KCG – Pertempuran di Rawa-rawa Ujung Galuh 15

“Ini adalah urusanku, Ki Cendhala Geni. Kematian yang menimpaku akan datang kapan saja dan itu tak perlu menunggu hari ini saat engkau akan merasakan perihnya ujung kainku. Sebaiknyalah engkau meminta maaf kepadaku karena kecurangan yang pernah kau lakukan padaku,” Bondan menggeram dan tangannya tergetar hebat ketika mengucapkan kata-kata itu.

“Engkau bermimpi telah duduk di puncak  langit, anak muda. Siapakah namamu? Aku perlu untuk mengetahui namamu agar aku dapat berkata kepada setiap orang bahwa telah mati seorang anak muda yang telah duduk di ujung langit.”

“Ki Cendhala Geni, engkau terkenal dengan gelar Banaspati Gunung Kidul. Maka aku katakan padamu adalah lebih baik engkau mengukir namamu di ujung kain ini. Agar aku selalu teringat bahwa Ki Cendhala Geni adalah orang tua yang senang merengek seperti anak kecil!”

Merah padam muka Ki Cendhala Geni. Matanya menyala merah dan giginya gemeratak menahan gejolak dirinya yang dihina oleh Bondan.

“Bersiaplah untuk mati!”

Bondan tidak menjawab dan dirinya mempersiapkan diri menghadapi gelombang serangan lawan yang kini akan datang menerjang dirinya.

Sebelum datang menyelamatkan Ubandhana, pertarungan antara Ki Cendhala Geni dan Ken Banawa berlangsung cukup hebat. Kedua senjata mereka saling menggulung. Akan tetapi pada suatu ketika Ki Cendhala Geni memindahkan tangannya dengan menggenggam bagian tengah tangkai kapak, tiba-tiba kapaknya berputar-putar lebih cepat. Gulungan pedang Ken Banawa menjadi semakin sempit seakan tertelan gelombang serangan kapak Ki Cendhala Geni.

Ken Banawa bersusah payah mengimbangi dari mengubah tata gerak hingga meningkatkan tenaganya tapi ternyata tidak cukup memadai membendung datangnya aliran serangan lawannya. Di tengah putaran kapak yang semakin ketat membelit pedang Ken Banawa, uluran tangan terkepal Ki Cendhala Geni menyusup menjangkau dada Ken Banawa.

Tubuh Ken Banawa terpental jauh ke belakang. Ki Cendhala Geni yang akan mengejar lawannya sekilas mengerling ke arah Ubandhana. Berkelebat Ki Cendhala Geni melayang cepat dan kakinya datang menjejak ke arah Bondan. Tendangan beruntun telah dilepaskan dan Bondan sudah mendapatkan gebrakan dahsyat di awal pertarungan. Kedua telapak kaki Ki Cendhala Geni seolah berjumlah puluhan telah menggempur dada Bondan.

Gandrik! Sipat keketan! Anak ini benar-benar gila!” Ki Cendhala Geni mengumpat dalam hatinya ketika dia melihat Bondan justru menyongsong kakinya yang terjulur.

Sentuhan keras terjadi dan Bondan terdorong ke belakang namun tetap mampu menjaga keseimbangan. Ki Cendhala Geni terkejut melihat betapa Bondan justru membiarkan dirinya hanyut ke belakang karena tendangan beruntun laksana puluhan kilat yang menyambar sebatang pohon malah disambut Bondan dengan melakukan banyak tangkisan untuk membelokkan arah tendangan Ki Cendhala Geni.

Merasa bahwa usahanya akan berakhir sia-sia, Ki Cendhala Geni sontak berjungkir balik melesat di atas kepala Bondan sambil mengayunkan kapaknya yang tajam pada kedua sisinya. Nyaris saja tubuh Bondan terbelah menjadi dua jika dia tidak segera menghindarkan diri dengan berguling ke samping. Bersamaan dengan itu, Bondan melecutkan ikat kepalanya ke lambung Ki Cendhala Geni. Namun Ki Cendhala Geni lekas menutup lambungnya dengan menarik lututnya.

“Anak gila!” desis Ki Cendhala Geni ketika menerima lecutan ikat kepala itu dengan lututnya. Agak sedikit terasa berdenyu di lututnya ketika tersentuh ujung ikat kepala Bondan.

Sepeninggal orang bertubuh besar itu, Ken Banawa duduk mengatur pemulihan bagi tubuhnya yang sedikit terguncang karena hantaman keras lawannya.

Di bagian lainnya, saat dirinya tertolong kapak Ki Cendhala Geni ternyata Ubandhana mampu memanfaatkan kedudukan Ken Banawa yang sedang memulihkan dirinya. Ubandhana menggulingkan tubuhnya untuk menyambar tombak pendeknya dan segera melesat cepat menerjang Ken Banawa. Sejenak kemudian tombak pendek Ubandhana berputar sangat cepat dan terlihat bayangan putih seakan-akan menjadi selubung bagi tubuhnya. Tombak itu bergulung-gulung serta mengeluarkan dengung suara seperti ombak yang dahsyat menghempas karang.

Pada saat itu  Ken Banawa telah selesai menuntaskan pemulihan. Ken Banawa sempat terkesiap dengan serangan maut Ubandhana dan untuk beberapa lama dirinya terkurung dalam  badai tombak dari Ubandhana. Akan tetapi seorang Ken Banawa adalah perwira yang telah menghadapi pertarungan beratus-ratus kali dalam hidupnya. Baik pertarungan orang per orang maupun dalam peperangan. Pengalaman inilah yang menjadikan dirinya sangat tenang dan secara perlahan dapat memperbaiki keadaannya.

Ubandhana dan Ken Banawa segera terlibat dalam pertempuran yang dahsyat. Nampaklah kelincahan Ken Banawa tidak berkurang karena usia yang lanjut dan Ubandhana pun nampak perkasa karena seperti tenaganya mampu mengimbangi kelincahan Ken Banawa.

Di lingkaran pertempuran yang lain, semakin lama semakin nyata terlihat bahwa para pengawal Laksa Jaya berhasil didesak para prajurit Majapahit. Bahkan laskar Laksa Jaya semakin bergeser menjauhi Arum Sari dan makin mendekati garis pantai.

Tinggalkan Balasan