KKG – Agung Sedayu Terpedaya 3

“Tetapi, Ki Rangga,“ berkata Ki Lurah Sanggabaya,”Memecah pasukan menjadi sejumlah kelompok kecil mungkin juga tidak akan dapat membuat pertahanan kita semakin kokoh. Mereka tentu sudah mempersiapkan pasukan untuk secara langsung memukul pedukuhan induk.”

Ki Rangga Agung Sedayu menatap lurus Ki Lurah Sanggabaya. Lantas ia berpaling pada perwira yang duduk di sudut ruangan, katanya,”Bagaimana kesiapan pasukan kita?”

“Secara umum pasukan kita dalam keadaan tenang dan akan bersiap secepat perintah Ki Rangga. Dan menurutku, untuk sementara ini kita tidak melakukan kegiatan di luar barak. Selain supaya keadaan tetap tenang, kita dapat menggunakan itu untuk memancing pergerakan lawan,” jawab Ki Lurah Wilayudha.

“Baiklah, aku dapat menerima setiap pendapat semua orang yang hadir di ruangan ini. Selanjutnya aku akan meminta Prastawa untuk melakukan benteng pendam di sejumlah tempat yang baru aku katakan padanya jika kalian menyetujui rencanaku,” kata Agung Sedayu. Kemudian ia membeberkan siasat yang akan ditempuhnya untuk menutup setiap ruang gerak pasukan Ki Garu Wesi.

Demikianlah kemudian Agung Sedayu berkata,”Aku ingin jika memang pertempuran itu harus terjadi, maka yang terjadi adalah pertempuran yang tertutup. Rencana ini membutuhkan segala kelebihan yang kita miliki.”

Para perwira yang mengikuti pertemuan di bilik khusus kemudian mengangguk-angguk. Mereka tidak menyatakan keberatan dengan siasat yang akan digelar pemimpin mereka. Bahkan diam-diam mereka mengakui apabila siasat itu akan dapat mengurangi jumlah korban yang mungkin saja berasal dari rakyat Tanah Perdikan Menoreh.

Maka selanjutnya para perwira pasukan khusus secara mendadak mengadakan latihan-latihan yang dimaksudkan agar dapat mendukung rencana Ki Rangga Agung Sedayu. Para prajurit pun terperanjat dengan keadaan yang dijelaskan terlebih dulu oleh Ki Lurah Sanggabaya. Mereka tidak mengira apabila gelar perang yang mereka kenal selama ini ternyata mempunyai watak yang berlawanan. Sungguh pun mereka mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri, namun mereka telah terbiasa untuk bekerja keras dan selalu berusaha melakukan setiap usaha dengan kemampuan yang terbaik. Hingga akhirnya dalam waktu satu atau dua hari, pasukan khusus di Tanah Menoreh mulai dapat menyesuaikan diri.

Pada siang itu, Agung Sedayu tidak segera pulang ke rumahnya. Ia meluangkan waktu untuk singgah di rumah Ki Gede Menoreh. Ki Gede Menoreh berada di dalam pendapa bersama para bebahu. Agaknya mereka sedang membahas persoalan mengenai tanggul kecil yang rusak karena tanah disekitarnya longsor. Raut muka mereka terlihat sungguh-sungguh setiap kali bertemu dan berbicara tentang kesejahteraan rakyat Tanah Perdikan.

Ki Argapati mendongakkan wajah dan melihat ke arah regol halaman ketika ia mendengar derap kaki kuda mendekati kediamannya. Senyum lebar menghias wajah Ki Gede saat melihat sosok Agung Sedayu memasuki halaman rumahnya.

“Tidak biasanya kau singgah kemari saat siang hari, Ngger,” kata Ki Gede Menoreh setelah Agung Sedayu duduk bergabung bersama bebahu yang lain.

Agung Sedayu mengangguk kemudian katanya,” Rumahku terletak disebelah rumah Ki Gede. Sekar Mirah akan segera menyusul kemari dan kita semua akan makan siang bersama disini.”

“Tetapi istri Ki Rangga telah berada di belakang dan nampaknya sudah siap membawa hidangan kemari,” sahut seorang bebahu,” Rasanya Ki Gede memang tidak pernah lagi berada di rumah sendirian. Setelah aku lihat tadi Sukra keluar dari rumah, kemudian Prastawa, lalu Angger Sekar Mirah dan sekarang Ki Rangga bergantian selalu menemani Ki Gede.”

Mereka yang mendengarnya pun tersenyum melihat keguyuban anak-anak muda di lingkungan mereka. Sekumpulan anak muda yang tiada henti dan lelah memperhatikan keadaan Ki Gede yang telah dianggap sebagai orang tua mereka sendiri.

Sementara itu, di Tanah Perdikan Menoreh, kehidupan memang terasa lebih tenang dan setiap orang merasa bahagia menjalani hari. Semakin hari semakin jarang terdengar kejahatan dan pertengkaran yang biasanya disebabkan oleh pembagian air yang dirasakan tidak merata. Setiap orang Tanah Perdikan mengisi hari dengan pekerjaan yang baik-baik dan penuh semangat. Mereka ingin mengejar bagian-bagian yang mereka anggap tertinggal dari daerah sekitar mereka.

Pembicaran terus berlanjut seusai Sekar Mirah dan dua wanita lainnya membereskan peralatan makan. Hingga kemudian satu per satu bebahu minta diri untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda pada hari itu.

Kemudian,” Sekarang aku mulai berbagi tanggung jawab dengan setiap pemimpin kelompok. Meskipun keputusan akhir ada padaku, tetapi keberadaan mereka dan kalian semua benar-benar meringankan beban yang selama ini aku emban,” kata Ki Gede Menoreh.

Agung Sedayu mengangguk lalu kemudian Sekar Mirah duduk disebelahnya.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam, ia memandang lekat wajah Agung Sedayu seperti menyimpan pertanyaan penting. Lalu,” Para bebahu melaporkan padaku tentang perkemahan orang-orang asing di batas luar Tanah Perdikan. Apakah Angger telah mengetahuinya?”

Agung Sedayu kembali mengangguk. Katanya,” Aku sebenarnya berniat mengatakan itu pada Ki Gede siang ini. Jadi, aku kira aku akan sampaikan segala sesuatu yang mempunyai hubungan dengan perkemahan itu.”

“Silahkan, Ngger,” kata Ki Gede.

Ki Rangga Agung Sedayu kemudian menceriterakan rencananya yang sebelumnya ia bicarakan di barak pasukan khusus. Ki Gede Menoreh pun sedikit terperanjat namun ia mengakui ketajaman nalar Agung Sedayu yang mirip dengan kakaknya yaitu Ki Tumenggung Untara, panglima prajurit Mataram di bagian selatan lereng Merapi.

“Apakah Ki Garu Wesi akan memusatkan pergolakan di Tanah Perdikan sebelum ia mencapai Mataram?” bertanya Ki Gede.

“Tidak, Ki Gede,” jawab Sekar Mirah seraya berpaling pada suaminya.

Agung Sedayu meneruskan ucapan istrinya,” Ki Garu Wesi akan membuat kekacauan di wilayah ini karena ia menginginkan kitab dari Kiai Gringsing.”

“Lalu mengapa mereka membuat perkemahan seolah akan mengobarkan perang di wilayah ini?” tanya Ki Gede pelan.

“Aku belum mengetahui rencana mereka secara pasti,” jawab Agung Sedayu. Kemudian dengan raut muka sedikit bimbang, ia berkata,” Sementara permasalahan ini sebenarnya adalah masalah perguruan Orang Bercambuk dan khususnya mengenai diriku sebagai murid pertama Kiai Gringsing.”

“Lalu apakah kau berpikir untuk tidak melibatkan Mataram? Maksudku, kau tidak membawa pasukan khusus untuk mengusir mereka?” bertanya Ki Gede.

“Itulah permasalahannya, Ki Gede,” Agung Sedayu menarik nafas panjang. Ia merasa tidak semestinya melibatkan orang-orang Tanah Perdikan Menoreh untuk masalah yang ditimbulkan Ki Garu Wesi. Dan ia pun sebenarnya berpikir untuk tidak melibatkan Mataram dalam hal tersebut.

Seolah mengerti apa yang dipikirkan oleh Agung Sedayu, Ki Gede kemudian berkata,” Tidak semestinya kau merasa ragu, Agung Sedayu. Kau telah cukup lama tinggal di Tanah Perdikan. Kau mengenal setiap orang di wilayah ini, kau juga mengetahui setiap jengkal keadaan tanah dan sungai di wilayah ini. Jadi maksudku adalah kau dapat mengerahkan kekuatan yang tersimpan di Tanah Perdikan Menoreh untuk menyelesaikan masalahmu. Orang-orang akan merasa senang dapat membantumu seperti kau telah membantu mereka selama ini.”

Tinggalkan Balasan