenarnya masih ada jalan lain yang lebih baik.”

“Katakan apa yang kau pikirkan, Wirageni!” Pangeran Diponegoro berkata.

“Jangan panggil aku Wirageni!” seru pageran berbaju ungu dengan wajah terangkat dan pandangan tajam ke arah Pangeran Diponegoro. Raut wajahnya menjadi merah padam kemudian ia berkata,”Diam adalah sebuah pilihan ketika kehancuran dan masa depan yang tidak jelas telah terpampang di depan mata.”

“Diam melihat langkah kaki menuju kehancuran bukanlah tindakan terpuji, tetapi diam akan menjadi keputusan akhir bagi mereka yang menganggap segala sesuatu adalah milik mereka,” suara Pangeran Diponegoro terasa menusuk hati orang-orang yang berencana untuk bersikap diam.

Lalu ia menambahkan,”Sebenarnya tidak ada yang tahu tentang apa yang akan terjadi. Yang aku ketahui pada saat ini adalah sebuah aku mempunyai keyakinan jika aku harus bergerak.” Sejenak Pangeran Diponegoro mengendapkan perasaannya, ia berkata lagi,”Kita tidak mewariskan kehancuran untuk anak-anak dan keluarga kita di masa mendatang. Kita tidak mewariskan tanah ataupun darah, karena mungkin saja kita akan kehilangan semuanya. Namun satu hal yang pasti adalah kita meninggalkan sejarah bagi mereka yang akan lahir di masa depan. Mereka akan menilai tentang siapa dan apa yang akan kita lakukan hari ini.”

“Mungkin hari ini orang berkulit pucat hanya mengambil keuntungan dari kita, dan esok hari mereka akan mengambil anak-anak kita, dan pekan depan mereka akan mengambil ayah dan ibu atau mungkin setiap orang yang kita sayangi akan akan mereka rebut dari perlindungan kita. Dan apabila hari itu tiba, apakah kalian akan tetap berdiam diri?” pertanyaan pangeran Diponegoro dengan nada tinggi itu membawa pertemuan menjadi mencekam. Setiap orang tanpa sadar telah meraih senjata masing-masing.

“Besok siang aku akan berada di Tegalrejo,” kata Ki Tumenggung Natadiningrat kemudian.

Pangeran Diponegoro lantas mengangguk, ia memminta kepada semua yang hadir di tempat itu untuk merenungkan kembali bahan-bahan yang menjadi pembahasan malam itu.

Dalam pada itu, Pangeran Mangkubumi segera berkata,“Tetapi Ki Tumenggung harus melakukan kajian ulang dan menilai kembali setiap rencana yang telah disusun oleh Ki Tumenggung. Kami, maksudku, aku dan Angger Diponegoro akan segera menemuimu di Tegalrejo untuk menguji apa yang telah kau rencanakan.”

Ki Tumenggung Natadiningrat mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia bertanya,“Apakah  Ndara-ndara Pangeran yang lain telah mempunyai keputusan?”

“Kau tidak layak bertanya seperti itu pada kami, Ki Tumenggung!” sergah Wirageni.

“Dia mempunyai kedudukan yang layak untuk bertanya, Pangeran!” Pangeran Mangkubumi melakukan pembelaan.

“Apakah perlawanan ini akan bermanfaat untuk diperjuangkan?” pertanyaan itu melonjak di dalam  dada setiap orang yang mempunyai keraguan. Satu dua pangeran ia dibayangi oleh masalah-masalah yang mengerikan baginya. Sawah, ladang, hewan ternak dan benda-benda berharga lainnya akan segera menjadi milik orang lain atau hangus terbakar apabila api mulai membakar setiap jengkal wilayah Kesultanan Yogyakarta.

Tiba-tiba saja terdengar suara Pangeran Mangkubumi,“Angger Pangeran sekalian, apakah kalian sudah menemukan gambaran sebelum membuat satu keputusan yang mantap?”

Tinggalkan Balasan