KKG – Agung Sedayu Terpedaya 6

Jantung mereka berdentang semakin cepat memukul tulang dalam dada. Tidak terlihat apapun di hamparan tanah lapang yang berada di lembah selain tumbuh-tumbuhan. Perkemahan dan nyala obor yang pernah mereka lihat sebelumnya telah menghilang dari pandangan.

“Kemana mereka pergi?” bertanya Sukra.

Para pengawal Tanah Perdikan tidak menyadari ada sepasang mata yang berdiri mengawasi mereka dalam jarak yang cukup dekat.

“Apakah mereka telah memasuki pedukuhan?” bertanya seorang pengawal.

“Aku tidak tahu,” jawab Sukra. Kemudian seorang pengawal yang lebih tua bertanya padanya,”Bukankah kau telah bertemu dengan Ki Gede serta Ki Rangga Agung Sedayu?”

Sukra mengangguk. Jawabnya,”Benar. Tetapi mereka berdua sepertinya juga tidak mengetahui kepergian orang-orang ini.” Sambl berdiri menghadap kawan-kawannya, Sukra berkata kemudian,”Aku akan laporkan ini pada Ki Rangga. Dua orang dari kalian pergi menemui Ki Gede. Sementara yang lain segera bergabung dengan kelompok yang dekat dengan perkemahan ini.”

“Bagus, Sukra!” tiba-tiba terdengar orang berkata dari belakang mereka. Anak-anak muda pengawal Tanah Perdikan cepat memutar badan dengan senjata terhunus. Mereka melihat seseorang dalam gelap berjalan menhampiri mereka. Ketika orang itu semakin dekat dan wajahnya mulai dapat dikenali, tiba-tiba serentak anak-anak muda Menoreh berseru,”Ki Rangga!”

Agung Sedayu mengangkat tangannya sambil tersenyum lalu berkata,”Aku berada di tempat ini sesaat sebelum kalian datang. Dan aku mendengar apa yang kalian bicarakan.” Agung Sedayu melangkah maju lantas berkata,”Kalian lakukan apa yang dikatakan Sukra. Sementara Sukra akan menemui Prastawa dan melaporkan ini padanya.”

Anak-anak muda itu mengangguk lalu membubarkan diri menjalankan tugas masing-masing. Agung Sedayu masih berdiri mematung di tempat itu sepeninggal para pengawal Menoreh. Ia bergumam dalam hatinya,”Apa yang menjadi rencana mereka selanjutnya?” Tak lama kemudian ia bergegas memeriksa beberapa tempat bekas perkemahan untuk mencari petunjuk yang mungkin akan diperlukan.

“Orang-orang Menoreh sangat beruntung memiliki pemimpin yang pandai menyusun siasat,” desis Ki Garu Wesi. “Sebenarnya mereka telah bersiap. Mereka menjaga setiap pedukuhan dan wilayah Tanah Perdikan dengan bersembunyi. Kita sangat beruntung mempunyai orang-orang yang berpengalaman dalam tugas sandi. Tempat kita bersembunyi ternyata berada di luar jangkauan mereka. Kita akan dapat melakukan serangan dengan sangat cepat tanpa mereka ketahui asal serangan berawal.”

“Benar, Ki Garu Wesi,” sahut Ki Tunggul Pitu. “Para pimpinan kelompok kita akan lebih cepat memukul dan lari sebelum mereka sadar apa yang terjadi.”

Ki Garu Wesi mengangguk. Ia berkata,”Kita hanya membutuhkan kesabaran yang tinggi.”

“Mereka sedang menunggu kita dengan sabar,” sahut Ki Tunggul Pitu.

Hampir sepanjang malam memang tidak ada pergerakan dari pengikut Ki Garu Wesi. Mereka terbagi dalam kelompok kecil dan tersebar di setiap penjuru Tanah Perdikan. Karena itu pergerakan mereka tidak diketahui oleh para peronda. Kelompok-kelompok ini berjalan diantara pategalan dan sela-sela tanaman yang tumbuh di pekarangan, kadang-kadang mereka berjalan diatas bulak-bulak yang mengering. Kewaspadaan para pengikut Ki Garu Wesi terhadap keadaan sekitar mereka rupanya dapat mengelabui para peronda sehingga akhirnya mereka dapat mencapai tempat-tempat akan digunakan sebagai pijakan untuk esok hari.

Demikianlah para pengikut Ki Garu Wesi telah menyebar dengan kesiagaan dan kekuatan penuh. Namun mereka mempunyai kesabaran yang cukup tinggi sehingga tidak serta merta melakukan serangan sebelum perintah Ki Garu Wesi dijatuhkan. Para pemimpin mereka telah mempertimbangkan kemampuan tempur pengikutnya yang sebenarnya tidak kalah dengan orang-orang yang akan menjadi lawan mereka. Tetapi pemimpin kelompok Ki Garu Wesi menyadari apabila mereka akan mengalami kegagalan karena mereka tidak mempunyai orang yang pandai mengatur gelar perang. Maka akhirnya mereka bersepakat untuk melakukan satu serangan yang benar-benar akan melumpuhkan kekuatan Tanah Perdikan Menoreh sekali gebrakan.

Meskipun perintah untuk menyerang belum mereka dapatkan, mereka telah bersiap dengan senjata yang tergenggam erat. Mereka telah bersiap seandainya pengawal Tanah Menoreh atau pasukan khusus tiba-tiba datang menyergap.

“Apakah yang dapat terjadi bila kita lakukan hal ini selama dua malam?” bertanya Ki Tunggul Pitu.

“Akan terjadi keresahan diantara orang-orang kita. Mereka akan kehilangan pengamatan diri dan akhirnya akan mengundang bahaya yang dapat melibas semua kekuatan serta harapan yang tela lama kita mimpikan,” jawab Ki Garu Wesi.

Ki Tunggul Pitu mengangguk. Katanya,”Kita sebenarnya mempunyai kemampuan dan keberanian yang sama dengan para prajurit dalam pasukan khusus. Kita juga merupakan sekumpulan orang-orang yang mempunyai ketahanan diri yang cukup saat melakukan pekerjaan. Namun apabila keadaan yang demikian ini berlangsung hingga beberapa malam tentu akan mempengaruhi ketahanan, terutama kita telah cukup lama tidak melakukan perbuatan yang menggembirakan.”

Ki Garu Wesi bangkit berdiri, kemudian,”Waktunya telah tiba.” Ia menengadahkan wajah  menatap langit yang mulai ditinggalkan bintang. Ia melihat seolah cahaya bintang semakin redup seiring gelora yang makin membara dalam hati pengikutnya. Ia berdiri tegak kemudian memandangi jalanan berbatu yang akan dilaluinya.

Kata Ki Garu Wesi,”Mereka bukan orang-orang bodoh. Namun mereka tidak mengerti siapa yang sebenarnya mereka hadapi. Tanpa mereka sadari sebenarnya kita akan menusuk dari dalam pada saat mereka mengira kita sedang mengepung mereka.”

Sementara itu dua orang pengawal telah bertemu dengan Ki Gede sambil melaporkan perkembangan terakhir. Ki Gede Menoreh mendengarkan laporan itu sambil berpikir keras mencari jalan keluar.

“Jadi Ki Rangga tidak mengubah siasatnya?” tanya Ki Gede kemudian.

“Kami tidak mendengarnya berkata tentang siasat, Ki Gede. Hanya saja Ki Rangga masih berada di tempat itu pada saat kami menuju rumah Ki Gede,” jawab seorang pengawal.

“Baiklah, kalian boleh bergabung dengan yang lain,”kata Ki Gede. Dua orang itu segera pergi meninggalkan Ki Gede dan bergabung dengan teman-temannya yang berjaga di regol rumah Ki Gede Menoreh.

Ki Gede terlihat berpikir keras. Ia menduga jika Agung Sedayu memang tidak akan mengubah siasatnya karena Agung Sedayu adalah seorang senapati yang menguasai banyak gelar perang. Tetapi ia juga tidak akan mempunyai keberatan apabila Agung Sedayu secara mendadak mengubah siasatnya apabila pergerakan pengikut Ki Garu Wesi mampu memberi tekanan besar pada kekuatan Tanah Perdikan.

“Mengubah siasat secara tiba-tiba tentu membutuhkan waktu yang cukup, sementara para pengawal dan pasukan khusus terpisah dalam jarak yang berjauhan,” gumam Ki Gede. Ki Gede lantas bangkit dan memanggil pemimpin pengawal yang berjaga di regol halaman.

“Apakah tidak ada laporan dari peronda yang mungkin melihat pergerakan kecil yang mencurigakan?” bertanya Ki Gede kemudian.

“Tidak ada, Ki Gede,” jawab pemimpin pengawal.

“Keadaan seperti ini sebenarnya sangat membahayakan. Karena mereka tiba-tiba saja meninggalkan perkemahan, tetapi kalian tidak dapat melihat pergerakan yang merembes memasuki wilayah Tanah Perdikan,” kata Ki Gede.

“Kami menyadari bahaya itu, Ki Gede,” kata pemimpin pengawal. “Maka kemudian kami menunggu apapun perintah yang akan dijatuhkan dan kami akan cepat menyesuaikan diri.”

“Aku senang mendengarnya,” kata Ki Gede. Lantas pemimpin pengawal itu minta diri untuk kembali ke gardu jaganya.

Di rumah Agung Sedayu pada saat itu, Agung Sedayu dengan wajah sungguh-sungguh duduk bertiga bersama Sekar Mirah dan Ki Jagara.

“Mungkin mereka ingin mengacaukan ketahanan jiwa orang-orang Tanah Perdikan, terutama para pengawalnya,” kata Ki Jagaraga. “Kita harus mengakui dengan jujur bahwa siasat mereka untuk tiba-tiba menghilang itu memang berhasil.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya, lalu,”Apa yang menjadi ukuran keberhasilan itu, Kiai?”

“Bukankah kita saat ini masih menebak arah kemana mereka pergi? Sedangkan kita juga belum mengetahui darimana mereka berasal,” jawab Ki Jagaraga. “Dan ternyata mereka memang berhasil membangun kebingungan diantara kita.”

Lalu Sekar Mirah berkata,”Meskipun aku belum dapat menerima penilaian Ki Jagaraga, namun aku dapat mengerti maksud Kiai.”

“Kita harus dapat memancing mereka keluar,” kata Agung Sedayu.

Ki Jagaraga menatap lurus padanya. Lalu,”Apa yang kita lakukan, Ngger? Sementara kita tidak mengetahui keberadaan mereka sekarang.”

“Mereka tentu melihat para peronda melanglang menyusur tiap jengkal wilayah ini, namun mungkin mereka sedang menunggu di suatu tempat,” jawab Agung Sedayu. “Dan maksudku adalah para pengawal dan peronda harus mampu menyamarkan diri sedemikian rupa hingga selah-olah tidak terlihat lagi para peronda dan apapun yang berhubungan dengan para pengawal. Namun demikian, kita tidak boleh kehilangan kewaspadaan.”

“Apakah itu berarti kau menginginkan mereka menyangka bahwa wilayah ini telah siap untuk dijadikan mangsa?” bertanya Ki Jagaraga.

Tinggalkan Balasan