Kitab Kiai Gringsing – Agung Sedayu Terpedaya 2

“Aku akan bicara dengan Ki Gede, sementara kau perintahkan Sukra untuk memanggil Prastawa. Aku tunggu kalian bertiga di rumah Ki Gede,” kata Agung Sedayu.

“Dan Ki Jayaraga?” bertanya Sekar Mirah kemudian.

Agung Sedayu diam sejenak, lalu katanya,”Biarkan ia bercengkrama lebih lama di sawah. Siang ini jika ia tidak mendapati seorang pun di rumah, tentu ia akan menuju rumah Ki Gede.”

Sekar Mirah menganggukkan kepala dan melangkah menuju tempat Sukra biasa membelah kayu bakar untuk menyampaikan pesan Agung Sedayu. Sementara itu Agung Sedayu bergegas pergi menjumpai Ki Gede Menoreh. Dalam perjalanannya ke rumah Ki Gede Menoreh, Agung Sedayu mempunyai semacam perasaan bimbang dalam hatinya. Ia merasa jika Tanah Perdikan Menoreh sudah terlalu lama menanggung setiap balas dendam dari orang-orang yang pernah ia kalahkan dalam perang tanding. Meski begitu ia masih mencoba untuk berprasangka baik apabila nantinya Ki Garu Wesi hanya melakukan gertakan dan ia datang seorang diri saja.

Beberapa saat kemudian Agung Sedayu, Sekar Mirah dan Prastawa telah berada di rumah Ki gede Menoreh. Setelah Ki Gede mengawali dengan pembicaran ringan, kemudian ia berkata,” Tentu bukan kebetulan apabila Agung Sedayu dapat duduk bersama Prastawa.”

Agung Sedayu dan Prastawa tertawa kecil namun kemudian mereka menampakkan wajah sungguh-sungguh. Kata Agung Sedayu,” Seseorang bernama Ki Garu Wesi telah mendatangi rumahku, Ki Gede.” Lalu Agung Sedayu menceritakan keperluan Ki Garu Wesi dan tanggapan yang ia berikan pada tamunya itu.

“Aku merasa memang ada sesuatu yang mendesak meskipun aku belum mendapat laporan dari para pengawal. Bagaimana denganmu, Prastawa?” bertanya Ki Gede.

Prastawa mengangguk-angguk. Ia menjawab kemudian,” Sebenarnya aku akan melaporkan tentang adanya perkemahan di luar Tanah Perdikan, Paman. Akan tetapi pemberitahuan Sukra akhirnya membuatku melaporkan keadaan lebih cepat dari rencanaku semula.” Prastawa diam sesaat dan mengedarkan pandangan.

Prastawa kemudian menyampaikan jika ia membenarkan ancaman bahaya yang diterima oleh Agung Sedayu dari Ki Garu Wesi. Prastawa melihat perkemahan yang baru didirikan dua tiga hari sebelumnya, namun ia belum dapat mengambil dugaan karena pada mulanya hanya dua kemah.

“Kang Santa memberitahuku bahwa kemah itu ternyata bertambah hingga belasan jumlahnya. Lalu aku mengawasinya bersama Kang Santa pada sore hari, dan kami melihat sejumlah orang sedang berlatih dengan senjata,” kata Prastawa. Ki Gede mendengarkan laporan Prastawa serta pendapat-pendapat orang-orang yang ada di sekitarnya.

“Aku tidak mungkin akan menyerahkanmu pada mereka, Agung Sedayu. Kau adalah seorang pemimpin pasukan khusus maka dalam hal ini yang lebih mempunyai hak untuk melakukan itu adalah Panembahan Hanyakrawati,” kata Ki Gede,” Dan mereka juga tidak mempunyai wewenang lebih dengan menyerang Tanah Perdikan.”

Prastawa menggelengkan kepala. “Kita akan bertahan,” kata Prastawa,” kita dapat meminta bala bantuan pada Mataram untuk mempertahankan diri, Paman.”

Agung Sedayu merenung sejenak. Ia berpaling pada Sekar Mirah seolah ingin mendengar pendapat istrinya. Sekar Mirah mengangguk-angguk dan meraih lengan Agung Sedayu. Katanya,” Jika Kakang ingin melaporkan keadaan ini pada Ki Patih Mandaraka, sebenarnya Kakang melakukan hal yang benar. Namun jika Kakang tidak ingin Mataram mengetahui perkembangan yang terjadi, suatu saat mereka akan mendengarnya. Kakang tentu lebih tahu mengenai kemungkinan itu.”

“Apakah kau tidak ingin membicarakan keberadaan pengikut Ki Garu Wesi pada Ki Untara, Agung Sedayu?” bertanya Ki Gede Menoreh.

“Sebetulnya setiap laporan yang kita berikan akan membawa kita pada satu tujuan yaitu bantuan. Kakang Untara tentu akan mengirim sebagian pasukan di Jati Anom untuk memperkuat pertahanan Tanah Perdikan. Bahkan jika kita melaporkan secara langsung pada Mataram, tentu saja Ki Patih akan memerintahkan Kakang Untara memperkuat kedudukan pengawal atau pasukan khusus,” jawab Ki Rangga Agung Sedayu.

“Aku akan mengumpulkan pemimpin kelompok para pengawal Tanah Perdikan,” Prastawa berkata,” terlepas dari ada bantuan atau tidak, tetapi Agung Sedayu adalah orang Menoreh.”

Agung Sedayu terkejut mendengar kata-kata Prastawa. Lalu ia berkata,” Aku sangat bersyukur karena telah diijinkan untuk hidup bersama orang-orang Menoreh.” Sementara Sekar Mirah menitikkan air mata melihat Prastawa yang telah bersiap berdiri di belakang suaminya.

Kemudian Ki Gede berkata,” Baiklah, Agung Sedayu. Kau telah mendengar apa kata Prastawa. Tanah ini berhutang padamu, kami semua telah melewati banyak hal bersamamu. Kami sudah meraih segala sesuatu dengan bantuanmu, maka aku tegaskan sekarang jika kau dapat menggunakan apa saja yang ada di Tanah Menoreh untuk mengatasi persoalan yang ada di depan kita saat ini.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya, sekali lagi ia mengucap syukur dalam hatinya atas limpahan kasih saying dari Yang Maha Agung. Sejenak kemudian ia berkata,” malam ini aku akan melakukan pengintaian bersama Sukra.”

Seolah tidak percaya dengan gagasan Agung Sedayu, Ki Gede menatap wajah Sekar Mirah dan Prastawa bergantian. Tetapi mereka tidak mengucap sepatah kata karena percaya jika Agung Sedayu sedang menyusun rencana yang terbaik baginya dan bagi orang-orang Tanah Perdikan Menoreh seluruhnya.

“Aku kira sudah saatnya Sukra melakukan pekerjaan setingkat lebih maju, ia mempunyai kemampuan untuk pekerjaan ini,” kata Agung Sedayu yang mengerti pertanyaan yang tidak diucapkan oleh ketiga orang di sekelilingnya.

“Apakah Ki Jayaraga akan rela jika melewatkan malam tanpamu, Kakang Agung Sedayu?” Prastawa bertanya sambil menutup mulutnya. Ki Gede pun tertawa kecil bersama Sekar Mirah.

Dalam waktu sedikit lebih lama, mereka kemudian membicarakan rencana dan kemungkinan yang akan berkembang. Ketika malam telah menyebar di setiap bagian Tanah Perdikan, maka ketiga tamu Ki Gede segera meminta diri.

“Sukra, aku minta kau segera bersiap,” kata Agung Sedayu ketika mereka telah makan malam bersama.

Sukra mengerutkan keningnya namun ia segera bergegas melakukan pekerjaan rutinnya kemudian bersiap diri seperti yang diminta Agung Sedayu.

“Aku mendukung rencanamu, Ngger,” kata Ki Jayaraga. Kemudian,” karena dengan mengajak Sukra melakukan tugas berbahaya ini, Sukra telah dilatih oleh orang yang mempunyai pengalaman tinggi dalam mengintai dan menyamar. Suatu saat, Prastawa akan memintanya untuk menjadi petugas sandi dan kau tidak selamanya bersama mereka.”

Demikianlah untuk satu malam yang panjang, Agung Sedayu dan Sukra mengamati perkemahan di tempat yang ditunjuk oleh Prastawa. Tanah yang menjadi tempat pengikut Ki Garu Wesi berkumpul ternyata bukan tempat yang tepat untuk persiapan perang. Dengan mudah Agung Sedayu mendekati sebuah kemah yang cukup besar. Kelebihan Agung Sedayu dengan ilmu meringankan tubuhnya menjadikannya dapat mendengar pembicaraan pemimpin pengikut Ki Garu Wesi. Ditambah ilmu Sapta Pangrungu maka Agung Sedayu mengambil tempat yang sulit dijangkau oleh pendengaran tajam Ki Garu Wesi.

“Aku ulangi agar menjadi jelas bagi kita semua. Agung Sedayu memang harus dilenyapkan. Dengan kematian Agung Sedayu, maka kita akan dapat dengan mudah merebut Tanah Menoreh dan mencari kitab peninggalan gurunya,” kata orang bertubuh gemuk dengan dada telanjang. Ia duduk bersandar pada sebuah pohon kamboja yang berada di dekat kemahnya.

“Setelah kita mendapatkan kitab itu, apa rencanamu selanjutnya Ki Hariman?” tanya orang yang berwajah kancip sambil bertopang dagu.

“Tentu saja kita akan menentukan siapakah diantara kita yang terbaik. Yang terbaik berhak untuk menguasai isi kitab Kiai Gringsing,” jawab Ki Hariman.

“Itu berarti kita akan berebut untuk sebuah kitab, dan itu akan berakibat kehancuran di setiap kelompok yang bergabung,” kata Ki Garu Wesi yang belum mengetahui kehadiran Agung Sedayu. Ia melempar sepotong kayu untuk menambah api didepannya. Ia berkata lagi,”Adalah aku yang berhak menentukan nasib kalian karena aku yang mengajak dan mengumpulkan kalian untuk berada di sini.” Ki Garu Wesi yang marah karena merasa dilangkahi oleh Ki Hariman lantas berdiri dan berkata sangat keras,” Setiap pemimpin kelompok telah sepakat dengan bagian masing-masing dan tidak ada satu orang diantara kalian yang bicara tentang Kitab Kiai Gringsing. Tidak ada yang berbicara tentang kitab itu kecuali aku.”

Lalu terjadilah perdebatan dan saling berbantahan diantara pengikut Ki Garu Wesi. Setelah menunggu beberapa lama, Agung Sedayu memutuskan untuk kembali ke pedukuhan induk.

“Sukra, marilah kita kembali ke pedukuhan induk,” ajak Agung Sedayu. Sukra pun melompat turun dari sebatang pohon yang ditempatinya selama masa pengintaian. Dan agaknya Sukra belum dapat meninggalkan kebiasaan lamanya untuk menengok pliridan yang telah ia titipkan pada seorang temannya.

“Apakah kita akan mengambil ikan-ikan di dalam pliridan itu, Ki Rangga,” bertanya Sukra dengan jari menunjuk ke arah pliridan yang masih tampak kuat dan kokoh.

Agung Sedayu menggelengkan kepala, jawabnya,”Kasihan temanmu yang semalam ini tidur dengan harapan dan mimpi indah bersama udang dan ikan lele.” Sukra mengacungkan ibu jarinya setelah melihat ikan-ikan yang terjebak dalam pliridan. Namun ia setuju dengan pendapat Ki Rangga Agung Sedayu untuk tidak mengambil sebagian meskipun ia telah mendapat ijin dari temannya saat menitipkan pliridan.

Pagi-pagi sekali Agung Sedayu telah berada di bilik khususnya di barak pasukan khusus. Telah hadir tiga orang lurah prajurit yang siap memberi laporan padanya. Ki Rangga Agung Sedayu mengangguk-angguk mendengar laporan tiga lurah prajurit termasuk seorang lurah khusus yang bertugas membawahi petugas sandi.

Pemimpin prajurit sandi itu berkata,” Mereka telah berada di tempat itu sekitar tiga hari yang lalu. Aku akan melaporkan tentang itu akan tetapi Ki Rangga tidak berada di barak. Dan aku telah menghitung jika dari segi keseimbangan kekuatan perang, jumlah orang dan dukungan persediaan agaknya orang-orang itu tidak bersiap untuk waktu yang lama. Jadi kemungkinan yang terjadi adalah mereka akan menjarah tempat-tempat persediaan makanan milik orang Menoreh. Untuk itu kita harus membicarakan jalan keluarnya bersama Ki Gede Menoreh.”

“Serahkan itu padaku. Siang ini aku akan berbicara dengan Ki Gede,” sahut Agung Sedayu.

Ki Lurah Sanggabaya kemudian berkata,”Mereka akan menyerang dari satu arah. Agaknya mereka tidak memperhitungkan letak barak ini yang sebenarnya dapat memotong pergerakan mereka menuju pedukuhan induk.”

Agung Sedayu beringsut setapak, katanya,” Kita tidak dapat berpikiran seperti itu, Ki Lurah. Mungkin saja mereka telah mempunyai siasat khusus untuk memecah kekuatan yang tersimpan di Menoreh. Untuk mencegah adanya gerakan yang tidak terduga oleh kita, aku memintamu untuk membentuk kelompok-kelompok kecil yang tersebar di tempat-tempat yang dapat kau capai dalam waktu singkat. Mereka akan dapat mengganggu arus serangan Ki Garu Wesi dari beberapa jurusan, dan mereka juga dapat membantu para pengawal Tanah Perdikan yang mungkin terdesak dan menuju tempat yang kita jadikan sebagai gardu pengamatan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *