KKG – Agung Sedayu Terpedaya 7

Agung Sedayu mengangguk. Setelah merenung sesaat, ia berkata kemudian,”Mereka telah memperoleh waktu yang cukup pada saat mereka mulai mengamati lingkungan ini. Ada beberapa pertanyaan yang sebenarnya telah terjawab dengan gelar yang telah kita putuskan. Namun aku merasa ada sesuatu yang menahan mereka sehingga mereka tidak segera melakukan penyerangan.”

“Aku kira jika mereka telah menginginkan kitab milik gurumu, mungkin mereka tidak merasa perlu untuk bergerak secara terbuka,” Ki Jagaraga berkata,” kecuali kitab Kiai Gringsing hanya menjadi sebuah alasan untuk tujuan yang lebih besar.”

“Apakah kita hanya akan menunggu perkembangan?” bertanya Sekar Mirah dengan tatap mata bergantian memandang dua orang dihadapannya.

“Seperti yang aku katakan tadi, mereka masih menahan diri. Dan kita juga akan menahan diri untuk tidak melakukan apapun. Mereka sepertinya sedang menunggu Tanah Perdikan Menoreh membuat satu kesalahan kecil atau kita menjadi lengah,” Agung Sedayu menjawabnya dengan sorot mata penuh percaya diri.

Ia menambahkan kemudian,” Yang pasti terjadi saat ini adalah kita belum tahu secara pasti keberadaan mereka. Sementara itu aku ingin menunggu dalam satu dua hari. Besok pagi, seluruh pengawal dan pasukan khusus akan menjelajahi setiap jengkal serta jalur-jalur yang menghubungkan setiap wilayah di Tanah Perdikan.”

Ketegangan merebak dalam ruangan tempat mereka berkumpul. Sekar Mirah mengingat satu kejadian di masa lalu ketika sekumpulan besar orang-orang yang mengaku murid Perguruan Kedungjati menyerang Tanah Perdikan Menoreh. Ia kemudian membandingkan keberadaan tongkat Macan Kepatihan dengan kitab Kiai Gringsing.

“Apakah mungkin ada orang yang ingin mendirikan Perguruan Orang Bercambuk diluar Jati Anom, Kakang?” pertanyaan Sekar Mirah memecah kesunyian yang menyelimuti mereka bertiga.

Sementara itu Ki Jagaraga memandang wajah Agung Sedayu penuh pertanyaan. Namun kemudian ia mendengar Agung Sedayu berkata,”Aku tidak mempunyai pikiran semacam itu.” Ia berpaling pada Ki Jagaraga, katanya,”Justru terdengar aneh saat mereka berkata untuk menuntut balas kematian tiga  murid Kiai yang menjadi bajak laut, tetapi pada saat bersamaan mereka juga menyatakan keinginan terhadap kitab guru.”

Ki Jagaraga menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia telah berdamai dengan masa lalunya yang kelam. Hampir semua muridnya menempuh jalan yang berbeda dengannya. Sekalipun perasaannya tidak terusik dengan kehadiran orang yang mengaku akan membalas dendam kematian tiga muridnya, namun ia tidak dapat menahan diri melihat ancaman yang mengintai orang-orang yang menyayangi dan menghormatinya. Ia sempat kehilangan semangat dalam kehidupan. Ia tidak ingin peduli dengan kehidupan sekitarnya, namun kemudian pertemuannya dengan Kiai Gringsing telah mengembalikan ingatannya tentang tujuan dan maksud hidupnya. Apalagi semenjak ia tinggal bersama keluarga Agung Sedayu di Tanah Perdikan. Dan kemudian gelora jiwanya bangkit secara utuh ketika ia mengangkat Glagah Putih sebagai muridnya.

“Namun aku memandangnya sebagai sesuatu yang baik apabila kita tetap menunggu segala kemungkinan dan perkembangan keadaan. Pada dasarnya aku tidak mengenal mereka, sehingga tidak mungkin segala kejadian ini dapat dihubungkan denganku,” berkata Ki Jagaraga. “Ketenanganku mulai terusik ketika mereka membawa tiga muridku yang telah tewas. Bagaimanapun juga aku merasakan adanya ganjalan dalam hatiku. Karena mungkin saja orang-orang Menoreh akan melihat ini sebagai urusanku sepenuhnya.”

Agung Sedayu dapat memaklumi suasana hati Ki Jagaraga. Lalu ia berkata,” Kiai tidak dapat menghentikan pendapat orang.”

“Aku tidak menampik pendapat yang beredar, Ngger,” Ki Jagaraga menarik nafas panjang. “ Beberapa orang mendatangiku ketika berita tentang kehadiran pengikut Ki Garu Wesi telah banyak didengarkan orang. Pada umumnya mereka tidak melihat tujuan orang-orang asing itu sebagai kesalahanku, tetapi aku mengerti kegelisahan yang membayangi hati mereka.”

Ingatan Ki Jagaraga menerawang menembus setiap batasan ruang dan waktu. Sejenak ia menata perasaannya, kemudian ia meneruskan kata-katanya,” Aku khawatir apabila orang-orang asing itu datang dan sengaja menebar maksud mereka secara terbuka untuk mempengaruhi kejiwaan orang-orang Menoreh. Mungkin mereka bertujuan agar keyakinan orang Menoreh terhadap Ki Gede dapat digoyahkan.”

Sekar Mirah mengerutkan keningnya kemudian ia berkata,”Maafkan aku, Kiai. Tetapi aku kira aku sudah waktunya untuk beristirahat.”

“Tidak mengapa, Ngger. Karena kewajiban yang menantimu esok pagi itu justru lebih besar daripada yang kita bicarakan saat ini,” Ki Jagaraga kemudian mengangguk.

Sepeninggal Sekar Mirah yang telah berbaring di dalam biliknya, Agung Sedayu kemudian berkata,” Mereka ingin memecah kesatuan hati orang-orang Menoreh. Apakah itu maksud Ki Jagaraga?”

“Benar, Ngger,” jawab Ki Jagaraga. Seraut rasa gelisah membayang pada sorot mata Ki Jagaraga. Ia sepertinya menginginkan sudah tidak ada lagi kerusuhan yang mengganggu ketenangan Tanah Perdikan. Ia berkata kemudian,” Mereka seperti menempatkan Ki Gede sebagai orang yang bertanggung jawab dengan mengijinkan aku tinggal di tempat ini. Tentu saja aku tidak dapat membiarkan pendapat itu berkembang lebih jauh, tetapi kemudian mereka tiba-tiba menghilang sebelum Ki Gede mendengarkan pendapat dari orang-orang Menoreh sendiri.”

“Aku juga belum mendengar pendapat semacam itu, Kiai,” kata Agung Sedayu.

“Kau dapat mengajak Sukra berbicara tentang pendapat-pendapat yang seperti menyudutkan Ki Gede,” Ki Jagaraga berkata pelan.

“Sukra? Ada apa dengan anak itu?”

“Ia dan kawan-kawannya cukup tegas mengarahkan setiap omongan yang berat sebelah,” jawab Ki Jagaraga. “Mereka tidak bermaksud membelaku di hadapan orang-orang asing itu, Sukra dan kawan-kawannya hanya berkata seperti yang mereka alami sendiri selama mengenalku.”

“Anak-anak muda itu sudah seperti anak bagi Ki Jagaraga sendiri,” sahut Agung Sedayu.

Setelah Ki Jagaraga menjelaskan secara singkat pembicaraan yang melibatkan dirinya dan beberapa orang ketika berada di sawah, keduanya pun kemudian memasuki bilik masing-masing. Meskipun keduanya tampak memejamkan mata, tetapi benak mereka masih mencari kemungkinan yang masih mungkin untuk berkembang.

Sementara itu di rumah Prastawa, Sukra mendengarkan penjelasan Prastawa sebagai Kepala Pengawal Tanah Perdikan Menoreh,“Kita memang hanya dapat menunggu. Kita tidak dapat bergerak tanpa isyarat yang telah kita tentukan sebelumnya, Sukra.”

“Mungkinkah kita lakukan sesuatu untuk memancing mereka keluar, Kakang?”

“Itu tindakan gegabah. Karena pasukan khusus pun harus mengetahui terlebih dahulu rencana untuk memancing gerakan lawan. Sementara kita akan mengalami kesulitan bila mengubah siasat yang telah disusun sebelaumnya dengan tiba-tiba.”

Kemudian Prastawa menatap lurus Sukra.”Apakah kau telah mengatakan apa yang kau alami di sawah bersama Ki Jagaraga?”

“Belum, Kakang.”

Prastawa menghela nafas, ia berkata,”Aku sebenarnya mengkhawatirkan keadaan Paman apabila ia mengetahui apa yang telah dialami Ki Jagaraga bersamamu.” Sambil mengusap keningnya, Prastawa berkata lagi,”Aku membayangkan bagaimana perasaan Paman apabila ia mendapat tuduhan telah melindungi orang yang mereka nyatakan bersalah. Sementara ketiga murid Ki Jagaraga harus menerima kematian di Tanah Perdikan karena ulah mereka sendiri.”

Sukra mengerutkan kening, sesaat kemudian ia bertanya,”Apakah itu berarti orang-orang asing itu mencoba untuk menggerus kepercayaan orang-orang Menoreh pada Ki Gede?”

Prastawa mengangguk. Kemudian terdengar Sukra berdesis dengan tegas,”Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”

Bahwa malam itu kemudian berlalu tanpa ada sesuatu yang terjadi. Saat fajar hampir merekah,  orang-orang Menoreh telah bangun dan dengan sigap mengawali hari mereka dengan semangat baru. Mereka masih belum menampakkan gelagat apabila mereka sebenarnya dalam kewaspadaan tinggi.

Sementara orang-orang Ki Garu Wesi menjadi berdebar dengan rencana yang telah mereka siapkan untuk dijalankan pada permulaan hari. Mereka memperhitungkan bahwa keadaan Tanah Perdikan akan masih tetap seperti hari-hari sebelumnya. Sebagian besar dari mereka kembali melihat bagian dalam rencana dengan teliti. Mereka kembali mengingat bentuk isyarat yang akan diberikan. Jalur-jalur yang akan menjadi tempat pelarian dan sebagainya juga mereka kaji kembali.

Sebagian kecil orang-orang Ki Garu Wesi menampakkan kegelisahan yang memenuhi rongga dadanya. Meskipun demikian, mereka terlihat mampu bersikap sabar dan menunggu perintah dari pemimpin mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *