Ki Cendhala Geni 14

Semasa Laksa Jaya beringsut mendekati Arum Sari, Bondan yang terlibat perkelahian seru dengan Ubandhana menangkap gerak dari ujung matanya. Dibawah ancaman ujung tombak Ubandhana yang seperti memiliki mata, Bondan menjulurkan udengnya ke pergelangan tangan Ubandhana yang memegang tombak. Ubandhana menyadari meskipun bukan serangan yang berujung kematian namun tangannya bisa saja patah karena sentakan bertenaga dari Bondan. Untuk itu dia menarik mundur dengan cepat dan kesempatan sekejap itu dimanfaatkan Bondan melontarkan keris ke arah Laksa Jaya. Ubandhana yang cermat mengamati arah serangan keris Bondan berusaha menggagalkannya namun Bondan lebih cepat dari upaya lawannya itu.

Tak lengah dengan perkembangan itu, Ubandhana sigap memutar tombaknya seperti baling-baling. Bondan telah bersiap menerima terjangan Ubandhana sekalipun kini hanya bersenjatakan ikat kepalanya. Ubandhana tidak mengurangi kewaspadaannya karena dia telah mengetahui ketangkasan Bondan saat bersenjatakan udeng. Sekalipun secara mata lahiriah hanya berupa selembar kain yang mungkin tak berarti malah itu justru menjadi kekuatan udeng yang sesungguhnya. Udeng Bondan menyambar, meliuk-liuk dan sesekali menyengat pergelangan tangan Ubandhana atau malah terkadang memburu dada dan kepala Ubandhana.  Bondan memutuskan untuk segera mengakhiri pertarungan agar dapat segera menuntaskan perhitungan yang belum selesai dengan Ki Cendhala Geni. Ubandhana merasakan kekuatan serta kecepatan Bondan semakin meningkat dalam penyerangan namun dirinya masih mampu mengimbangi setiap usaha Bondan.

Keduanya semakin dalam terlibat dalam perkelahian itu seiring dengan riuh sorai suara para pengawal masing-masing yang bertempur dalam lingkaran-lingkaran kecil di sekitar mereka. Beberapa kelompok kecil para prajurit Majapahit telah mampu melumpuhkan orang per orang dari pengiring Laksa Jaya. Dalam satu perintah Ra Caksana, kini prajurit Majapahit mulai saling mendekatkan lingkaran pertarungan. Tak butuh waktu yang lama untuk prajurit Majapahit merapatkan lingkaran dan tanpa disadari oleh para pengawal Laksa Jaya kini mereka telah terkepung.

Sementara di bagian lain, Bondan melontarkan satu tendangan memutar ke leher Ubandhana. Ubandhana beringsut sedikit ke kiri lalu sedikit loncatan dia mengarahkan tombaknya ke leher Bondan. Namun Bondan dengan sigap merunduk lalu menggulingkan dirinya mendekati Ubandhana. Dalam jarak yang tidak disangka-sangka itu Bondan mematuk urat nadi Ubandhana dan demi menghindarkan hancurnya aliran darah maka serta merta Ubandhana melepaskan tombaknya. Bondan secara tangkas menyusupkan tinjunya. Tubuh Ubandhana surut ke belakang beberapa langkah namun agaknya dia gagal mendapatkan keseimbangan sehingga tubuhnya terjerembab telungkup. Kecepatan luar biasa Bondan yang susah dibayangkan menyongsong tubuh Ubandhana sebelum menyentuh tanah. Batok kepala Ubandhana menjadi terbuka dan maut kini berada di ujung rambut Ubandhana.

Desing suara senjata mampu menggagalkan terkaman Bondan di saat terakhir. Sedikit tergesa-gesa Bondan menyurutkan tangannya dan selangkah bergeser ke belakang.

Satu bayangan berkelebat cepat segera menjadi dinding penghalang serangan Bondan terhadap Ubandhana.

“Ki Cendhala Geni!” desis Bondan perlahan. Sebuah kenangan merayap dalam jiwa Bondan. Sebuah perkelahian yang tidak seimbang antara dirinya melawan Ki Cendhala Geni dan Ubandhana di Kademangan Sumur Welut. Darah Bondan menggelegak dan tanpa pikir panjang dia menerjang tubuh yang berdiri di depannya dengan ikat kepala yang siap mematuk dada Ki Cendhala Geni.

Satu kejutan agaknya disiapkan oleh Ki Cendhala  Geni dengan menjulurkan tangan hendak menangkap ujung ikat kepala Bondan. Bondan terkesiap dengan kejutan itu namun pengalaman dalam bertarung telah mengajarkan Bondan untuk segera melepaskan kepalan kiri ke lambung Ki Cendhala Geni sambil menarik surut udengnya. Ki Cendhala Geni bergeser ke belakang dan sedikit menjaga jarak dengan Bondan.

“Aku ingin sekali membunuhmu. Pertemuan pertama itu karena aku hanya ingin memberimu sebuah peringatan agar tidak coba-coba menghalangi seorang Ki Cendhala Geni. Tetapi engkau berbuat kesalahan. Engkau terlalu sombong dengan kemampuanmu. Itu mungkin karena kamu belum mendengar siapa itu Ki Cendhala Geni. Dan kali ini engkau akan tahu siapa sebenarnya Ki Cendhala Geni. Engkau akan menyesali perjumpaan ini anak muda!”

Tatap mata Ki Cendhala Geni seperti menusuk jantung Bondan. Tanpa disadari olehnya, Bondan pun merasakan keanehan ketika mendengarkan kata-kata Ki Cendhala Geni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *