PTB – Merebut Mataram 9

http://tagday.net/user/yohan.alexander-1647981852

Ketika ia merasa sudah tidak ada lagi obrolan pengikut Raden Atmandaru yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan, Sayoga memutuskan untuk pergi ke tempat yang telah ia sepakati dengan ibunya. Dan ia telah mendapati Nyi Wijil telah berada di tempat itu, lalu ia mendengar ibunya berkata,” Apakah kau mengenali tanda-tanda dan jalan menuju Tanah Perdikan, Ngger?”

“Aku kira kita tidak melewati daerah ini pada saat ayah mengajak kita pergi ke Demak, ibu,” Sayoga menjawab sambil menengadahkan kepala. Ia melihat letak bintang yang menjadi tanda jika malam akan segera berlalu.

Nyi Wijil mengangguk pelan. Ia kemudian meminta Sayoga untuk mengatakan apa saja yang ia dengar dari pengintaian. Sayoga lantas mengatakan secara rinci setiap apa yang ia saksikan dan ia dengar dari para pemimpin kelompok Raden Atmandaru. Nyi Wijil mendengarkan dengan seksama. Sesekali ia manggut-manggut. Lalu kata Nyi Wijil,” Demikian pula yang aku dengar dari mereka.”

“Ibu juga mengamati mereka dari dekat?” Sayoga bertanya lalu dijawab dengan anggukkan kepala perlahan oleh Nyi Wijil.

“Nah, sekarang kita akan bekerja lebih keras. Serta usahakanlah untuk dapat tiba di Tanah Perdikan lebih cepat dari rombongan ini. Kau dapat berbicara pada Pandan Wangi yang sekarang telah ditunjuk sebagai pemimpin sementara Tanah Perdikan Menoreh,” pelan Nyi Wijil berkata.

Raut muka Sayoga pun menampakkan jika ia nyaris tidak percaya, masih membeliakkan mata karena terkejut, Sayoga bergumam,” Seorang wanita menjadi kepala Tanah Perdikan?”

“Tidak mengapa, Ngger. Dan begitulah yang aku dengar dari orang-orang yang melakukan perjalanan dari Tanah Perdikan. Tidak ada yang salah apabila Panembahan Hanyakrawati menunjuk putri Kepala Tanah Perdikan sebagai pemimpin termasuk membawahi ratusan prajurit laki-laki. Tentu Panembahan Hanyakrawati telah mendapatkan pertimbangan yang lain dari Ki Patih Mandaraka dan masukan-masukan lainnya, terutama dari Ki Tumenggung Sigra Umbara,” Nyi Wijil tersenyum melihat anaknya yang masih terkejut. Ia berkata lagi,” Apalagi Ki Tumenggung Sigra Umbara sekarang berada di Mataram untuk membantu persiapan menuju Surabaya. Tentu saja pasukan khusus tidak dapat dibiarkan berjalan tanpa seorang pimpinan. Meskipun ada lima lurah prajurit, namun agaknya lurah-lurah prajurit itu tidak keberatan dengan penunjukkan Pandan Wangi sebagai pemimpin sementara.”

“Lalu Ki Rangga Agung Sedayu?”

“Aku belum mendapat kabar tentang Ki Rangga.”

Pelan-pelan Sayoga mulai dapat menguasai dirinya, ia merenung sejenak lalu ia berkata,”Baiklah, aku akan segera berangkat. Nah sekarang, ibu bisa menjelaskan padaku tanda-tanda dan jalur yang harus aku tempuh agar dapat tiba di Tanah Perdikan lebih dahulu.”

Nyi Wijil lantas menjelaskan tanda yang menjadi petunjuk jalan bagi Sayoga menuju Tanah Perdikan. Jalur yang akan dilewati Sayoga adalah jalan pintas yang akan menuruni tebing yang curam dan jurang-jurang yang dalam. Sayoga mendengarkan setiap kata demi kata ibunya, ia dengan sungguh-sungguh mencatatnya dan menggores dalam dinding jantungnya. Beberapa lama kemudian, mereka berdua mengambil jalan yang berbeda. Nyi Wijil akan kembali ke Pedukuhan Dawang dan memberitakan pergerakan Raden Atmandaru pada suaminya, Ki Jagabaya dan Ki Bekel Dawang. Sementara Sayoga harus terlebih dahulu menemui Ki Gede Menoreh  lalu mengabarkan perkembangan yang terjadi pada bagian lain wilayah Mataram.

Sayoga berjalan dengan langkah lebar menembus kepekatan malam yang menjadi selimut tebal lereng Merapi. Suatu ketika ia harus melintas di atas aliran air yang dangkal. Di saat yang lain, Sayoga harus memanjat tebing yang berdiri tegak lurus. Di waktu ia mengambil jeda sejenak, Sayoga berusaha untuk meraba kemungkinan yang dialami oleh Tanah Perdikan Menoreh. Jumlah pengikut Raden Atmandaru dapat berubah seolah-olah air bah yang akan melanda dataran Tanah Perdikan. Sementara ia sendiri belum mengetahui keadaan para pengawal Tanah Perdikan yang sudah cukup lama tidak terlibat dalam pertempuran. ‘Mungkin saja mereka masih mengadakan latihan dan mungkin juga mereka mulai dilanda rasa puas,’ pikir Sayoga.

Perjalanan Sayoga kemudian harus berhenti ketika fajar menyingsing. Dari kejauhan ia telah dapat melihat hamparan sawah di pedukuhan-pedukuhan kecil sekitar Tanah Perdikan. Ia berhenti sejenak ketika ia teringat tugas yang diembannya. Dadanya menjadi berdebar dan nafasnya menjadi agak sesak ketika membayangkan sawah-sawah yang akan terinjak ketika pertempuran terjadi. Jiwa-jiwa yang akan melayang, tanah yang memerah dan orang yang kehilangan anggota keluarganya. Sayoga menarik nafas dalam-dalam dan ia mencoba untuk mengendapkan gemuruh dalam hatinya.

Sebagaimana petunjuk dari ibunya, Sayoga mengambil jalan yang menurun dan terjal lalu ia harus menyeberangi sebuah hutan kecil yang rapat dan belukar yang tumbuh menjulang. Beberapa langkah setelah ia memutari rimbun belukar, pendengaran Sayoga menangkap adanya sesuatu yang lain telah berada di dekatnya. Ia berhenti sejenak dan melihat sekelilingnya namun tidak ada seorang pun yang tampak atau hewan yang bergerak. Meski begitu, Sayoga telah bersiap dengan segala kemungkinan.

Ia melangkahkan kaki berjalan pelan, kemudian Sayoga berkata,” Biarkan aku melewati hutan ini, Ki Sanak. Aku tak ingin berurusan denganmu.” Tetapi tidak ada suara orang yang menjawab, sementara Sayoga terus berjalan memasuki bagian tengah hutan. Di bagian itu pepohonan justru tidak begitu lebat jika dibandingkan dengan bagian luar hutan.

Tiba-tiba Sayoga melihat bayangan mendekat padanya lalu muncul dari balik pepohonan. Sedikit ketegangan menyusup dalam relung hati Sayoga. Ia bergeser selangkah surut. Lalu orang itu berjalan dengan tawa pelan namun mata orang itu cukup tajam seperti sedang memeriksa isi hatinya.

“Anak muda, siapakah kau yang mencoba menjadi orang aneh dengan melewati jalanan yang tidak biasa?” bertanya orang itu.

Sayoga tidak melepaskan tatap matanya dari wajah lawan bicaranya. Ia melihat wajah yang ada bekas sayatan luka menyilang pada pipinya.

“Aku tersesat, Ki Sanak. Entah bagaimana aku menyusur jalanan kecil yang menurun lalu tiba-tiba berada di hutan ini.”

Orang itu diam mendengarnya, ia berkata,”Tentu saja kau mempunyai tujuan. Lalu kemana kau akan pergi?”

“Aku akan ke Tanah Perdikan, Ki Sanak. Seorang kerabat ayahku akan menggelar sebuah hajat pekan depan.”

Dari belakang orang itu kemudian muncul seorang lagi dan berjalan menuju mereka berdua. Ia memandang Sayoga seolah-olah pernah melihat Sayoga sebelumnya. Katanya kemudian,”Ia berbohong padamu, Ki Malawi!”

Orang yang dipanggil Ki Malawi memandang Sayoga bergantian dengan orang yang baru datang. Dengan kening berkerut, ia bertanya pada orang itu,”Bagaimana kau tahu jika ia berbohong, Ki Sarjuma?”

Ki Sarjuma tertawa lirih kemudian,”Aku mengikutinya sejak ia dari Lengkong. Ketika aku meronda dan memutari tempat istirahat kelompok Raden Atmandaru, aku melihatnya turun ke sungai dan mengambil jalan pintas hingga akhirnya bertemu denganmu di tempat ini.” Ia menambahkan,”Dan ia seorang anak yang berilmu tinggi, aku melihat caranya ketika menaiki tebing tegak lurus di balik bukit dan bagaimana ia berloncatan dari dahan ke dahan, dari batu ke batu yang lain saat menuruni jurang yang berada di utara hutan. Aku melihat semuanya, Ki Malawi. Aku yakin ia adalah mata-mata Mataram yang akan melapor ke pasukan khusus.”

Maka Sayoga pun menyesali perjumpaan itu karena ternyata ia tidak meneliti keadaan sekelilingnya pada saat berpisah dengan ibunya. Namun ia menguatkan hatinya bahwa ilmu Ki Sarjuma mungkin lebih tinggi darinya sehingga ia sama sekali tidak mendengar derap langkah Ki Sarjuma di belakangnya.

“Kau tidak akan dapat keluar dari hutan ini hidup-hidup!” Ki Malawi membentak nyaring dan ia menerjang Sayoga yang masih gagap menghadapi dua orang yang tidak dikenalnya dan ternyata bagian dari pengikut Raden Atmandaru. Namun ia cepat menyadari ketika kaki Ki Malawi berjarak sejengkal dari dadanya. Sayoga meloncat dua langkah surut.

“Supaya pekerjaan tambahan ini segera tuntas lebih cepat, aku akan membantumu Ki Malawi,” Ki Sarjuma kemudian memburu Sayoga dengan kaki tangan yang menebas bergantian.

 

 

 

Baca kelanjutan kisah di http://tansaheling.com/2019/03/19/kkg-jatinom-obong-1/

Tinggalkan Balasan