KKG – Agung Sedayu Terpedaya 5

Di kediaman Ki Gede Menoreh.

Prastawa dan Agung Sedayu terlihat duduk bertiga bersama Ki Gede di beranda belakang rumah Ki Gede. Kemudian,”Bagaimana dengan persiapanmu, Prastawa?”

Prastawa dengan tenang menjawab,”Aku telah kumpulkan para pemimpin kelompok dan menyampaikan pesan-pesan Kakang Agung Sedayu. Dan menurutku, rencana Ki Rangga akan menjadi sebuah kejutan besar.”

Ki Gede berpaling pada Agung Sedayu, lalu,”Apakah kau telah mendapat laporan sebelum kau datang kemari?”

Agung Sedayu menggeleng. Ia menarik nafas panjang lalu katanya,”Sebenarnya ada yang menarik untuk direnungkan, Ki Gede.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Ia menunggu Agung Sedayu melanjutkan penuturan. Prastawa pun terlihat menyimpan pertanyaan dalam sorot matanya.

“Aku memberi perintah pada pasukan khusus untuk bersiaga penuh tanpa perlu memperlihatkan kesiagaan itu sendiri,” kata Agung Sedayu,”Hal yang sama pun aku minta untuk dilakukan oleh para pengawal.”

Prastawa mengangguk.

“Namun mereka tidak menunjukkan pergerakan yang nyata,” kata Agung Sedayu,”Mereka seolah berkumpul tanpa ada tujuan yang berarti. Aku menganggap perbuatan mereka merupakan sesuatu yang baru.”

Ki Gede kemudian mempunyai bayangan tentang apa yang disampaikan Agung Sedayu, namun ia masih membutuhkan pendapat Agung Sedayu.

“Ki Gede,” berkata Agung Sedayu,“Kita belum tahu ketinggian ilmu orang-orang yang akan kita hadapi. Sekalipun Ki Garu Wesi pernah mengeluarkan Gelap Ngampar, tetapi ia lakukan untuk mengecilkan hati Sekar Mirah. Kemudian orang-orang yang berada dibelakangnya pun sepertinya terdiri dari orang-orang yang telah berpengalaman. Tetapi petugas sandi pasukan khusus memberi laporan yang berbeda.”

“Bagaimana laporan mereka, Kakang?” tanya Prastawa.

“Pengikut Ki Garu Wesi tidak melakukan latihan atau persiapan apapun selama dua atau tiga hari terakhir,” dahi Ki Gede berkerut mendengar Agung Sedayu.

“Dan menurut Kakang, benteng pendem adalah siasat terbaik menghadapi mereka?”

“Menunggu mungkin jalan keluar terbaik bagi kita saat ini,” jawab Agung Sedayu.

“Apabila kita menyerang mereka secara mendadak, bukankah itu dapat melumpuhkan mereka dalam sekejap?” kembali Prastawa bertanya.

“Mereka dapat menuntutku, Prastawa. Mereka dapat berkata pada Mataram atau siapapun apabila mereka telah diserang oleh orang-orang Menoreh hanya karena mereka bermalam beberapa hari,” kata Ki Gede. Kemudian Ki Gede meneruskan,”Aku tidak mempunyai landasan untuk menyerang mereka.”

Prastawa tidak dapat menahan kesabarannya, lalu ia berkata,”Mereka telah mendatangi rumah Agung Sedayu dan mengancam akan menyerang Tanah Perdikan. Aku kira itu sudah cukup bagi kita untuk menghukum mereka.”

“Menurutku kata-kata Ki Garu Wesi bukanlah suatu ancaman,” kata Ki Gede Menoreh,”Tetapi bukan berarti kita akan berdiam diri. Kita telah melakukan langkah tepat.”

Prastawa menarik nafas dalam-dalam lalu ia berpaling pada Agung Sedayu. Kata Agung Sedayu,”Kita sebenarnya berada dalam kesiagaan tinggi jika mereka menyerang pada malam ini. Hanya saja aku mempunyai perasaan buruk mengenai siasat mereka. Jadi malam ini aku akan mendekati perkemahan mereka.”

“Aku turut denganmu,” sahut Prastawa.

Agung Sedayu berkata padanya,”Keberadaanmu di tengah para pengawal lebih penting. Mereka tidak akan kehilangan kendali apabila kau bersama mereka.”

Prastawa berpaling pada Ki Gede yang kemudian mengangguk padanya. Lalu kata Prastawa,”Baik. Aku kira pendapatmu ada benarnya.”

Sejenak kemudian, Sukra datang menyusul Agung Sedayu di rumah Ki Gede Menoreh. Tubuhnya semakin tegap dan kokoh. Raut muka Sukra memancarkan semangat  untuk mempertahankan tanah kelahirannya dengan perjuangan terbaik.

“Sukra,” berkata Ki Gede,“Aku menaruh harapan padamu. Kau adalah pemimpin para pengawal di masa depan. Jadi aku minta padamu untuk dapat menjaga diri apabila terjadi perubahan suasana. Kau tidak dapat bertindak melampaui apa yang telah diperintahkan Prastawa dan Agung Sedayu padamu.”

Sukra menganggukkan kepala.

“Aku mengerti kau mendapat tugas khusus pada malam ini. Sekalipun kau anggap mereka adalah ancaman tetapi jangan kau jadikan alasan untuk membenarkan apapun yang menjadi dasar keputusanmu,” Ki Gede berhenti sejenak sambil memandang Sukra yang menundukkan kepala. “Aku mengerti jika kau sering kehilangan kendali lantas kau berbuat dengan keras. Tetapi aku percaya padamu bahwa kau akan selalu mengingat pesan-pesanku,” kata Ki Gede kemudian.

“Aku mengerti, Ki Gede,” Sukra berkata lirih.

“Mungkin akan ada anak buahmu yang lepas kendali. Dan jika itu terjadi maka keadaan yang berkembang kemudian adalah tanggung jawabmu.” Agung Sedayu berkata padanya. Sukra mengerutkan keningnya namun ia tidak mempunyai keberatan mengenai tanggung jawab itu. Sukra hanya merasakan darah didalam tubuhnya mengalir lebih deras dan dada berdegup kencang.

Prastawa berkata kemudian,”Pergilah. Atau mungkin kau akan mengatakan sesuatu.”

“Tidak ada, Kakang,” kata Sukra sambil meminta diri.

Sementara itu, malam semakin lama gelap dan pekat. Angin dingin yang datang dari Merapi menyapu seluruh lembah yang mengitarinya. Hawa dingin terasa hingga ke tulang belulang. Penduduk di pedukuhan-pedukuhan di Menoreh lebih memilih untuk berada di dalam rumah. Gardu-gardu jaga yang tersebar di seluruh Tanah Perdikan tampak lengang. Bahkan di barak pasukan khusus pun seperti tidak terlihat tanda-tanda kehidupan.

Meskipun keadaan malam itu seperti mencekam perasaan, para peronda tetap hilir mudik menyusuri setiap lorong dan mengamati jalan-jalan yang sepi dilalui orang pada malam hari. Sejumlah obor menebar cahaya remang-remang. Bayangan daun dan pohon bergerak-gerak saat obor tertiup angin. Suasana begitu hening dan senyap.

Dalam pada itu, sejumlah orang yang terbagi dalam banyak kelompok telah mengirimkan orang untuk mengawasi mulut-mulut lorong. Mereka juga membuat tanda-tanda khusus pada tempat tertentu sebagai bagian dari usaha yang akan mereka lakukan esok hari. Sebagian kecil dari orang-orang itu menempatkan senjata-senjata jarak jauh seperti anak panah dan pelontar batu yang terbuat dari bambu yang lentur.

Prastawa juga telah mengatur kelompok-kelompok para pengawal dengan rapi dan teliti. Maka kelompok para pengawal akan dapat mengalir pada setiap titik pertempuran dan mereka tidak akan membuang waktu lama untuk mencapai setiap daerah yang diperkirakan akan terjadi benturan.

Sukra tampak berada diantara para peronda yang memeriksa setiap lorong dan jalan. Sukra yang ditugaskan Prastawa untuk melihat persiapan benteng pendem dan beranting yang direncanakan Agung Sedayu. Kelengkapan senjata yang dimiliki Tanah Perdikan Menoreh nyaris mendekati senjata-senjata prajurit Mataram. Maka dengan begitu muncul semacam rasa bangga di dalam dada para pengawal. Mereka yakin dan percaya diri dengan kekuatan yang ada pada mereka. keyakinan dan kepercayaan diri bahwa mereka akan sanggup mempertahankan tanah kelahirannya dari setiap serangan.

Bahkan sering kali Sukra dan kelompoknya berjalan mengitari daerah luar pedukuhan induk. Mereka memilih untuk menempuh jalan yang menuju letak perkemahan Ki Garu Wesi.  Tidak banyak pembicaraan yang terjadi diantara mereka. Agaknya para pengawal Menoreh menyadari jika mereka lebih membutuhkan mata dan pendengaran untuk menangkap adanya gerakan yang tersembunyi.

Sukra dapat merasakan ketegangan yang mengendap dalam dada teman-temannya. Sekali-kali mereka bercanda akan tetapi agaknya mereka terbawa oleh suasana yang mencengkam.

“Mereka telah meninggalkan perkemahan,” berkata salah seorang kawan Sukra.

Mereka kemudian mengedarkan pandangan dan merayap mendekati lembah sempit yang menjadi tempat perkemahan pengikut Ki Garu Wesi.

Sukra saling bertukar pandang dengan teman-temannya. Mereka tidak melihat satu gerakan atau sesuatu yang mencurigakan di sekitar lembah sempit.

“Sukra! Apa yang harus kita lakukan?” bertanya seorang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *