KCG – Pertempuran di Rawa-rawa Ujung Galuh 16

Sedikit demi sedikit, satu demi satu anak buah Laksa Jaya mengalami luka-luka dan tak jarang terdengar pekik kesakitan. Jeritan pengiring Laksa Jaya seolah memberitahu Patraman yang sedang bertarung dahsyat dengan Gumilang Prakoso. Patraman yang mengetahui bahwa beberapa diantara laskar yang dikerahkan Laksa Jaya adalah pengawal setianya maka kini dia serasa tersayat-sayat ulu hatinya ketika mendengar jerit kematian keluar dari kerongkongan anak buahnya itu. Kekecewaan dan kecemasan segera melanda Patraman dan dia ingin segera menghabisi Gumilang Prakoso. Karena itulah maka kemarahannya menjadi semakin memuncak. Gumilang Prakoso harus segera dibinasakan untuk kemudian dia membantu para pengawalnya.

Maka dengan begitu, Ken Banawa atau Bondan dapat segera diakhiri hidupnya. Patraman pun makin mengamuk sangat hebat dan mengerahkan seluruh kemampuan yang dia miliki menyerang Gumilang habis-habisan. Ujung pedangnya semakin lama semakin dekat dari tubuh Gumilang. Namun Gumilang tetap mampu menjaga keseimbangan dirinya sekalipun lawannya telah berubah lebih garang dalam menyerang.

Gumilang merasa tidak dapat selamanya bertahan, dia harus memutuskan segala sesuatu dengan cermat. Seketika pedangnya terayun dengan derasnya, memotong sinar putih yang bergulung-gulung disekitarnya. Patraman menyadari bahwa Gumilang mulai mencoba keluar dari tekanannya dan Patraman mengayunkan pedangnya untuk menghantam pedang yang mencoba melawannya. Maka terjadilah sebuah benturan yang sengit. Kedua orang itu terpental mundur dan sekejap kemudian mereka telah bergumul lagi dalam gulungan-gulungan pedang yang bergerak cepat dan penuh tenaga.

Terasa oleh Patraman betapa tangannya kini terasa bergetar dan dia tidak mengira bahwa kekuatan Gumilang menjadi luar biasa dan mungkin beberapa tingkat berada diatasnya.

Bersamaan dengan meningkatnya pertarungan Gumilang dengan Patraman, pengalaman dan ketenangan Ken Banawa sanggup mengatasi tekanan Ubandhana. Dan perlahan kini Ken Banawa mampu menguasai lawannya. Ubandhana kini menyadari bahwa secara perlahan dirinya menghadapi benteng karang yang semakin kokoh.

“Tua bangka! Haruslah engkau menyingkir dari hadapanku. Tak lama lagi akan aku benamkan wajah tua itu ke dalam lumpur rawa-rawa!” Ubandhana menyeringai bengis sambil menambah tekanan pada Ken Banawa.

Memerah wajah Ken Banawa namun dirinya masih mampu menguasai keseimbangan dirinya.

Pertempuran kedua kelompok yang terpisah menjadi beberapa lingkaran kecil ini seperti tak kunjung usai.

Ken Banawa dan Gumilang telah menyadari bahwa secepatnya pertempuran kecil ini harus diakhiri. Mereka tidak berharap pada Bondan agar lekas mengakhiri pertarungannya dengan Ki Cendhala Geni. Karena kedua orang ini tahu betul watak Bondan. Melihat Ken Banawa menganggukkan kepala, Gumilang paham apa yang harus dia lakukan. Sekejap kemudian dirinya memberi tekanan dahsyat pada Patraman.

Selain pedangnya yang bergulung-gulung dengan sinar yang menyilaukan mata, belati pendek Gumilang telah memberi satu dua sentuhan pada kulit Patraman. Beberapa saat setelah itu Patraman mulai merasakan pedih dan hangat menjalari kulitnya. Serangan Gumilang makin bergelombang mendatanginya tiada henti susul menyusul.

Gelombang serangan pedang Gumilang memang mampu dia hindarkan dan menolaknya, namun belati pendek Gumilang tiada henti menyengat tubuhnya. Darah perlahan mulai membasahi banyak bagian di tubuhnya, semakin lama Patraman semakin merasa lemah. Patraman pun melenting menjauhi Gumilang.

Namun dia bertekad tidak akan rela ditangkap hidup-hidup serta dihukum gantung di alun-alun kotaraja.

Gumilang menatap lekat wajah Patraman dan kini dia melihat satu wajah yang sangat bengis. Gumilang merasakan getar kemarahan dari Patraman dan dia sadar sepenuhnya bahwa Patraman akan mengerahkan seluruh sisa-sisa tenaga akan dikerahkan untuk membinasakan dirinya.

“Patraman, menyerahlah! Ada penyelesaian untuk mengakhiri masalah ini selain sebuah kematian,” desis Gumilang.

“Persetan! Hidup sebagai orang yang dikurung adalah kehinaan abadi. Aku sudah bersiap untuk mati bersamamu, Gumilang!” geram Patraman. Gumilang meremang mendengar kalimat terakhir Patraman yang seolah-olah Patraman telah berubah wujud menjadi dewa maut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *