KKG – Agung Sedayu Terpedaya 4

Ki Gede berhenti sejenak mengatur nafasnya. Lalu ia meneruskan kemudian,” Dan kau juga tidak perlu merasa telah melangkahi wewenang Mataram. Bagaimanapun kau adalah pemimpin pasukan khusus yang dapat mengambil tindakan penting jika keadaan menjadi berbahaya. Dan menurutku kehadiran orang-orang Ki Garu Wesi akan menjadi sebuah bahaya di kemudian hari.”

“Ki Gede berkata benar, Kakang,” kata Sekar Mirah.

Agung Sedayu merenungkan kata-kata Ki Gede Menoreh. Setelah cukup lama ia berdiam diri, ia berkata lirih,” Aku telah pergi sekali ke tempat mereka berkemah. Dan aku kabarkan keadaan di perkemahan itu pada banyak orang. Lalu mereka percaya pada keteranganku. Tentu saja kepercayaan orang-orang Tanah Perdikan dan para perwira pasukan khusus akan menjadi sia-sia apabila yang terjadi kemudian adalah bahaya datang melanda di wilayah ini.”

Dengan sorot mata sungguh-sungguh, Agung Sedayu berkata,” Untuk mencegah api yang akan menyala kapan saja, Tanah Perdikan harus mulai mengadakan persiapan.”

Sekar Mirah menanggapinya dengan tangan terkepal. Meskipun ia seorang wanita yang berusia hampir paruh baya, Sekar Mirah mempunyai semangat tinggi apabila ia mengetahui keselamatan orang-orang disekitarnya berada dalam bahaya. Ia akan berjuang melindungi mereka seperti seekor singa.

“Kau dapat kumpulkan para pemimpin pengawal kapan saja kau inginkan,”berkata Ki Gede Menoreh yang juga merasakan gelora mulai membara didalam dadanya. Meskipun ia menyadari bahwa usianya tak lagi muda tetapi kemauannya untuk tetap berada di barisan depan saat rakyatnya menghadapi bahaya masih tetap berkobar.

Ki Garu Wesi memasuki malam dengan hati gelisah. Karena bagaimanapun ia akhirnya menyadari kesalahannya dengan mengumbar keinginannya di hadapan Agung Sedayu. Bahkan ia merasa khawatir jika Agung Sedayu dan pasukan khusus Mataram secara tiba-tiba datang menyerang perkemahannya. Meskipun ia telah memerintahkan para pengikutnya untuk meningkatkan kewaspadaan tetapi kelebihan ilmu Agung Sedayu dan pasukan khusus Mataram tetap memberinya bayangan buruk.

Kegelisahan yang dirasakan oleh Ki Garu Wesi akhirnya diketahui oleh Ki Hariman saat ia melintas di dekat kemah Ki Garu Wesi.

“Setiap orang telah mengikuti perintahmu, Ki Garu Wesi. Apabila salah seorang dari mereka dapat mengerti kegelisahanmu, hal itu akan menjadi sesuatu yang sangat buruk bagi upaya kita,” berkata Ki Hariman.

Ki Garu Wesi tidak dapat menyembunyikan sorot mata gelisah dari Ki Hariman semakin resah mendengar kata-kata kawannya. Lalu,” Kita sebenarnya mengerti kemampuan pasukan khusus Mataram. Dan kita juga telah mendengar kemampuan para pengawal Tanah Perdikan.” Ki Garu Wesi mengusap keningnya yang mengembun.

“Ya. Dan apa yang menjadi persoalan sebenarnya?” bertanya Ki Hariman.

“Tidak ada seorang pun diantara kita yang mengerti siasat perang,” jawab Ki Garu Wesi.

“Oh!” desah tertahan keluar dari bibir Ki Hariman. Sejenak ia merenung dan mempelajari ulang keadaan yang mereka hadapi, lalu ia berkata,” Kiai, bukankah kita semua memang bukan prajurit?”

“Ya, benar. Kita bukan prajurit.”

“Jadi kita tidak terikat oleh aturan keprajuritan.” Ki Hariman mengangguk-angguk. Ki Garu Wesi menatapnya lurus, kemudian ia bertanya,” Lalu bagaimana maksudmu?”

Ki Hariman menarik nafas dalam-dalam. Ia membalas tatapan mata Ki Garu Wesi kemudian menjawab,” Kita adalah segerombolan orang bebas. Kita dapat membuat kekacauan pada tempat yang kita inginkan.”

Wajah gelap Ki Garu Wesi yang sedang dirundung kegelisahan seketika berubah menjadi cerah. Ia nampak bersemangat. Kemudian ia memerintahkan seorang pengikutnya untuk memanggil seuruh pemimpin kelompok. Dalam waktu singkat para pemimpin kelompok Ki Garu Wesi telah berkumpul di dalam kemahnya. Beberapa orang tidak mempunyai pendapat saat Ki Garu Wesi selesai menjelaskan rencananya pada mereka. namun diantara mereka masih terdengar saling berbicara satu sama lain untuk menimbang rencana pemimpin mereka. Pada akhir pertemuan mereka telah mencapai kesepakatan.

Pada keesokan harinya, Ki Garu Wesi belum memerintahkan pengikutnya untuk membongkar perkemahan. Ia memberi perintah pada beberapa orang yang menjadi petugas sandi untuk mendatangi Tanah Perdikan Menoreh dan mengamati keadaan yang berkembang. Sementara ia telah mempunyai rencana tersendiri bersama Ki Hariman.

“Kalian harus mengingat bahwa para pengawal Menoreh tidak berpakaian seperti para prajurit. Mereka membaur dalam kegiatan-kegiatan yang berputar dalam kehidupan Tanah Perdikan. Ada beberapa diantara mereka yang menjadi pedagang, petani bahkan pande besi. Kalian tidak perlu memperlihatkan sesuatu yang tidak wajar di hadapan mereka sekalipun kalian sedang berbicara dengan seorang petani tua yang tidak menunjukkan jika ia seorang pengawal Tanah Perdikan,” pesan Ki Garu Wesi. “Kalian harus menyadari jika setiap orang Menoreh adalah pengawal yang terlatih.”

Kemudian para petugas sandi itu menyebar dan memang mereka menjumpai bahwa Tanah Perdikan sama sekali tidak menunjukkan kegiatan yang mencurigakan. Mereka juga tidak menjumpai kegiatan yang menarik perhatian di lingkungan barak pasukan khusus. Bagi mereka, Tanah Perdikan Menoreh benar-benar dalam ketenangan dan akan menjadi mangsa yang mudah dilahap.

“Apakah mereka tidak mempunyai orang yang bertugas khusus untuk mengawasi keberadaan kita?” bertanya seorang petugas sandi pada temannya.

Temannya manggut-manggut. Kemudian ia berkata,”Tidak mungkin. Kita berada dalam jumlah cukup besar dan kemah-kemah bertebaran memenuhi lembah. Mereka tentu melihat kita namun mereka tidak melihat kita sebagai ancaman.”

“Sikap yang sombong,” sahut orang pertama.

Kemudian para petugas sandi telah kembali ke perkemahan mereka dan melaporkan keadaan Tanah Perdikan Menoreh pada Ki Garu Wesi.

Maka menjelang senja berakhir, Ki Garu Wesi memberi perintah seluruh pengikutnya untuk membongkar perkemahan dan bersembunyi di setiap pekarangan dan pategalan yang ada di Tanah Perdikan.

“Kita akan segera meninggalkan tempat ini. Kalian akan bermalam di setiap tempat yang telah aku tentukan. Kalian dapat beristirahat di setiap pategalan atau pekarangan akan menjadi tempat kalian untuk bersembunyi,” kata Ki Garu Wesi di hadapan pemimpin kelompoknya.

“Besok kita akan memperoleh apa yang kita inginkan,” bisik seorang pemimpin kelompok.

Demikianlah, maka para pemimpin kelompok segera memerintahkan pengikutnya untuk bersiap. Sebelum malam berlalu semakin pekat, para pengikut Ki Garu Wesi telah berjalan menuju tempat-tempat yang telah ditentukan Ki Garu Wesi. Tidak ada seorang pun yang menyatakan keberatan karena justru perintah seperti itu yang mereka harapkan. Namun mereka juga merasa ngeri apabila mengingat ketangguhan pasukan khusus dan para pengawal Tanah Perdikan. Akan tetapi karena mereka telah terbuai angan-angan panjang tentang kemakmuran maka mereka dapat mengalihkan rasa ngeri. Harapan mereka semakin membumbung tinggi ketika mendengar berita dari petugas sandi yang telah tersebar diantara mereka bahwa keadaan Tanah Perdikan yang tidak mempunyai kesiagaan pada ancaman bahaya.

Tetapi diluar pengetahuan para pemimpin kelompok, Ki Hariman telah keluar meninggalkan mereka menuju tempat yang telah ia rencanakan bersama Ki Garu Wesi. Ki Hariman akan melakukan pekerjaan yang dapat mencabut nyawanya apabila ia gagal melakukannya. Dalam perjalanannya menembus malam, Ki Hariman mengakui rencana Ki Garu Wesi yang benar-benar mengejutkannya.

“Ia benar-benar licin,” kata Ki Hariman dalam hati.

Tinggalkan Balasan