http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

PTB – Merebut Mataram 8

Tiga orang itu kemudian berhenti di dekat gerumbul pohon pisang yang tumbuh di dekat pematang. Seorang diantaranya kemudian melihat ke tanah tinggi yang diatasnya ada Sarjiwa dan ibunya.

Demikianlah, Nyi Winatra dan Sarjiwa masih berada di tempat semula mengamati orang-orang yang bergerak-gerak dan berpindah seperti sedang mengamati sisi luar kademangan. Walaupun Sarjiwa masih menyimpan rasa penasaran atas kehadiran orang-orang yang ia curigai akan tetapi keberadaan Nyi Winatra dapat meredam gejolak dalam dadanya. Mereka berdua akhirnya menarik nfas lega karena orang-orang yang mereka amati semakin menjauh dari tanah yang menjulang lebih tinggi.

“Ibu, apakah tidak sebaiknya kita turun malam ini mendekati kademangan?” Sarjiwa bertanya sambil memandang matahari yang semakin tenggelam. Nyi Winatra menoleh ke arahnya lalu menganggukkan kepala. Dan mereka sepakat, jika mereka telah memasuki kademangan maka mereka akan segera menuju alun-alun pedukuhan induk.

Sebenarnya pada maIam itu, rakyat kademangan sedang dihibur oleh keramaian yang diadakan oleh Raden Atmandaru. Semua sudut halaman dan di setiap ujung jalan diterangi dengan obor yang menyala terikat pada patok-patok bambu. Berduyun-duyun orang berlalu lalang menuju pusat pedukuhan induk di Kademangan Mangunreja. Sehingga dalam pada itu Nyi Winatra dan Sarjiwa tidak mengalami kesulitan untuk berjalan kaki menyusur jalanan menuju alun-alun di pedukuhan induk.

Nyi Winatra tetap meminta Sarjiwa untuk mengawasi keadaan sekitar mereka.

“Kita tidak boleh lengah akan keramaian ini,” kata Nyi Winatra kemudian,” mungkin saja keramaian ini adalah cara Raden Atmandaru mengalihkan perhatian.”

Sarjiwa menatap wajah ibunya dengan heran. Dengan menggandeng lengan ibunya, Sarjiwa menepi dan katanya,”Bagaimana ibu dapat mempunyai pikiran seperti itu? Ibu dapat melihat kegembiraan setiap orang yang kita temui. Dan aku sama sekali tidak melihat ada orang yang bermuka tegang sepanjang perjalanan kemari.”

Nyi Winatra tersenyum mendengar pendapat Sarjiwa, ia berkata,”Tidak, Ngger. Tiga orang yang kita lihat berada di batas luar kademangan dengan senjata terhunus, bukankah itu telah menjadi tanda yang mencurigakan?”

“Aku mengerti, tetapi menurutku itu berlebihan apabila ada orang yang melakukan kejahatan di tengah kerumunan orang banyak seperti ini,” jawab Sarjiwa. Ia menunjuk ke beberapa arah yang menjadi tempat penjagaan para pengawal kademangan.

“Berpikirlah sebaliknya, Ngger,” kata Nyi Winatra kemudian,”justru pada keramaian seperti ini adalah keadaan yang memungkinkan bagi Raden Atmandaru untuk bergerak. Entah pergerakan yang seperti apa, akan tetapi keadaan ini adalah sebuah keuntungan.”

Dari tempat mereka berhenti, mulai terdengar suara gamelan dan orang-orang berbicara dengan suara lantang. Sesekali terdengar tangis anak kecil dan berbagai bunyi-bunyian dari para penjual mainan.

Memang pengalaman Nyi Winatra ternyata sangat membantu pengamatan yang mereka lakukan. Nyi Winatra menarik Sarjiwa agar menjauhi jalan besar yang mereka lalui. Nyi Winatra memberi tanda bagi Sarjiwa untuk berpencar. Dan kemudian mereka berpencar, tanpa menarik perhatian orang-orang yang berpapasan dengannya, Sarjiwa dengan cepat telah mencapai bagian luar pedukuhan induk.  Terlihat olehnya beberapa pedati bergerak menjauhi pedukuhan melalui jalan memutar. Iring-iringan pedati itu tertutup kain berwarna gelap sehingga rombongan itu dapat disamarkan dari penglihatan mereka yang kebetulan melihatnya bergerak.

Pada saat mereka kemudian sampai di sebuah tikungan, maka pada selemparan batu iring-iringan pedati itu akan lenyap ditelan malam. Sementara itu dibelakang pedati yang bergerak pelan, sebuah rombongan yang terbagi menjadi sejumlah kelompok kecil nampak berlari-lari kecil.

Raden Atmandaru pun diam-diam telah meninggalkan pusat keramaian ketika dalang meminta para penabuh gamelan dan sindennya untuk mengawali lakon wayang.

“Para pengikutku sekalian! Malam ini kita akan segera mulai sebuah perjalanan yang mungkin tidak berujung batas. Kita akan menyisir lembah, sungai dan jalanan berdebu serta jurang yang terjal mendaki. Kita tidak berjalan untuk sebuah pengembaraan tanpa tujuan, akan tetapi kita mempunyai satu niat yang mulia. Dan penting untuk kalian ketahui jika perjalanan ini mungkin juga tidak akan dibatasi oleh waktu. Ibarat aliran sungai yang mengalir deras, maka kita adalah mata airnya. Kita akan menjadi arus yang akan menghanyutkan setiap benda yang menghadang usaha mulia ini,” berkata Raden Atmandaru secara lantang.

Lalu ia meneruskan kata-katanya lagi,” Sebagai keturunan Pangeran Benawa, maka aku adalah orang yang berhak untuk memerintah di Mataram. Dan apabila saat itu tiba dan kalian mengalami peristiwa kemenangan itu, aku beri kalian sebuah janji dan kerja nyata untuk menjadikan Mataram lebih unggul dan berjaya di bumi.”

Sorak sorai pengikutnya membahana memenuhi angkasa, kemudian ia berkata,” Perjuangan ini bukan sekedar merebut tanah atau menumpahkan darah yang mengalir di dalam tubuh kita, perjuangan ini juga akan meninggalkan sejarah dan karya besar yang akan dinilai oleh keturunan kita di masa mendatang. Mereka akan bersyukur dan berterima kasih pada kalian semua karena telah membebaskan nasib suram dari tangan Mataram.”

Raden Atmandaru lantas mengumpulkan para pemimpin kelompok dan memberi gambaran serta mengulangi rencana-rencana sebelumnya agar memberi hasil yang sepadan. Mereka akan merambah dan mengawali pertempuran demi pertempuran. Kebencian akan Mataram dan Panembahan Hanykrawati semakin berkobar tatkala pemimpin-pemimpin mereka menyatakan awal berkuasanya Panembahan Senopati yang digambarkan penuh penindasan dan penipuan.

Beberapa orang berkata tentang masa depan yang tidak jelas, akan tetapi Raden Atmandaru dan orang-orang disekelilingnya selalu dapat membenahi rasa takut tentang masa depan. Bagi pengikutnya, Raden Atmandaru bukanlah orang yang hanya memberi janji tetapi Raden Atmandaru telah banyak memberi bukti ketika berada di tengah mereka. Tidak ada orang yang merasa dilalaikan kehadirannya oleh Raden Atmandaru, maka kemudian para pengikutnya memberinya gelar Panembahan Tanpa Bayangan.

Waktu merambat terasa begitu cepat ketika kelompok demi kelompok mulai berjalan meninggalkan kademangan. Maka kemudian banyak tempat yang selama ini menjadi tempat berkumpul para pengikut Raden Atmandaru telah menjadi sepi dan lengang. Tidak ada obor yang menyala di setiap jengkal jalan, mereka meninggalkan binatang ternak dan hanya membawa perlengkapan yang diperlukan dalam perjalanan.

Sebagaimana kesepakatan sebelumnya, Nyi Winatra dan Sarjiwa kemudian bertemu di regol pedukuhan induk.

“Aku harus mengakui ketajaman panggraita ibu,” kata Sarjiwa. Nyi Winatra memandang wajah anaknya kemudian ia menarik nafas dalam-dalam.

“Katakanlah!” Nyi Winatra berkata sambil mengeluarkan sehelai kain yang kemudian dilingkarkan pada lehernya.

“Raden Atmandaru benar-benar telah matang merencanakan usahanya itu. Kita benar-benar menghadapi persoalan penting,” kata Sarjiwa kemudian menceritakan hasil pengamatannya.

“Berarti kita harus segera bergerak di belakang mereka,” desis Nyi Winatra. Sarjiwa lantas mengambil pedang kayu dan menyelipkannya di pinggang. Dan kemudian mereka berjalan cepat untuk mencapai tempat terakhir Sarjiwa mengintai pengikut Raden Atmandaru yang mulai meninggalkan Kademangan Mangunreja. Dalam pada itu mereka berdua telah menempatkan diri di depan kelompok terakhir pengikut Raden Atmandaru. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, maka Nyi Winatra dan Sarjiwa mengikuti kelompok besar itu dari sisi yang menyimpang.

Semakin jauh para pengikut Raden Atmandaru meninggalkan kademangan, mereka memutar melintasi pematang, menyisir pinggiran hutan  dan sesekali mengikuti aliran sungai. Pada saat bekal perjalanan yang dimuat oleh pedati telah habis, mereka meninggalkan pedati begitu saja. Tetapi perjalanan itu bukanlah perjalanan yang sebentar saja, maka ketika fajar telah tiba, mereka mengambil tempat sedikit menjorok ke dalam dari bagian hutan yang dilewati.

“Sarjiwa, kita harus berada di tempat yang lebih dekat dengan para pemimpin mereka,” kata Nyi Winatra. Lalu,”Kita harus dapat mengetahui kemungkinan tempat yang menjadi tujuan mereka sebagai landasan.”

“Itu pekerjaan yang sulit,” sahut Sarjiwa sambil mengamati keadaan rombongan yang berada paling belakang.

“Tidak, Ngger. Kau dapat melakukannya,” kata Nyi Winatra meyakinkan anaknya.

Sariwa termenung sesaat lalu katanya,”Mungkin aku dapat memanfaatkan keadaan gelap saat menyusup diantara mereka.”

Nyi Winatra menganggukkan kepala dan katanya,”Kau harus benar-benar mampu membaca keadaan.” Lantas Nyi Winatra memberi petunjuk pada Sarjiwa apabila terjadi perkembangan yang tidak terduga dan membahayakan jiwa. Kemudian,”Sekarang istirahatlah, kau akan membutuhkan itu untuk pekerjaan yang akan datang. Lihat, hari mulai gelap,” kata Nyi Winatra.

Demikianlah saat gelap benar-benar menyelubungi kawasan hutan yang dijadikan Raden Atmandaru sebagai tempat istirahat, Sarjiwa telah dalam keadaan siap sepenuhnya. Setiap jengkal urat syaraf telah dilambari ilmu Serat Waja, dan dengan begitu ketajaman indra penglihatan serta pendengaran Sarjiwa mempunyai kemampuan yang berlipat untuk menembus malam.

Sejenak kemudian Sarjiwa telah berada di tengah-tengah pasukan Raden Atmandaru. Ia telah mengenali ciri-ciri lambang atau pakaian para pemimpin yang dilihatnya pada siang hari. Tubuh Sarjiwa dengan ringan berloncatan dan berguling dengan cepat saat berpapasan dengan peronda atau melintasi semak. Selain itu, kemampuannya untuk menyerap bunyi telah meningkat pesat hingga saat bergulingan pun tidak menimbulkan suara meski tubuhnya berguling diatas ranting dan daun kering.

Karena itu tanpa kesulitan yang berarti, Sarjiwa telah berhasil mendekati lingkaran kecil dengan sebuah api unggun yang hampir padam.

“Apakah kita segera memasuki Denayang atau harus mendirikan kemah di luar Tanah Perdikan?” tanya seorang pemimpin Raden Atmandaru yang berselempang coklat.

“Aku belum mengetahui rencana Panembahan,” jawab seorang kawannya.

“Bila tidak salah aku mengamati tanda-tanda selama perjalanan, seharusnya Tanah Perdikan sudah dekat dari tempat kita sekarang ini,” kata orang berselempang coklat.

“Ya. Mungkin sehari perjalanan dengan segala kelambatan dan persoalan yang terjadi dalam pasukan kita,” kata seorang pemimpin yang bertubuh agak gemuk. Ia berkata lagi,” Dan seharusnya sebentar lagi atau mungkin besok pagi, Panembahan akan menyampaikan keputusan terakhirnya. Aku harap Panembahan tidak mengubah keputusannya dengan menyerang Pasukan Khusus Mataram yang berada di Menoreh. Dan jika itu berhasil, maka usaha kita akan menjadi lebih mudah apabila Rananta berhasil menguasai Padepokan Tegalrandu.”

“Ya. Sebaiknya memang harapan dapat sejalan dengan rencana. Tetapi saat ini sebaiknya kita memberi kesempatan otot dan otak kita untuk melepas letih barang sejenak,” kata orang berselempang coklat lagi lalu kawan-kawannya kemudian menempatkan diri untuk istirahat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *