Kitab Kiai Gringsing – 1

Terdengar kicauan burung-burung liar di pepohonan yang tumbuh di belakang pekarangan sebuah rumah yang dihuni oleh sebuah keluarga kecil. Langit yang cerah menjadikan hamparan pemandangan yang berada lereng Merapi begitu indah. Sesekali pedati melintasi jalan yang terjulur di bagian depan rumah keluarga Ki Rangga Agung Sedayu. Tetapi pagi itu, keadaan sekitar rumah dan lingkungan tetangga nampak sepi.

“Apakah kau tidak melihat keadaan barak, Kakang?” tanya Sekar Mirah.

Agung Sedayu menggelengkan kepala dan katanya,”Aku telah meminta Sukra untuk pergi ke sana dan menemui Ki Lurah Sanggabaya. Aku katakan jika aku akan setelah matahari sedikit lingsir ke barat.”

Sekar Mirah menganggukkan kepala lantas menuangkan wedang sere ke dalam mangkok suaminya. Ki Rangga Agung Sedayu menggeser tempat duduknya dan diraihnya kedua tangan Sekar Mirah. Ia mendesis pelan,”Bagaimana menurutmu jika kita pergi ke Jati Anom?”

“Menurutku itu gagasan yang baik setelah peristiwa yang melibatkan Perguruan Kedung Jati. Lagipula kita sudah lama tidak melihat keadaan Paman Widura dan mungkin kita dapat singgah sejenak di Sangkal Putung,” kata Sekar Mirah lalu,”Aku ingin melihat anak Kakang Swandaru.” Sejenak ia memandangi suaminya yang belum nampak keriput di wajahnya meskipun satu dua helai rambut berwarna putih mulai menghiasi kepala Agung Sedayu.

“Baiklah,” Agung Sedayu berkata. Kemudian,”Aku akan memberi tahu Ki Gede tentang rencana kepergian kita lalu beberapa pesan akan aku berikan pada Ki Lurah Sanggabaya.” Ia bangkit dan melangkah masuk untuk berbenah diri. Tak lama kemudian Sekar Mirah mengikutinya dari belakang. Namun Sekar Mirah adalah wanita yang telah menerima gemblengan dari Ki Sumangkar sehingga pendengarannya dapat menangkap desir halus yang mendekatinya.

Tiba-tiba seorang melayang tinggi melewati regol halaman rumah Agung Sedayu dan berdiri sambil bertolak pinggang di tengah-tengah halaman.

“Apakah ini rumah Agung Sedayu?” lelaki itu bertanya dengan ketus. Sementara itu Agung Sedayu yang baru saja melintasi pringgitan segera melesat keluar.

“Ki Sanak mengejutkan kami,” kata Agung Sedayu sebelum Sekar Mirah sempat berkata-kata.

Orang itu tertawa. Katanya,”Aku perlu berbicara denganmu.” Ia melirik Sekar Mirah dan sambil menudingkan jari telunjuk,”Hei, kau dapat meninggalkan kami berdua.”

Meskipun Sekar Mirah adalah perempuan yang berusia masak dan mempunyai pengalaman yang luas, namun ia tetap merasa tersinggung karena sikap kasar lelaki yang berdiri di tengah halaman rumahnya.

“Jaga bicaramu, Ki Sanak! Kau tidak akan dapat berjalan seperti biasanya apabila kau masih bersikap tanpa santun di depan kami!” tukas Sekar Mirah.

“Tentang apa Ki Sanak?” tanya Agung Sedayu sambil meraih lengan istrinya agar dapat menahan diri lebih jauh.

“Apakah kau ingat tentang Ki Tumenggung Prabandaru, Agung Sedayu?” bertanya lelaki itu.

Agung Sedayu menganggukkan kepala. Katanya,” Aku mengingatnya sebagai seseorang yang tangguh dan sangat kuat.”

“Apakah kau ingat pula tiga orang bajak laut yang terbunuh mengenaskan karena pengeroyokan di tanah ini?” lelaki itu bertanya lagi.

“Sembarangan kau bicara, Ki Sanak!” sahut Sekar Mirah dengan wajah memerah,”kau pasti mendengar kabar yang salah tentang kematian bajak laut itu. Mereka mati dalam perang tanding yang adil, bahkan mereka yang memulai kecurangan itu.”

“Mereka berbuat curang? Bukankah itu karena lelaki disampingmu yang mengubah wujudnya menjadi tiga? Lelaki itulah yang berbuat curang dalam perang tanding, Nyi Sanak!” bentak lelaki itu sambil menuding ke arah Agung Sedayu.

Wajah Agung Sedayu berkerut. Ia berkata,”Mengubah diri adalah kewajaran dalam satu perang tanding, Ki Sanak. Karena wujud itu pun dapat menghilang.”

“Kecurangan akan selalu diikuti oleh kebohongan, Agung Sedayu. Kebohongan yang kau katakana dihadapanku akan membuahkan kebohongan baru di masa mendatang. Dengan begitu, anak cucumu hanya mendapat berita bohong yang disampaikan turun temurun,” kata lelaki itu.

Agung Sedayu termenung sejenak. Kemudian ia bertanya,” Apakah kau mempunyai hubungan dengan Ki Tumenggung Prabandaru?”

“Tidak.”

Agung Sedayu melangkah turun dari pendapa kemudian bertanya lagi,” Lalu apa hubunganmu dengan bajak laut yang mungkin ingin kau bangkitkan dari kematian?”

“Aku adalah sahabat mereka.”

“Dan kau ingin membalas dendam untuk kematian mereka bertiga?”

“Bukankah itu wajar? Kalian orang-orang Menoreh, terutama engkau Agung Sedayu, telah mempermalukan perkumpulanku. Mereka bertiga adalah orang yang mempunyai pengaruh besar di pesisir utara. Kehadiran mereka dalam perkumpulanku telah membuat perkumpulan kami lebih disegani dan ditakuti oleh perkumpulan lainnya,” kata lelaki itu kemudian berjalan dua tiga langkah lebih dekat dengan Agung Sedayu.

“Kau telah berhadapan denganku, lalu apa rencanamu selanjutnya?” Agung Sedayu bertanya seolah-olah belum mengerti maksud kedatangan lelaki asing di halaman rumahnya.

Lelaki itu tertawa keras dan sengaja melambari suaranya dengan tenaga cadangan sehingga membuat atap rumah bergetar dan daun-daun kering berterbangan. Suara tawa yang berkepanjangan itu segera menghimpit dada Agung Sedayu dan Sekar Mirah. Akan tetapi keduanya adalah orang-orang yang telah ditempa berbagai ujian dalam olah kanuragan sehingga keduanya meningkatkan daya tahan tubuhnya secara perlahan. Jantung Sekar Mirah berdentang keras, ia tidak menerima perlakuan kasar tamu yang tidak diundang itu akan tetapi ia melihat Agung Sedayu memberinya tanda untuk menahan diri. Maka dengna begitu, Sekar Mirah membentengi tubuhnya dengan tenaga cadangan yang disalurkannya ke bagian dada dan menutup indra pendengaran.

Seperti tidak terjadi apa-apa, dengan tenang Agung Sedayu berkata,”Kematian dalam perang tanding adalah akibat yang semestinya terjadi apabila memang dilakukan hingga tuntas. Maka dengan demikian, aku sama sekali tidak bersalah, Ki Sanak.”

Lelaki itu meningkatkan serangannya dengan menambah lapisan tenaga cadangan. Tiba-tiba ia membentak nyaring lalu,” Sebenarnya dengan menerima tantangan mereka bertiga itu telah menjadikanmu bersalah, Agung Sedayu.” Ia melangkah surut beberapa langkah dan kini ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

Agung Sedayu mengerutkan dahinya,”Apakah kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan itu? Lalu apakah aku harus menolak tantangan mereka bertiga? Sementara itu mereka berkeliaran dan mulai menimbulkan keresahan di lingkungan ini dengan berbuat jahat. Dan sekarang kau salahkan aku? Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu, Ki Sanak.”

“Aku tahu kau akan menghindar dari segala tuduhan dariku. Dan saat ini aku sudah memberimu peringatan dan aku dapat melihat jika kalian berdua adalah keluarga yang tangguh. Namun permainan yang aku lakukan barusan tidak memberi arti aku tidak menuntut tebusan darimu,” kata tamu asing itu.

“Sebenarnya aku berharap jika kedatanganmu dapat dibicarakan dengan baik-baik. Dengan alasan yang tidak dapat aku pahami tiba-tiba kau memberi peringatan,” Agung Sedayu masih menahan dirinya untuk tidak berkata-kata kasar pada orang yang berjarak beberapa langkah di hadapannnya.

“Aku telah mendengar sepak terjangmu, Ki Rangga. Kau sama sekali tidak mempunyai belas kasihan pada lawan-lawanmu. Kau dengan sekehendakmu sendiri memisahkan orang dari apa yang ia cintai dan ia miliki,” kata lelaki yang masih belum memperkenalkan dirinya.

Agung Sedayu tertawa pelan. Lalu katanya,” Ki Sanak, aku baru sadar jika kau mungkin termasuk orang yang bertabiat aneh. Kau tanpa diundang tiba-tiba memasuki halaman kami dan menyerang kami dengan suara buruk didengar sebelum kami tahu nama atau julukanmu.”

Wajah lelaki itu memerah seperti udang rebus. Ia mengangkat tangannya,” Orang biasa memanggilku Ki Garu Wesi. Dan seperti biasa apabila orang telah mendengar julukanku dari mulutku sendiri, maka orang itu akan mati tidak berapa lagi. Termasuk engkau, Agung Sedayu. Dan mungkin beberapa orang yang hidup bersamamu di Tanah Menoreh akan menyesal mempunyai tetangga sepertimu. Ketahuilah, aku telah menempatkan beberapa orang di luar bagian lingkungan ini. Kau dapat memerintahkan beberapa prajuritmu untuk membuktikan kebenaran ucapanku.”

Ki Garu Wesi menatap tajam wajah Agung Sedayu dan keduanya kini terlibat dalam suasana tegang. Ki Garu Wesi telah mendengar kekuatan ilmu yang terpancar dari sorot mata Agung Sedayu dan kehebatan Sekar Mirah dengna tombak pendek yang mirip dengan milik Macan Kepatihan. Namun agaknya ia telah membuat perhitungan yang cukup kala beradu pandang dengan Agung Sedayu.

“Baiklah,” kata Ki Garu Wesi kemudian,”aku minta kau bersiap. Dan jika kau merasa perlu bantuan Pasukan Khusus Mataram, maka kau boleh menurunkan mereka dalam waktu yang tidak lama lagi. Sampai jumpa!”

Agung Sedayu dan Sekar Mirah masih berdiri memandang punggung Ki Garu Wesi yang berkelebat cepat lalu menghilang di balik pepohonan yang tumbuh di pekarangan tetangga.

Post Author: ki banjar asman

Gemar membaca dan menulis. Membekam adalah kegiatan positif selain menikmati kopi di pojok banyak warung. Mempunyai sekte atau aliran "Bisnis Kebangsaan".

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *