KKG – Agung Sedayu Terpedaya 8

Demikianlah maka Sukra kemudian meninggalkan rumah Prastawa beserta beberapa pengawal lainnya. Ia telah menerima perintah Prastawa untuk mengamati setiap lorong yang mempunyai kemungkinan terbesar akan dilalui oleh pengikut Ki Garu Wesi. Dan seperti pesan Prastawa sebelumnya, Sukra harus mampu membuat perhitungan apabila ia menemui suasana yang berbeda dengan perkiraan mereka. Ia harus mampu menunjukkan kekuatan baru yang dimiliki oleh Menoreh.

Maka ketika pasar mulai dipadati oleh banyak orang, ketika jalanan mulai mengepulkan debu maka Ki Garu Wesi memerintahkan sejumlah orang untuk mendekati pusat-pusat pedukuhan. Sekejap kemudian orang-orang Ki Garu Wesi merayap dan menyebar memasuki induk-induk pedukuhan.

“Mereka masih belum terlihat telah bersiap,” kata Ki Tunggul Pitu. “Mereka akan membayar mahal atas kelengahan yang mereka timbulkan.”

Ki Garu Wesi menganggukkan kepalanya. Ia berkata,”Aku akan berada tepat di jalur yang menghubungkan rumah Agung Sedayu dan barak pasukan khusus.”

“Apakah kau telah bersiap apabila kemungkinan yang lain dapat terjadi?” bertanya Ki Tunggul Pitu.

Kembali Ki Garu Wesi menjawab dengan anggukkan kepala. Kemudian katanya,”Yang pastiaku akan menghindari perang tanding dengannya.“

“Perang tanding itu tidak perlu dilakukan,” Ki Tunggul Pitu menyahutinya. “Kita akan membuang waktu yang sangat banyak apabila Kiai meladeni Agung Sedayu. Jadi aku kira Agung Sedayu akan berusaha keras mengikatmu dalam perkelahian jika memang kalian akhirnya harus berjumpa.”

“Aku kira memang akan seperti itu seperti yang telah berlalu,” kata Ki Garu Wesi. “Setiap pemimpin akan terlebih dahulu dikalahkan untuk menjatuhkan kejiwaan para pengikutnya. Tetapi kelompok kita akan membuat perbedaan.”

Kemudian mereka mendapat laporan bahwa di garis depan telah bersiap orang-orang Ki Garu Wesi akan menjadi pemukul. Orang-orang yang menjadi penghubung Ki Garu Wesi melaorkan jika orang-orang mereka telah berada dalam jarak yang terukur. Maka dengan begitu mereka akan dapat mengalirkan rencana agar dapat berjalan sesuai harapan. Dan pada laporan yang lain, kedua orang ini menerima berita apabila orang Menoreh masih belum terlihat melakukan kegiatan apapun.

Pada waktu bayangan telah memanjang, orang-orang Menoreh belum menyadari bahaya besar yang telah siap meledak di hadapan mereka. Para pengawal pun sebenarnya masih dalam keadaan siaga, sementara Sukra dan kelompoknya masih menjelajahi tiap lorong-lorong jalanan di Tanah Perdikan namun mereka belum menemukan sesuatu yang dapat dicurigai.

Untuk kemudian Sukra telah kembali ke induk pedukuhan. Wajah mereka terlihat tegang dan terbayang sorot mata kelelahan. Tetapi gejolak jiwa mereka masih tampak menyala dan menggelora dalam dada.

Sejenak kemudian mereka terkejut ketika terdengar kentongan dipukul dengan nada titir. Seorang lelaki tergesa menghampir kelompok Sukra, dengan tersengal-sengal ia berkata,” Sukra! Kami melihat kepulan asap tebal di utara pedukuhan!”

Dahi Sukra berkerut, lalu,” Apakah itu berarti kebakaran?”

Orang itu mengangguk. “Aku tidak meragukannya.”

Para pengawal itu saling bertukar pandang. Agaknya sesuatu yang besar telah terjadi di pedukuhan induk.

“Dari arah mana kau melihat kepulan asap itu?” Sukra bertanya.

“Arah menuju pasar,” jawab orang itu,” atau mungkin pasar itu sendiri yang terbakar.”

Sukra memalingkan wajahnya ke arah pasar. Terlihat olehnya kemudian asap tebal dan hitam membumbung tinggi. Tak lama kemudian mereka mendengar nada titir bersahut-sahutan memenuhi udara Tanah Perdikan Menoreh.

“Agaknya mereka sengaja membakar pasar-pasar di setiap pedukuhan!” geram Sukra.

Agaknya pengikut Ki Garu Wesi membuat kekacauan dengan membakar sejumlah tempat yang ramai dikunjungi orang seperti pasar dan banjar-banjar pedukuhan. Mereka membakar beberapa tempat di seluruh pedukuhan yang tersebar di Tanah Perdikan Menoreh.

“Benar-benar gila!” Sukra meminta kawan-kawannya untuk segera menyebar dan memberitahu sejumlah orang-orang penting Tanah Perdikan.

“Sekarang saatnya menunjukkan siapa sebenarnya anak-anak muda Menoreh!” kata Sukra. “Laporkan segera pada Ki Gede dan Ki Rangga. Kau segera ke rumah Kakang Prastawa. Sementara aku sendiri akan membantu mengendalikan keadaan di pasar.”

Ketangkasan anak-anak muda Tanah Perdikan memang luar biasa. Mereka sangat cekatan melakukan banyak pekerjaan dan berbagi tugas. Akan tetapi kekacauan itu semakin tidak terkendali. Kerusuhan-kerusuhan mulai menjalari tiap pedukuhan. Bahkan telah terjadi penjarahan rumah saudagar kaya di sebuah pedukuhan yang terletak di sebelah barat pedukuhan induk.

Tanah Perdikan Menoreh segera dirundung muram dalam waktu sekejap. Cahaya matahari tidak lagi dapat dinikmati pada pagi hari. Bara api yang dibawa oleh Ki Garu Wesi dan pengikutnya menjalar sangat cepat. Raut wajah gelisah, marah, bahkan putus asa telah membayang wajah-wajah orang Menoreh. Namun ketika mereka melihat anak-anak muda mereka bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil, maka mereka seolah melihat terang dalam kegelapan. Harapan mereka kembali menyala.

Para pengawal Menoreh bahu membahu memadamkan api yang membakar setiap pasar dan banjar. Mereka berbagi tugas dengan yang lain untuk menjaga keamanan dari penjarahan. Maka kemudian pertempuran-pertempuran kecil kemudian terjadi di halaman rumah para orang-orang terpandang.

“Apakah aku tidak salah melihat asap tebal itu?” bertanya Ki Gede.

“Tidak, Ki Gede,” jawab seorang pengawal dari kelompok Sukra. “Kebakaran telah melanda pedukuhan induk. Dan kami juga telah bertemu pengawal dari pedukuhan lain yang mengatakan keadaan yang sama.”

Sorot mata Ki Gede berkilat marah.

“Biadab!” desis Ki Gede lalu ia diam sejenak untuk melihat ke bagian dalam dirinya. Ia tidak ingin terpengaruh keadaan genting dan sangat gawat itu. Ki Gede adalah pemimpin tertinggi Tanah Perdikan Menoreh maka ia harus mampu mengendalikan segala sesuatunya dengan kepala dingin. Namun ia teringat peristiwa yang pernah menimpa Tanah Perdikan karena ulah Ki Tambak Wedi. Dadanya berdentang kencang. Sesaat ia kehilangan kendali diri.

“Aku harus melihat apa yang telah terjadi,” berkata Ki Gede lalu bangkit berdiri dan melangkah masuk biliknya untuk mengambil tombak pendeknya. Namun kemudian seorang pengawal berdiri tegak di tengah pendapa.

“Ki Gede tidak boleh meninggalkan tempat ini,” kata seorang pengawal. “Aku mohon Ki Gede tetap berada di tempat ini. Karena semua pengawal akan mengirim laporan kemari.”

Ki Gede memandang tajam pada pengawal yang seusia dengan Sukra itu. Sikap tegas pengawal itu seperti meyadarkan Ki Gede. Ia menarik nafas dalam-dalam dengan mata terpejam. Kemudian,”Satu dari kalian harus mengabarkan ini kepada Agung Sedayu,” perintah Ki Gede.

“Ki Rangga pasti telah mengetahui kejadian pagi ini,” sahut seorang pengawal,”Sukra telah memerintahkan seorang dari kami untuk melaporkan pada Ki Rangga.”

“Kalau begitu, kalian harus segera meronda dan bantu orang-orang untuk mengendalikan keamanan. Kalian harus dapat memberi kesan aman pada orang-orang. Pengikut Ki Garu Wesi akan melakukan serangan dalam kekacauan ini. Kebakaran itu sengaja mereka lakukan untuk mengalihkan perhatian kita semua. Bila bertemu dengan pengawal lain, katakan pada mereka untuk segera mengatur pengungsian,” perintah Ki Gede kemudian.

Sejenak kemudian hanya sejumlah pengawal yang tinggal di rumah Ki Gede. Mereka akan menjadi mata dan telinga bagi Ki Gede yang semakin berkurang kemampuan jasmaniahnya untuk bergerak cepat memantau keadaan. Dalam waktu itu para pengawal yang lain telah melaksanakan perintah Ki Gede

Tinggalkan Balasan