Bara di Borobudur 28

“Angger Jalutama, menekan Nyi Kirana dengan kata-kata seperti itu dapat membuat Bondan lebih buruk keadaannya. Mungkin ia tidak sadar diri dalam penglihatan kita, tetapi mungkin saja pendengaran dan perasaannya dapat menangkap kesan buruk yang keluar dari setiap yang kita ucapkan,” cegah Ki Swandanu dengan suara lembut namun terdengar tegas. Sementara Ken Banawa menatap mata Jalutama dengan pandangan tajam. Jalutama menarik nafas dalam-dalam, kemudian ia memandang wajah-wajah disekitarnya, maka ia tahu jika setiap orang berada dalam ketegangan.

Sementara itu Nyi Kirana agaknya tidak terganggu dengan kata-kata Ken Banawa dan Jalutama. Meskipun sedikit guncangan terjadi dalam hatinya, akan tetapi ia telah membulatkan niat dengan dorongan dari Ken Banawa.

Nyi Kirana telah duduk bersila di sebelah ujung kepala Bondan. Dengan memusatkan budi dan rasa, Nyi Kirana menyandarkan semua hal pada sebuah kelembutan dan kesempurnaan yang tiada batas. Tubuh Nyi Kirana mulai bergetar dan udara panas melingkupi dirinya dan Bondan. Ia membuka kedua telapak tangannya dan menghadapkan pada bagian atas sedikit di atas telinga Bondan. Segenap budi dan rasa telah terpusat pada satu tumpuan pamungkas, tenaga inti Nyi Kirana mulai meresap memasuki setiap simpul syaraf pernafasan dan memperbaiki peredaran darah. Memompa jantung Bondan untuk membantunya agar dapat berdetak tidak terlalu lambat, membongkar setiap sumbatan yang ditimbulkan oleh darah yang membeku.

Keadaan sekitar orang-orang yang melingkari Nyi Kirana dan Bondan menjadi senyap. Tidak ada lagi kesibukan yang melibatkan mereka kecuali angin yang terus bertiup semilir. Tubuh mereka seakan menjadi batang-batang kayu yang kaku membeku. Berulang kali mereka melihat Nyi Kirana menggelengkan kepala dan sesekali mengerutkan kening, terkadang menarik nafas panjang.

Dalam keadaan di bawah sadarnya, tubuh Bondan menerima setiap  unsur yang dapat membantunya menuju keseimbangan yang terguncang. Pada beberapa bagian simpul peredaran darahnya, memang terjadi beberapa pergeseran yang menjadi sebab Nyi Kirana keheranan. Betapa ia mendapati simpul penting Bondan telah bergeser dari kedudukannya semula. Meski begitu, ia dapat melanjutkan usahanya membantu Bondan mencapai kesembuhan.

Perlahan-lahan terdengar tarikan halus dari pernafasan Bondan sebagai tanda jika ia mulai dapat bernafas dengan baik. Dada dan perut Bondan terlihat bergerak turun naik selaras dengan setiap udara yang keluar masuk melalui jalur pernafasannya. Dalam keadaan itu, Nyi Kirana mulai mengurangi tenaga intinya yang meresap dalam tubuh anak muda yang terbaring lemas di hadapannya. Wajah Nyi Kirana terlihat pucat dan tubuhnya bersimbah peluh sementara beberapa jengkal dari tubuhnya terasa udara panas yang sangat hebat. Ki Rangga Ken Banawa segera menyadari apa  keadaan Nyi Kirana yang agaknya memaksakan diri untuk mencapai puncak tenaga inti yang ia miliki.

Nyi Kirana menjauhkan tangannya dari kepala Bondan dengan pelan. Hampir saja ia terkulai jatuh dari duduknya jika Jalutama tidak segera menyanggah punggungnya.

Jalutama merasakan telapak tangannya seperti memegang bara karena punggung Nyi Kirana yang begitu panas. Satu dua kali Nyi Kirana menarik nafas panjang dan mengatur pernafasannya, sejenak kemudian ia berangsur menjadi dingin dan kembali seperti semula.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *